- Ilustrasi AI
Stop Makan 2 Bahan Ini Selama Ramadhan, InsyaAllah Badan Jadi Lebih Bugar
tvOnenews.com - Ramadhan sering dimanfaatkan banyak orang untuk memulai gaya hidup yang lebih sehat.
Pola makan yang berubah karena adanya waktu sahur dan berbuka sebenarnya bisa menjadi momentum bagi tubuh untuk melakukan pemulihan alami.
Sayangnya, manfaat puasa kerap tidak terasa maksimal ketika pilihan makanan saat berbuka dan sahur justru didominasi oleh makanan tinggi gula dan lemak.
Menurut penjelasan dr Zaidul Akbar, puasa menyimpan banyak dampak positif bagi kesehatan.
Di antaranya membantu proses detoksifikasi alami tubuh, meningkatkan performa otak, mendukung pembentukan massa otot bila dibarengi aktivitas fisik, serta memperkuat sistem imun.
"Tapi syaratnya, tidak akan berefek kalau makannya ngawur," tegas dr Zaidul Akbar, dilansir dari kanal YouTube SAHABAT Dr.Zaidul Akbar.
- Pexels/ Gül Işık
Dua Asupan yang Disebut sebagai “Biang Kerok”
Dokter Zaidul Akbar menyebut ada dua bahan yang sebaiknya dihindari selama bulan puasa.
Dua bahan yang dimaksud adalah lemak trans dan gula olahan.
"Ada dua biang keroknya, trans fat atau lemak trans dan yang kedua gula olahan," ungkapnya.
Lemak trans kerap ditemukan pada makanan yang digoreng dengan minyak berulang kali, margarin, fast food, hingga aneka camilan kemasan.
Sementara itu, gula olahan banyak bersumber dari gula pasir, minuman manis instan, aneka kue berbahan tepung, serta produk olahan terigu lainnya.
Menurutnya, membatasi dua jenis bahan ini akan membantu tubuh menjalankan proses peremajaan sel secara lebih maksimal selama Ramadhan.
"Itu dua dikurangi selama Ramadhan, dan Anda tahu apa saja produknya yang berhubungan dengan dua itu, tubuh Anda akan regenerate sendiri," ujar dr Zaidul Akbar.
Dengan mengurangi lemak trans dan gula olahan, tubuh memiliki peluang lebih besar untuk membersihkan zat-zat patogen sekaligus memperbaiki keseimbangan mikrobioma, terutama yang berada di saluran cerna.
"Dia akan membersihkan patogen-patogen dan meningkatkan microbiom di tubuh kita yang paling banyak di pencernaan kita," lanjutnya.
Kesehatan pencernaan yang membaik ini turut berpengaruh pada hubungan antara usus dan otak, yang dikenal saling terhubung erat dalam menjaga kondisi fisik maupun mental.
- Pexels/Thirdman
Strategi Mengurangi Gula Olahan Saat Puasa
Bagi yang ingin sensitivitas insulin meningkat selama Ramadhan, dr Zaidul Akbar menekankan pentingnya menekan konsumsi gula dan karbohidrat olahan.
Dalam satu piring makanan, komposisi ideal menurutnya lebih banyak diisi sayuran dan protein, sementara karbohidrat tetap ada namun tidak mendominasi.
Ia juga mengingatkan bahwa ajaran Islam telah mengenalkan pilihan sumber rasa manis yang lebih alami dan menyehatkan.
"Makanya Nabi SAW mengajarkan kita untuk makan gula yang sehat, seperti kurma. Tapi nggak boleh berlebihan juga," ujarnya.
Langkah praktis yang bisa dicoba adalah mulai mengurangi hingga menghentikan penggunaan gula pasir selama Ramadhan.
"Kalau bisa menurut saya stop gula pasir," kata dr Zaidul Akbar.
Sebagai pengganti, rasa manis dapat diperoleh dari madu atau sumber gula alami yang kaya serat.
Bahkan, dr Zaidul Akbar juga menyarankan untuk menghindari makanan berbahan dasar terigu selama bulan puasa karena termasuk dalam kategori gula olahan.
"Di Ramadhan nanti, nggak ada lagi makan produk-produk berbasis terigu. Itu kan gula olahan," tutur dr Zaidul Akbar.
Jika pola ini dijalankan secara konsisten sepanjang bulan Ramadhan, perubahan positif seperti berat badan yang lebih terkontrol, energi yang meningkat, hingga tubuh terasa lebih ringan biasanya mulai dirasakan menjelang akhir bulan. (gwn)