- Ilustrated by ChatGPT
Bisakah ChatGPT Jadi Teman Curhat? Setelah Saya Tes, Begini Hasilnya
tvOnenews.com — Ketika masalah lagi menumpuk di kepala, tidak semua orang langsung mencari teman untuk bercerita. Sebagian justru memilih membuka ChatGPT dan mulai mengetik apa yang ada di pikirannya.
Alasannya sederhana. ChatGPT bisa diakses kapan saja, tidak perlu menunggu balasan, dan pengguna dapat bercerita tanpa takut dipotong pembicaraan.
Tapi pertanyaannya, bisakah ChatGPT benar-benar menjadi teman curhat?
Saya mencoba menggunakannya untuk beberapa situasi, mulai dari rasa kecewa, kebingungan menghadapi masalah, hingga sekadar ingin didengarkan.
ChatGPT Ternyata Bisa Diajak Curhat
- Antara
Dalam percobaan tersebut, ChatGPT tidak selalu langsung memberikan solusi. Ketika mencoba menceritakan masalah, respons awalnya dimulai dengan memahami situasi dan perasaan pengguna.
Setelah itu, ChatGPT balik bertanya untuk mengetahui konteks masalah secara lebih lengkap. Hal ini membuat percakapan terasa begitu natural.
Pengguna juga bisa melanjutkan cerita tanpa khawatir lawan bicara merasa bosan atau mengalihkan pembicaraan ke pengalaman pribadinya.
ChatGPT Bisa Membantu Mengurai Masalah
- Freepik @frimufilms
Kemampuan lain yang cukup terasa adalah ketika ChatGPT digunakan untuk memahami masalah.
Persoalan yang awalnya terasa rumit, ternyata dapat dipecah menjadi beberapa pertanyaan sederhana.
- Apa sebenarnya yang terjadi?
- Bagian mana yang paling membuat kesal atau kecewa?
- Apakah ada asumsi yang belum tentu benar?
- Dan, apa yang sebenarnya bisa dilakukan?
Dari sini, ChatGPT lebih terasa sebagai teman diskusi daripada sekadar tempat curhat.
AI dapat membantu melihat persoalan dari sudut pandang berbeda ketika seseorang sedang kesulitan berpikir secara objektif.
Kekurangan ChatGPT
- pexels.com/Matheus Bertelli
Meski responsnya bisa terasa personal, ChatGPT tetap berbeda dengan teman di dunia nyata.
AI tidak benar-benar mengenal kehidupan pengguna seperti seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi teman.
Seorang sahabat mungkin bisa mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah hanya dari perubahan cara bicara atau ekspresi wajah, sedangkan ChatGPT tidak.
Teknologi tersebut hanya dapat memahami informasi yang diberikan dalam percakapan dan konteks yang tersedia maupun data yang terkumpul setelah interaksi sesaat.
Karena itu, respons ChatGPT tetap perlu dipandang sebagai sudut pandang tambahan, bukan kebenaran mutlak.