- Gambar ilustrasi AI
5 Bahaya Narkoba bagi Kesehatan Mental yang Sering Diabaikan, WHO Ungkap Dampaknya Bisa Bertahan Seumur Hidup
tvOnenews.com - Narkoba bukan hanya merusak tubuh, tetapi juga dapat mengubah cara seseorang berpikir, merasakan emosi, hingga mengambil keputusan.
Banyak pengguna awalnya menganggap obat terlarang sebagai jalan keluar dari stres, tekanan hidup, atau rasa cemas. Namun, di balik efek sesaat yang terasa menenangkan, narkoba justru dapat memicu gangguan mental yang jauh lebih serius dan berlangsung dalam jangka panjang.
Persoalan ini menjadi perhatian dunia. World Health Organization (WHO) menyebut gangguan penggunaan narkoba (drug use disorders) merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat global karena berkaitan erat dengan meningkatnya risiko depresi, gangguan kecemasan, psikosis, bunuh diri, hingga kematian dini.
Sementara United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) dalam World Drug Report menyebut ratusan juta orang di dunia menggunakan narkoba setiap tahun, tetapi hanya sebagian kecil yang memperoleh pengobatan untuk mengatasi kecanduannya.
Indonesia pun menghadapi tantangan serupa. Berdasarkan Badan Narkotika Nasional (BNN), sekitar2,2 juta remaja Indonesia tercatat sebagai pengguna narkoba.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkotika masih menjadi ancaman serius bagi generasi muda, bukan hanya karena dampaknya terhadap kesehatan fisik, tetapi juga karena kerusakan yang ditimbulkannya terhadap kesehatan mental, hubungan sosial, pendidikan, hingga masa depan penggunanya.
Narkoba Tidak Hanya Merusak Tubuh, tetapi Juga Cara Kerja Otak
Narkoba merupakan singkatan dari narkotika dan obat-obatan atau zat adiktif yang dapat berasal dari tanaman maupun hasil sintetis.
Dalam dunia medis, beberapa jenis narkotika memang digunakan sebagai obat penghilang nyeri atau anestesi. Namun, penggunaan di luar pengawasan tenaga kesehatan dapat menyebabkan ketergantungan dan berbagai komplikasi serius.
Secara biologis, zat adiktif bekerja dengan mengganggu sistem penghargaan (reward system) di otak. Narkoba memicu pelepasan dopamin dalam jumlah tinggi sehingga pengguna merasakan euforia, rasa senang, atau lebih percaya diri.
Akan tetapi, penggunaan berulang membuat otak beradaptasi dan membutuhkan dosis yang semakin besar untuk memperoleh efek yang sama.
Selain memengaruhi kesehatan mental, penyalahgunaan narkoba juga dapat menyebabkan berbagai gangguan fisik, seperti kerusakan otak, penyakit hati akibat infeksi hepatitis B dan C dari penggunaan jarum suntik yang tidak steril, gangguan paru-paru pada pengguna ganja dan kokain, penyakit jantung akibat kokain, heroin maupun amfetamin, menurunnya sistem kekebalan tubuh, hingga terganggunya koordinasi dan keseimbangan tubuh.
Menurut WHO, penggunaan narkoba suntik juga meningkatkan risiko penularan HIV dan hepatitis virus, terutama jika pengguna berbagi jarum suntik.
5 Bahaya Narkoba bagi Kesehatan Mental yang Perlu Diwaspadai
1. Memperparah Gangguan Kecemasan dan Depresi
Banyak orang menggunakan narkoba untuk mengurangi stres atau mengatasi kecemasan. Sayangnya, efek tersebut hanya berlangsung sementara.
Dalam jangka panjang, penggunaan narkoba justru meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, serangan panik, bahkan memperburuk kondisi psikologis yang sudah ada sebelumnya. Penelitian menunjukkan gangguan penggunaan zat memiliki hubungan dua arah dengan gangguan mental, sehingga keduanya sering muncul secara bersamaan (*co-occurring disorders*).
