- Freepik/rorozoa
Apa Itu Virus Nipah? Penyakit Mematikan yang Kembali Muncul di India, Ini Faktanya
tvOnenews.com - Kekhawatiran global kembali meningkat setelah India mengonfirmasi dua kasus virus Nipah di negara bagian Benggala Barat per 25 Januari 2026.
Virus langka yang dikenal sangat mematikan ini membuat sejumlah negara di Asia mengambil langkah pencegahan ketat, terutama di bandara internasional.
Negara seperti Thailand, Nepal, dan Vietnam kini memperketat pengawasan terhadap penumpang yang datang dari India.
Hal ini dilakukan karena virus Nipah memiliki kemampuan menular dari hewan ke manusia dan tingkat kematian yang sangat tinggi, mencapai 40% hingga 75%, jauh di atas tingkat fatalitas Covid-19.
Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan India, dua kasus Nipah yang terdeteksi sejak Desember lalu telah berhasil dikendalikan.
Sekitar 200 orang yang memiliki kontak dekat dengan pasien telah menjalani pemeriksaan, dan hingga kini belum ditemukan adanya wabah lanjutan.
Namun, langkah pengawasan tetap diperketat untuk mencegah penyebaran lintas negara.
Asal dan Cara Penularan Virus Nipah
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia.
Hewan yang menjadi sumber utama penularan adalah kelelawar buah (fruit bat) dan babi.
Penularan bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, cairan tubuh, atau konsumsi makanan yang telah terkontaminasi, seperti buah yang digigit kelelawar.
Masa inkubasi virus ini bervariasi, yakni antara 4 hingga 14 hari setelah paparan.
Gejala awalnya meliputi demam tinggi, mual, muntah, dan gangguan pernapasan.
Pada kondisi yang lebih berat, virus Nipah dapat menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak, dengan gejala seperti kejang, disorientasi, dan bahkan koma.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan virus ini sebagai ancaman epidemi tingkat tinggi karena belum ada vaksin atau pengobatan khusus.
Meski penularan antar-manusia tergolong rendah, potensi kematian yang tinggi membuat virus ini diawasi ketat di seluruh dunia.
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 di Malaysia, ketika wabah menyerang peternak babi di wilayah Sungai Nipah.
Saat itu, lebih dari 100 orang meninggal dunia, dan ribuan babi dimusnahkan untuk menghentikan penularan.
Sejak itu, wabah serupa muncul hampir setiap tahun di berbagai negara Asia seperti India, Bangladesh, Filipina, dan Singapura.
Di India sendiri, kasus pertama terdeteksi pada tahun 2001 di Benggala Barat, wilayah yang berbatasan dengan Bangladesh.
Salah satu penyebab utamanya dikaitkan dengan konsumsi getah kurma mentah yang terkontaminasi air liur kelelawar buah.
Tahun 2018, India kembali diguncang oleh wabah di negara bagian Kerala, dengan 17 korban meninggal dunia.
Kemudian pada 2023, dua kasus serupa kembali dilaporkan, memperkuat kekhawatiran akan potensi kebangkitan virus mematikan ini.
Meski belum ada laporan virus Nipah di Indonesia, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada.
Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan makanan dan lingkungan, terutama pada anak-anak yang rentan tertular.
Menurut dr. Piprim, orang tua sebaiknya melarang anak-anak memakan buah yang sudah tergigit kelelawar, karena kemungkinan besar telah terkontaminasi virus.
"Buah yang bekas dimakan kelelawar bisa menularkan virus Nipah jika hewan itu terinfeksi,” ujarnya dalam webinar, Kamis (29/1/2026).
Piprim juga menambahkan, hingga saat ini belum ada vaksin maupun pengobatan spesifik untuk virus Nipah.
Karena itu, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penularan penyakit.
Ia menegaskan, menjaga kebersihan tangan, mengonsumsi makanan matang, dan menghindari kontak dengan hewan liar adalah cara utama untuk melindungi diri. (adk)