- Freepik
Anak 3 Tahun Belum Lancar Ngomong? Ini Kisah Nyata Ibunda Timothy Anugrah dan Penjelasan Dokter
tvOnenews.com - Ketika seorang anak belum lancar berbicara di usia 3 tahun, banyak orang tua langsung khawatir dan menganggapnya mengalami speech delay.
Namun, kisah nyata dari Sharon, ibunda mendiang Timothy Anugrah Saputra, membuka mata banyak orang tua bahwa penyebabnya bisa sangat sederhana bahkan tak terduga.
Dalam podcast CURHAT BANG Denny Sumargo, Sharon membagikan pengalaman masa kecil putranya yang kini menjadi sorotan publik karena kisah hidupnya yang menyentuh.
Ia mengisahkan bagaimana saat Timothy berusia tiga tahun, kemampuan bicaranya belum berkembang seperti anak-anak lain pada umumnya.
“Waktu dia kecil, papinya sudah cerita. Jadi waktu umur 3 tahun kita lihat seharusnya menurut perkembangan itu ngomongnya dia sudah lebih banyak dari ini, tapi kok masih begini,” jelas ibunda Timothy.
Ia menambahkan, pada masa itu belum banyak istilah atau diagnosis yang populer seperti speech delay. Karena khawatir, Sharon dan suaminya memutuskan untuk memeriksakan kondisi anaknya ke dokter.
“Akhirnya kita bawa untuk periksa. Salah satu yang diperiksa itu, tolong juga periksa pendengarannya. Karena kan mungkin dia tidak mendengar secara cukup sehingga tidak bisa belajar untuk mengutarakan,” tuturnya.
Hasil pemeriksaan ternyata mengejutkan. Bukan karena gangguan saraf atau keterlambatan bicara, melainkan karena penumpukan kotoran telinga yang luar biasa besar.
“Ternyata memang benar ada yang kurang di bagian telinga. Tapi yang konyol, itu karena ada kotoran telinga yang besarnya gede sekali,” ungkap Sharon.
“Mungkin kita masih orang tua baru ya, masih bodoh gitu. Akhirnya bertumpuk besar banget, kayak dupa bentuknya.”
Setelah telinga Timothy dibersihkan oleh tenaga medis, sesuatu yang ajaib terjadi.
“Setelah itu bursting di, jadi tiba-tiba ngomongnya tuh kayak cerewet gitu. Jadi ini mungkin buat orang tua baru ya,” kenangnya sambil tersenyum getir.
Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang tua, terutama yang sering terburu-buru menyimpulkan bahwa anaknya mengalami speech delay tanpa pemeriksaan menyeluruh.
Salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah kondisi pendengaran anak.
Penjelasan Dokter: Jangan Asal Bersihkan Telinga Anak
Menanggapi banyak kasus serupa, dr. Dimple Nagrani, Sp.A dalam kanal YouTube HappyKids Parenting menjelaskan bahwa kotoran telinga bukanlah sesuatu yang berbahaya.
“Ternyata kotoran telinga itu normal banget. Kita butuh pelumas atau kotoran telinga agar telinga tidak kering,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa membersihkan telinga anak, apalagi dengan cotton bud atau pengorek kuping, justru bisa menyebabkan masalah serius.
“Setiap kali kita berusaha membersihkan, yang terjadi adalah kita mendorong kotoran itu semakin dekat ke gendang telinga. Ini bisa menyebabkan impaksi,” terang dr. Dimple.
Impaksi telinga adalah kondisi ketika kotoran telinga menumpuk dan mengeras sehingga menutupi liang telinga.
Akibatnya, pendengaran anak terganggu dan bisa memengaruhi kemampuan bicaranya.
Selain itu, penggunaan cotton bud pada bayi atau anak kecil sangat berisiko karena mereka sering bergerak saat dibersihkan.
“Saat kita membersihkan telinga bayi, dia bisa bergerak atau menangis. Ini bisa menyebabkan gendang telinga terluka atau bahkan pecah,” tambahnya.
Dokter Dimple juga menekankan bahwa kotoran telinga yang tampak kuning dan sedikit berbau adalah hal normal.
“Jadi benar-benar deh, jangan bersihin telinga anak pakai cotton bud. Kalau memang sudah terganggu, segera ke dokter THT,” tegasnya.
Pelajaran untuk Orang Tua
Kisah ibunda Timothy Anugrah mengingatkan bahwa tidak semua anak yang lambat bicara mengalami gangguan perkembangan.
Terkadang, penyebabnya justru sederhana, seperti pendengaran yang terganggu akibat kotoran telinga.
Jadi, sebelum panik dan menilai anak mengalami speech delay, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter anak atau THT terlebih dahulu.
Dengan penanganan tepat, banyak anak bisa kembali berkembang dengan normal seperti pengalaman mendiang Timothy.
Kotoran telinga bukan musuh, tapi pelindung alami. Namun, jika berlebihan dan mengganggu pendengaran, biarkan dokter yang membersihkannya.
Jangan terburu-buru menilai anak mengalami speech delay tanpa memeriksa hal yang paling sederhana yaitu fungsi pendengarannya.
(anf)