news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Amenore.
Sumber :
  • magnific

Haid Tak Kunjung Datang Belum Tentu Hamil, Waspada Amenore

Tidak sedikit perempuan yang menganggap amenore dan dismenore merupakan gangguan menstruasi yang sama. Padahal, keduanya memiliki gejala, penyebab, hingga penanganan yang berbeda.
Senin, 20 Juli 2026 - 19:24 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Tidak sedikit perempuan yang menganggap amenore dan dismenore merupakan gangguan menstruasi yang sama. Padahal, keduanya memiliki gejala, penyebab, hingga penanganan yang berbeda.

Amenore merupakan kondisi ketika seseorang tidak mengalami menstruasi pada waktu yang seharusnya, sedangkan dismenore adalah nyeri yang muncul saat menstruasi. Meski sama-sama berkaitan dengan siklus haid, kedua kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang berbeda.

Mengutip Healthline dan Mayo Clinic, amenore terbagi menjadi dua jenis, yakni amenore primer dan amenore sekunder. Amenore primer terjadi ketika seorang remaja belum mengalami menstruasi hingga usia 15 tahun meskipun perkembangan pubertas telah berlangsung normal. 

Sementara amenore sekunder terjadi ketika seseorang yang sebelumnya memiliki siklus haid normal tidak mengalami menstruasi selama tiga bulan berturut-turut atau lebih.

Sebaliknya, pada dismenore, menstruasi tetap terjadi tetapi disertai rasa nyeri, terutama di bagian bawah perut atau panggul. Nyeri tersebut umumnya disebabkan oleh kontraksi rahim akibat meningkatnya hormon prostaglandin. Pada beberapa kasus, dismenore juga dapat dipicu oleh penyakit seperti endometriosis, adenomiosis, maupun mioma.

Amenore Tidak Selalu Menandakan Penyakit atau Hamil
Menurut Mayo Clinic, amenore tidak selalu menjadi tanda adanya gangguan kesehatan. Kondisi tersebut dapat terjadi secara normal ketika seseorang sedang hamil, menyusui, atau telah memasuki masa menopause.

Namun, di luar kondisi tersebut, tidak datangnya menstruasi juga bisa menjadi sinyal adanya masalah kesehatan tertentu.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan amenore antara lain penurunan dan kenaikan berat badan secara drastis, olahraga dengan intensitas tinggi, stres berkepanjangan, gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia, hingga penggunaan obat-obatan tertentu seperti kontrasepsi hormonal, antidepresan, maupun obat kemoterapi.

Selain itu, sejumlah penyakit juga dapat memicu amenore, seperti Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS), gangguan tiroid, gangguan kelenjar hipofisis, menopause dini, hingga kelainan bawaan pada organ reproduksi.

Gejala yang Perlu Diwaspadai
Selain tidak mengalami menstruasi, penderita amenore dapat mengalami gejala lain tergantung penyebabnya. Di antaranya muncul cairan seperti ASI dari puting meski tidak menyusui, sakit kepala, gangguan penglihatan, pertumbuhan rambut berlebih di wajah, jerawat, hingga nyeri panggul.

Apabila menstruasi tidak datang selama tiga bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas atau seorang remaja belum mengalami haid hingga usia 15 tahun, kondisi tersebut sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.

Diagnosis dan Pengobatan Bergantung Penyebab
Sebelum menentukan terapi, dokter biasanya akan memastikan terlebih dahulu apakah pasien sedang hamil. Setelah itu, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan tes darah untuk mengetahui kadar hormon, pemeriksaan fungsi tiroid, USG panggul, hingga MRI apabila dicurigai terdapat gangguan pada kelenjar hipofisis.

Pengobatan amenore pun bergantung pada penyebabnya. Jika dipicu oleh gaya hidup, dokter biasanya menyarankan perubahan pola makan, menjaga berat badan ideal, mengurangi olahraga berlebihan, serta mengelola stres.

Sementara bila penyebabnya adalah gangguan hormonal atau penyakit tertentu, terapi dapat berupa pemberian obat-obatan, terapi hormon, hingga tindakan operasi pada kondisi tertentu.

Jangan Abaikan Gangguan Siklus Menstruasi
Gangguan menstruasi kerap dianggap sebagai hal yang wajar, padahal perubahan siklus haid dapat menjadi petunjuk awal adanya masalah kesehatan yang lebih serius.

Karena itu, para ahli menyarankan perempuan untuk memantau siklus menstruasi secara rutin. Jika haid berhenti selama beberapa bulan tanpa penyebab yang jelas atau disertai keluhan lain seperti sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, maupun nyeri panggul, pemeriksaan ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG) diperlukan agar penyebabnya dapat diketahui sedini mungkin.

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:28
02:23
01:37
04:43
04:30
05:26

Viral