news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Hubungan Intim.
Sumber :
  • Pixabay

Setelah Berhubungan Intim Tercium Bau Seperti Pandan, Normal atau Tanda Masalah Kesehatan?

Bau pandan setelah berhubungan intim bisa disebabkan perubahan pH vagina atau infeksi jamur. Jika disertai gatal dan keputihan, segera periksa ke dokter.
Rabu, 14 Januari 2026 - 21:05 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Banyak pasangan mungkin pernah mengalami perubahan aroma setelah berhubungan intim, salah satunya munculnya bau mirip pandan.

Beberapa orang menganggap aroma ini unik dan tidak mengganggu, namun sebagian lain justru merasa khawatir dan bertanya-tanya apakah kondisi tersebut normal atau merupakan tanda adanya masalah kesehatan.

Menurut dr. G. Maria Silvia, aroma sperma memang bisa berbeda pada setiap pria. Namun, sperma yang sehat umumnya memiliki bau yang khas dan tidak menyengat.

Bau sperma yang sehat biasanya menyerupai aroma lembut seperti vanila atau tanaman lavender. Aroma ini terbentuk dari kandungan alami dalam sperma seperti selenium, zinc, asam folat, dan antioksidan,” jelasnya dilansir dari YouTube Dokter24.

Kandungan tersebut berperan penting dalam menjaga kualitas sperma dan meningkatkan peluang kehamilan.

Sebaliknya, sperma yang memiliki aroma tidak sedap, amis, atau menyerupai telur busuk dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan seperti infeksi saluran reproduksi.

“Selain bau amis, warna sperma yang kekuningan atau kemerahan juga bisa menunjukkan adanya darah atau infeksi bakteri. Bila hal ini terjadi, segera periksa ke dokter andrologi,” tambahnya.

Sementara itu, menurut situs Kehamilan Sehat, munculnya bau seperti pandan setelah berhubungan bisa disebabkan oleh beberapa faktor biologis yang terjadi selama proses intim berlangsung.

Selama hubungan seksual, mikroorganisme dari mulut, tangan, atau organ intim dapat berpindah ke vagina, sehingga memengaruhi keseimbangan bakteri alami di area kewanitaan.

Salah satu faktor yang sering menjadi penyebab utama perubahan aroma adalah perubahan tingkat pH di dalam vagina.

Vagina yang sehat memiliki tingkat keasaman (pH) sekitar 3,8 hingga 4,5, sedangkan air mani memiliki pH yang lebih basa, yaitu sekitar 7,2 hingga 8,0.

Ketika pH vagina berubah terlalu basa, bakteri jahat bisa tumbuh lebih cepat, mengganggu flora normal, dan menyebabkan aroma tertentu, termasuk aroma pandan yang tercium lembut namun asing.

Selain itu, aroma pandan setelah berhubungan juga bisa dipicu oleh keberadaan bakteri dalam air mani.

Beberapa pria mungkin memiliki mikroorganisme penyebab bacterial vaginosis (BV) yang tanpa disadari menular ke pasangan saat berhubungan seksual tanpa kondom.

BV adalah infeksi akibat ketidakseimbangan bakteri di vagina dan sering menimbulkan bau khas yang berbeda dari aroma alami wanita.

Untuk mencegah hal ini, disarankan agar pasangan menggunakan kondom saat berhubungan, terutama bila belum yakin dengan kebersihan dan kesehatan organ reproduksi masing-masing.

Penggunaan kondom dapat membantu menjaga pH vagina tetap stabil dan mengurangi risiko infeksi jamur atau bakteri.

Selain faktor pH dan kebersihan, gesekan selama hubungan intim juga bisa memicu perpindahan bakteri dari anus ke vagina, terutama jika tidak menjaga kebersihan dengan benar.

Kondisi ini dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK) yang ditandai dengan nyeri saat buang air kecil, sensasi terbakar, dan perubahan aroma pada area intim.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua aroma pada area kewanitaan menandakan masalah.

Vagina memang memiliki aroma alami yang khas dan ringan, yang bisa berubah tergantung kondisi hormon, makanan, atau tingkat stres.

Jika aroma yang muncul lembut dan tidak menyengat, biasanya hal ini normal.

Namun, bila bau yang tercium setelah berhubungan terasa tajam, amis, atau seperti jamur, serta disertai gejala lain seperti gatal, keputihan berlebihan, rasa perih, atau kering di area vagina, maka kondisi tersebut perlu diwaspadai.

“Bila bau pandan setelah berhubungan diikuti dengan rasa tidak nyaman, kemungkinan besar ada pertumbuhan jamur berlebih atau infeksi yang membutuhkan pengobatan,” jelas dr. Maria Silvia.

Ia menyarankan agar wanita yang mengalami gejala tersebut segera berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.

Umumnya, dokter akan memberikan obat antijamur atau antibiotik sesuai dengan penyebab infeksi. (adk)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:11
16:50
02:22
01:18
07:14
01:15

Viral