- Istimewa
Synchronize Fest 2026: Para Musisi Kompak Suarakan Karhutla, dari Doa hingga Sindiran Keras
Jakarta, tvOnenews.com - Panggung Synchronize Fest 2026 tidak hanya menjadi ruang bagi musisi untuk menghibur penonton, tetapi juga menyampaikan kepedulian terhadap persoalan lingkungan.
Sejumlah musisi memanfaatkan penampilan mereka untuk menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada masyarakat di Kalimantan, Sumatera, dan wilayah lainnya.
Efek Rumah Kaca, The Changcuters, Melly Goeslaw bersama Potret, Polka Wars, The Jansen, hingga Barasuara menyuarakan keprihatinan dengan cara berbeda.
Ada yang mengajak penonton berdoa bagi warga terdampak, menyampaikan keresahan secara langsung, hingga melontarkan kritik melalui lirik dan visual panggung.
- Istimewa
Pesan tersebut mewarnai hari pertama Synchronize Fest 2026 yang berlangsung di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026. Festival yang digelar pada 16-18 Oktober 2026 ini mengusung tema It's Not Just a Festival, It's a Movement!.
Tema tersebut menegaskan bahwa festival musik tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan dan hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menyuarakan persoalan sosial dan lingkungan.
Efek Rumah Kaca Ajak Penonton Doakan Korban Karhutla
Efek Rumah Kaca menjadi salah satu musisi yang menyelipkan pesan kepedulian terhadap korban karhutla di tengah penampilannya. Band yang beranggotakan Cholil Mahmud, Akbar Bagus Sudibyo, Poppie Airil, dan Reza Ryan itu mulai tampil sekitar pukul 15.30 WIB.
Selain membawakan lagu-lagu yang lekat dengan kritik sosial, Efek Rumah Kaca mengajak penonton mendoakan masyarakat yang terdampak kebakaran hutan.
"Kita perlu juga mendoakan yang (terkena) dampak dari pembakaran hutan," ujar vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, di hadapan penonton.
Sebelumnya, band tersebut membuka penampilan dengan lagu "Di Udara" sebagai penghormatan kepada aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib. Sejumlah penonton terlihat mengenakan topeng bergambar Munir dan Marsinah, menghadirkan suasana yang sarat pesan tentang perjuangan HAM dan ingatan publik.
Efek Rumah Kaca kemudian melanjutkan penampilan dengan lagu "Mosi Tidak Percaya", yang memuat kritik terhadap politisi dan pejabat yang dinilai kerap mengingkari janji. Mereka juga membawakan sejumlah lagu lain, termasuk "Putih", "Matilah Kau Mati", "Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa", "Balerina", serta "Cinta Melulu".
The Changcuters Berharap Kebakaran Hutan Segera Berakhir
Pesan solidaritas terhadap masyarakat di luar Pulau Jawa juga disampaikan The Changcuters saat tampil di Dynamic Stage. Di sela-sela penampilan energik mereka, vokalis Tria Ramadhani mengajak penonton mendoakan warga yang terdampak bencana.
Tria awalnya berharap masyarakat yang berada di wilayah terdampak dapat segera pulih dan kembali menjalani aktivitas dengan aman.
"Mari kita doakan saudara-saudara kita yang ada di luar pulau ini. Semoga mereka cepat dipulihkan, teman-teman," kata Tria.
Ia kemudian secara langsung menyinggung kebakaran hutan yang terjadi. Dengan gaya bicara spontan, Tria berharap kebakaran segera berakhir dan tidak lagi menimbulkan dampak bagi masyarakat.
"Semoga kebakaran hutannya cepat berakhir," ujarnya, yang disambut jawaban "Aamiin!" dari penonton.
Tria kembali menyampaikan harapan agar kebakaran hutan segera berhenti. Ia juga melontarkan sindiran kepada pihak yang bertanggung jawab atas pembakaran hutan, yang disambut sorakan penonton.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen ketika panggung musik digunakan untuk menyampaikan keresahan terhadap bencana lingkungan sekaligus menunjukkan solidaritas kepada masyarakat yang terdampak.
Melly Goeslaw dan Polka Wars Ikut Menyuarakan Keprihatinan
Melly Goeslaw, yang tampil bersama Potret, turut menyoroti kondisi lingkungan di Kalimantan dan sekitarnya. Di tengah penampilan yang menghadirkan lagu-lagu bernuansa nostalgia, Melly mengajak penonton mendoakan agar hujan segera turun.
"Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengirimkan hujan secepatnya," ujar Melly.
Harapan tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran terhadap kebakaran hutan dan dampaknya bagi masyarakat. Doa menjadi salah satu bentuk kepedulian yang disampaikan musisi kepada warga yang menghadapi situasi sulit akibat bencana tersebut.
Sementara itu, Polka Wars menyampaikan keresahan melalui pernyataan sang basis, Xandega atau Dega. Band indie rock asal Jakarta itu kembali tampil setelah sempat vakum selama empat tahun.
Dalam penampilannya di Forest Stage, Dega mengingatkan penonton bahwa kondisi lingkungan Indonesia sedang menghadapi persoalan serius.
"Indonesia lagi nggak baik-baik aja, dan forest (hutan) kita juga lagi kayak gitu," kata Dega.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla bukan sekadar isu yang jauh dari kehidupan penonton, melainkan persoalan lingkungan yang berdampak pada masyarakat dan kondisi hutan Indonesia.
The Jansen dan Barasuara Sampaikan Kritik Lewat Panggung
- Istimewa
Berbeda dari musisi yang menyampaikan pesan melalui ucapan dan doa, The Jansen memilih pendekatan musikal. Band punk asal Bogor itu memelesetkan judul sekaligus lirik lagu mereka, "Langit Tak Seharusnya Biru", menjadi "Langit Tak Seharusnya Berasap".
Aksi tersebut diperkuat visual di layar panggung yang menampilkan kabut asap tebal dan kebakaran lahan. Perubahan lirik itu menghadirkan gambaran tentang kondisi langit dan lingkungan yang terdampak karhutla.
Sementara itu, Barasuara menyampaikan kritik melalui visual panggung saat tampil di District Stage. Band yang dipimpin Iga Massardi tersebut menampilkan tulisan berukuran besar: "Terbakar, Dibakar, Kalimantan, Sumatera".
Kalimat itu menyoroti kebakaran yang melanda dua wilayah tersebut sekaligus mengarahkan perhatian pada persoalan pembakaran hutan dan lahan.
Aksi Barasuara menjadi salah satu bentuk penyampaian kritik lingkungan yang paling mencolok dalam pertunjukan hari pertama festival. Pesan tersebut hadir melalui perpaduan musik, visual, dan suasana panggung yang intens.
Beragam cara yang dipilih para musisi memperlihatkan bagaimana Synchronize Fest 2026 menjadi ruang untuk menyampaikan kepedulian terhadap persoalan di luar dunia musik. Dari ajakan berdoa hingga sindiran melalui lirik dan visual, isu karhutla mendapat tempat di hadapan ribuan penonton festival. (muu)