- Instagram/@viavallen
Mengenal Tedak Siten, Tradisi Adat Jawa yang Digelar Via Vallen
Jakarta, tvOnenews.com - Pedangdut Via Vallen menggelar upacara adat Tedak Siten untuk putri keduanya, Namy Shafiyyah Azzahra Radia yang akrab disapa Shazza.
Momen tersebut menjadi perhatian publik karena sekaligus kesempatan bagi Via Vallen dan sang suami, Chevra Yolandi, memperkenalkan wajah putri mereka kepada masyarakat.
Pasalnya, publik selama ini hanya mengetahui putri keduanya bernama lengkap Namy Shafiyyah Azzahra Radia. Shazza lahir pada 8 Maret 2026.
"Selamat tedhak siten putri kecilku. Tumbuhlah menjadi perempuan yang kuat, lembut hati, cerdas, mandiri dan berani menggapai semua mimpi - mimpimu. Semoga hidupmu selalu bahagia, setiap langkahmu dijaga dan setiap jalanmu dimudahkan," ucap Via Vallen dikutip tvOnenews.com, Selasa (13/10/2026).
Melalui tradisi turun tanah ini, keluarga Via Vallen turut menjalankan salah satu warisan budaya Jawa yang sarat makna dan doa bagi perjalanan hidup anak.
Mengenal Tedak Siten, Tradisi Turun Tanah Khas Jawa
Tedhak Siten merupakan upacara adat masyarakat Jawa yang menandai momen ketika anak mulai diperkenalkan dengan tanah sebagai bagian dari proses tumbuh kembangnya. Istilah ini berasal dari kata tedhak yang berarti menapakkan kaki dan siti yang bermakna tanah atau bumi.
Menurut Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, tradisi ini umumnya dilaksanakan ketika anak berusia tujuh lapan dalam kalender Jawa, atau sekitar delapan bulan kalender Masehi.
Upacara tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan orang tua agar anak mampu menjalani kehidupan dengan baik, mandiri, dan kuat menghadapi berbagai tantangan.
Rangkaian Prosesi dan Makna Simbolis Tedhak Siten
Dalam pelaksanaannya, Tedhak Siten memiliki sejumlah tahapan yang mengandung filosofi tersendiri.
Salah satunya adalah menginjak jadah atau makanan berbahan ketan dengan tujuh warna. Prosesi ini melambangkan beragam rintangan kehidupan yang diharapkan dapat dilewati anak dengan baik.
Ada pula prosesi menaiki tangga yang terbuat dari tebu sebagai simbol tekad dan harapan agar anak berani menapaki perjalanan hidupnya. Selanjutnya, anak biasanya ditempatkan di dalam kurungan yang berisi beragam benda, seperti buku, mainan, atau perlengkapan lainnya.
Benda yang dipilih anak dalam prosesi tersebut kerap dimaknai secara simbolis sebagai gambaran minat atau harapan terhadap masa depannya. Meski demikian, tahapan dan perlengkapan Tedhak Siten dapat berbeda sesuai kebiasaan keluarga maupun daerah.
Tedak Siten Shazza, Momen Doa dan Pelestarian Budaya
Dalam acara Tedhak Siten Shazza, Via Vallen dan Chevra turut menyampaikan harapan agar putri mereka tumbuh menjadi anak yang bahagia, mandiri, serta mampu meraih cita-citanya. Momen tersebut juga menjadi bagian dari pengenalan tradisi leluhur kepada generasi berikutnya.
Lebih dari sekadar seremoni keluarga, Tedhak Siten menyimpan nilai rasa syukur, kasih sayang, dan doa orang tua untuk masa depan anak.
Tradisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa budaya Jawa tetap dapat diperkenalkan dan dilestarikan di tengah kehidupan modern.
(hap)