- Antara
Indonesia Didorong Ambil Peran Ekonomi Strategis Jelang KTT APEC 2026
Jakarta, tvOnenews.com - Indonesia dinilai harus mampu mengambil peran strategis dalam membangun arah ekonomi di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.
Gagasan ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema 'APEC 2026 Shenzhen & Masa Depan Indonesia–Tiongkok: Menavigasi Peluang di Tengah Ketidakpastian Global' yang diselenggarakan Sino-Nusantara Institute bersama The Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC).
Forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi bisnis, dan pemangku kepentingan tersebut membahas peluang strategis hubungan Indonesia–Tiongkok menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Shenzhen, Tiongkok, pada 18–19 November 2026.
Direktur Sino-Nusantara Institute, Ahmad Syaifuddin Zuhri mengatakan, dalam kegiatan itu terdapat gagasan yang mengemuka yakni pendekatan co-creatio.
Menurutnya gagasan itu berupaya mendorong Indonesia tidak sekadar menjadi penerima investasi tetapi turut terlibat dalam penciptaan inovasi dan nilai tambah ekonomi.
"Pentingnya transfer pengetahuan dan teknologi dalam kemitraan Indonesia–Tiongkok. Gagasan tersebut juga diperkuat melalui penjajakan kolaborasi antara sejumlah perguruan tinggi di Semarang dan industri Tiongkok untuk mengembangkan pusat pelatihan tenaga kerja (training center), termasuk skema pelatihan selama tiga hingga enam bulan," kata Zuhri, Jakarta, dikutip Minggu (8/11).
Zuhri memaparkan kegiatan FGD ini melibatkan 30 peserta dari akademisi perguruan tinggi hingga Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) Jawa Tengah, dan Perserikatan Organisasi Indonesia Tionghoa (Porinti).
Tak hanya itu, forum ini juga dihadiri perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah serta Dinas Perdagangan Kota Semarang.
Zuhri menekankan berbagai masukan yang dihimpun diharapkan dapat dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan sebagai bahan pertimbangan bagi Pemerintah Indonesia dalam menghadapi APEC 2026.
"Melalui inisiatif ini, Sino-Nusantara Institute bersama IFSRC mendorong Indonesia agar tidak sekadar hadir dalam percaturan ekonomi Asia-Pasifik, tetapi mampu membawa gagasan, memperjuangkan kepentingan nasional, dan mengambil peran dalam menentukan arah kerja sama kawasan," jelasnya.
Sementara itu, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Saiful Hakam turut membahas posisi tawar Indonesia dan potensi industri nikel serta kendaraan listrik. (raa/dpi)