- tvOneNews
Anggota DPRD TTU Diduga Mabuk saat Intimidasi Dokter Icha, Apa Saja Manfaat hingga Risiko Konsumsi Alkohol?
Jakarta, tvOnenews.com - Kasus kematian dr Eliza Princila Utamia Pakaenoni atau Dokter Icha menggegerkan dunia kesehatan. Dokter muda itu tewas bunuh diri akibat dugaan intimidasi dari dua anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT.
TRIGGER WARNING BUNUH DIRI: Informasi berikut ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak profesional seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Peristiwa intimidasi diduga menimpa Dokter Icha di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefemenanu, Sabtu (13/6/2026). Ia bertugas menangani pasien anak korban gigitan bisa ular.
Situasi semakin panas saat keluarga pasien meminta vaksin tertentu. Namun hal itu belum direkomendasikan yang membuat dua pria mengaku anggota DPRD Kabupaten TTU datang dan langsung protes dengan nada tinggi.
Insiden ini diduga menyebabkan Dokter Icha depresi berat berujung mengakhiri hidupnya. Paman korban, Fabianus Banase mendesak Direktur RS Leona menjadi saksi kunci dan menyerahkan rekaman CCTV sebagai bukti kuat hasil keterangan 23 saksi yang menyebutkan dua anggota DPRD TTU datang diduga dalam kondisi mabuk alkohol.
"Karena apa? Dua anggota DPRD itu sebelum serobot masuk ke IGD, mereka mabuk. Mereka itu kan ada arisan DPRD, memangnya itu perlu minum alkohol?," ujar Fabianus melalui program Pagi-Pagi Seru tvOne, Selasa (30/6/2026).
Fakta mengejutkan terkait dua anggota DPRD TTU diduga dalam kondisi mabuk menarik untuk dibahas. Hal ini bertujuan mengetahui manfaat hingga risiko mengonsumsi alkohol.
Manfaat dan Risiko Konsumsi Alkohol
1. Manfaat Alkohol
Merujuk dari Halodoc, Alodokter, dan berbagai sumber lain, alkohol kerap kali dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan. Hal itu terjadi apabila dikonsumsi secara berlebihan yang menyebabkan kondisi seseorang mabuk.
Di balik itu, sejumlah penelitian menunjukkan adanya potensi dampak positif dari mengonsumsi alkohol, terutama terhadap kesehatan tubuh.
Ketentuan ini asalkan dikonsumsi dalam jumlah yang sangat moderat. Tujuannya untuk mengetahui seberapa batasan krusial dan risikonya berdasarkan saran dari banyak ahli medis.
Di berbagai negara, definisi konsumsi alkohol secara moderat berbeda-beda. Namun pada umumnya, hal ini mengacu terkait batasan asupannya secara harian tertentu.
Untuk wanita, batasannya sering kali hanya satu porsi minuman per hari, sedangkan batasan bagi pria sekisar 1-2 porsi minuman per hari.
Satu porsi minuman standar biasanya setara sekitar 350 ml bir, 150 ml anggur, atau 45 ml minuman beralkohol yang sulingan. Jika melampaui batas ini, tentu hal ini dapat menyebabkan risiko bagi kesehatan.
Adapun potensi dampak positif alkohol dari beberapa stuudi menimbulkan efek tertentu. Pertama, meningkatkan kolestrol baik (HDL) dan kesehatan jantung.
Kedua, konsumsi alkohol sesuai batasan dapat menurunkan risikoo diabetes tipe 2. Hipotesis dari mekanisme ini seperti meningkatkan sensitivitas insulin guna membantu tubuh memakai glukosa semakin efektif.
Ketiga, konsumsi alkohol potensi memberikan perlindungan atau mencegah gangguan kognitif. Kondisi seperti Alzheimer dan Parkinson mempunyai risiko lebih rendah.
Keempat, dampak positif lainnya dapat membantu mengatasi atau mengurangi risiko pembentukan batu empedu. Kelima, manfaat alkohol juga memberikan efek sosial dan psikologis, misalnya dapat memicu relaksasi dan memfasilitasi interaksi sosial.
2. Risiko Konsumsi Alkohol
Selain ada potensi dampak positif, penting mengetahui risiko mengonsumsi alkohol terhadap kesehatan. Biasanya bagian ini berpotensi jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.
Risiko yang sering terjadi dapat merusakan organ, seperti kerusakan hati (sirosis), pankreatitis, serta masalah pencernaan secara serius.
Risiko kedua merusakan otak. Sebab, alkohol merupaka neurotoksin menghancurkan sel-sel otak hingga mengganggu fungsi kognitif dengan jangka panjang.
Risiko ketiga yakni potensi meningkatkan beberapa jenis kanker, seperti kanker payudara, esofagus, hati, serta kolorektal.
Risiko yang sering terjadi yakni mengalami ketergantungan. Hal ini dapat merusak kehidupan secara pribadi, sosial, serta menurunkan tingkat profesional.
(hap)