- Instagram/aurelie
Psikiater Ungkap Pola Manipulasi dalam Hubungan Toxic di Buku Aurelie Moeremans, Orang Tua Wajib Tahu
3. Fase Resolusi.
Pelaku akan meminta maaf, menangis, atau bahkan berpura-pura menjadi korban agar mendapatkan simpati kembali.
Tindakan ini dikenal dengan istilah gaslighting, yaitu membuat korban percaya bahwa semua kesalahan berasal dari dirinya sendiri.
“Fase ini bisa berupa permintaan maaf, menangis, atau justru membuat korban makin merasa bersalah seakan-akan pelakulah korbannya,” kata dr. Jiemi.
Pola tersebut bisa berulang berkali-kali hingga korban benar-benar kehilangan kemampuan untuk menilai realitas dan merasa tidak bisa hidup tanpa pelaku.
Dalam kondisi seperti ini, dukungan lingkungan sekitar menjadi sangat penting agar korban menyadari bahwa ia masih memiliki kendali atas hidupnya.
dr. Jiemi menegaskan bahwa anak dan remaja lebih rentan mengalami grooming karena pola pikir mereka yang masih polos dan cenderung menilai segala sesuatu secara hitam-putih.
"Anak dengan kepolosannya lebih rentan menilai sesuatu secara rigid, benar salah, hitam putih, dia benar aku salah. Karena itu, orang tua harus mengenalkan konsep-konsep yang lebih luas tentang perilaku sehat dan tidak sehat dalam hubungan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengedukasi anak tentang batasan, kepercayaan diri, dan tanda-tanda awal manipulasi emosional.
Buku Broken Strings, kata dr. Jiemi, bisa menjadi bahan refleksi yang sangat berharga bagi para orang tua.
“Buku ini bagus dibaca oleh orang tua untuk melengkapi kita tentang apa itu grooming,” tutup dr. Jiemi. (adk)