2. Meningkatkan Risiko Psikosis dan Skizofrenia
Beberapa jenis narkoba seperti LSD, metamfetamin, ganja berkadar THC tinggi, dan ekstasi diketahui dapat memicu halusinasi, delusi, hingga kehilangan kontak dengan realitas.
WHO dan berbagai penelitian internasional juga menunjukkan bahwa penggunaan ganja dalam dosis tinggi secara terus-menerus, terutama pada usia remaja, berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan psikotik dan skizofrenia pada individu yang memiliki faktor kerentanan.
Contoh nyata terlihat di beberapa negara maju seperti Kanada, Amerika Serikat, dan Australia, di mana sejumlah penelitian menemukan peningkatan kasus psikosis pada kelompok pengguna ganja berkadar THC tinggi, khususnya usia muda.
3. Menurunkan Daya Ingat dan Kemampuan Berpikir
Penyalahgunaan narkoba dalam jangka panjang dapat merusak sel saraf otak yang berperan dalam proses belajar, mengingat, berkonsentrasi, dan mengambil keputusan.
Pengguna metamfetamin (sabu) maupun ekstasi misalnya, sering mengalami penurunan fungsi kognitif sehingga kemampuan belajar dan produktivitas mereka ikut menurun. Kerusakan tersebut bahkan dapat bertahan setelah seseorang berhenti menggunakan narkoba.
4. Menyebabkan Ketergantungan Emosional dan Perubahan Suasana Hati
Karena terus merangsang pelepasan dopamin, pengguna narkoba akhirnya bergantung pada zat tersebut untuk merasakan bahagia.
Ketika efek narkoba menghilang, pengguna dapat mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem, mulai dari euforia, mudah marah, cemas, hingga depresi berat. Pada kondisi tertentu, gejala putus zat (withdrawal) bahkan memicu perilaku agresif maupun tindakan yang membahayakan diri sendiri.
5. Memicu Perubahan Perilaku hingga Risiko Bunuh Diri
Salah satu dampak paling serius dari penyalahgunaan narkoba adalah perubahan perilaku.
Pengguna dapat menjadi lebih impulsif, sulit mengendalikan emosi, mudah melakukan tindakan kekerasan, hingga kehilangan kemampuan mengambil keputusan secara rasional.
WHO mencatat bahwa gangguan penggunaan zat juga berkaitan dengan meningkatnya risiko bunuh diri. Risiko ini lebih tinggi apabila pengguna juga mengalami depresi, gangguan bipolar, atau gangguan mental lainnya.
Mengapa Remaja Menjadi Kelompok yang Paling Rentan?
Remaja merupakan kelompok usia yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkoba karena otaknya masih berkembang, terutama bagian yang mengatur pengambilan keputusan dan pengendalian emosi.
Menurut UNODC World Drug Report, penggunaan narkoba pada usia muda meningkatkan kemungkinan terjadinya kecanduan ketika dewasa.
Sementara BNN menyebut rasa ingin tahu, pengaruh teman sebaya, tekanan sosial, serta kemudahan memperoleh narkoba menjadi faktor utama yang mendorong remaja mencoba zat adiktif.
Selain itu, penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa media sosial juga ikut berperan dalam memperluas akses terhadap peredaran narkoba melalui aplikasi percakapan maupun platform digital.
Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya melalui penegakan hukum. Edukasi sejak dini, komunikasi yang terbuka di lingkungan keluarga, penguatan kesehatan mental di sekolah, serta akses terhadap layanan konseling menjadi langkah penting untuk melindungi generasi muda dari penyalahgunaan narkoba.
Bagi seseorang yang telah mengalami ketergantungan, bantuan profesional merupakan langkah terbaik. Psikolog, psikiater, dokter, maupun layanan rehabilitasi dapat membantu proses pemulihan secara bertahap.
Semakin cepat seseorang memperoleh penanganan, semakin besar peluang untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan yang sehat serta produktif. (udn)