- Gemini AI
Ramai soal Meningkatnya Kasus Campak, Dokter Ingatkan Terkait Bahaya Risiko Komplikasi
tvOnenews.com - Belakangan ini ramai soal maraknya kasus campak di beberapa daerah di Indonesia. Dokter ingatkan soal bahaya komplikasinya.
Bahkan, pada akhir Maret 2026 lalu, dilaporkan seorang dokter internship meninggal dunia lantaran terkena campak.
AMW, seorang dokter meninggal dunia setelah dikonfirmasi mengidap komplikasi campak dengan gangguan jantung dan otak.
Bahaya komplikasi campak
- Freepik
Campak sering kali dianggap sebagai penyakit ringan yang identik dengan anak-anak dan diyakini bisa sembuh dengan sendirinya.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Campak merupakan infeksi virus yang sangat mudah menular dan berisiko menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.
dr. Reinaldo Alexander, SpPD, melalui kanal YouTube pribadinya menjelaskan bahwa meskipun campak umumnya dapat sembuh dalam waktu sekitar dua minggu, penyakit ini tidak boleh dianggap sepele. Ia menekankan bahwa campak bisa memicu berbagai komplikasi yang berbahaya.
“Campak itu bisa menimbulkan komplikasi antara lain diare, radang paru-paru atau pneumonia, bisa juga muncul radang telinga tengah ya, sampai muncul kayak congean gitu. Terus pada beberapa kasus bisa menimbulkan komplikasi yang berat dan mematikan misalnya radang otak atau kita sebut ensekalitis,” jelasnya.
Selain itu, campak juga dikenal sebagai penyakit yang sangat menular karena dapat menyebar melalui udara.
Oleh sebab itu, pasien yang terinfeksi disarankan untuk melakukan isolasi mandiri guna mencegah penularan, terutama kepada anak-anak yang belum mendapatkan vaksin.
dr. Reinaldo juga menegaskan bahwa vaksinasi merupakan langkah pencegahan paling efektif.
Vaksin campak telah menjadi bagian dari program imunisasi pemerintah, yang diberikan pertama kali saat anak berusia 9 bulan dan diulang pada usia 18 bulan.
- Antara
Bagi anak maupun orang dewasa yang belum jelas riwayat vaksinasinya, vaksin MMR (yang melindungi dari campak, gondongan, dan rubella) bisa menjadi pilihan untuk perlindungan tambahan.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per 30 Maret 2026 melaporkan ada penurunan signifikan kasus suspek dan terkonfirmasi campak di Indonesia.
Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes, dr. Andi Saguni, dalam jumpa pers daring di Jakarta, Senin (30/3).