- tim tvOne
Pasien Stroke Usia 30an Meningkat, Dokter Ungkap Pemicu dan Gejalanya
Surabaya, tvOnenews.com - Stroke yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan kelompok lanjut usia kini juga semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Bahkan, pasien berusia 30-an mulai ditemukan mengalami stroke, baik akibat penyumbatan maupun perdarahan pembuluh darah otak.
Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Saraf bagian Intervensi Kateterisasi Stroke RS Kemenkes Surabaya, dr. Locoparta Agung, saat ditemui di Surabaya, Senin (7/9/2026).
"Pergeseran tren pasti jelas, karena di sini pasien-pasien usia 30 tahun sudah terkena stroke, mau stroke sumbatan, stroke perdarahan. Trennya jelas," ujar dr. Locoparta.
Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha Muliana Lumogom Siahaan, S.H., MARS, M.H.Kes, mengatakan peningkatan pasien stroke juga terlihat pada kelompok usia produktif. Menurutnya, persoalan lain yang perlu menjadi perhatian adalah masih ditemukannya pasien yang datang dalam kondisi akut karena tidak menjalani deteksi sejak dini.
"Kami mencatat adanya peningkatan signifikan pasien stroke yang dirawat di RS Kemenkes Surabaya. Yang paling mengkhawatirkan, rata-rata mereka adalah usia produktif. Dan ironisnya, sebagian besar sudah datang dalam kondisi akut dan sulit tertolong karena tidak ada deteksi dini. Padahal, semakin cepat ditangani, peluang kesembuhan dan pemulihan jauh lebih besar," ungkap dr. Martha Muliana Lumogom Siahaan.
Menurut dr. Locoparta, sejumlah kebiasaan yang umum dilakukan masyarakat usia produktif dapat meningkatkan risiko stroke. Tekanan pekerjaan, kurang tidur, merokok, serta pola makan yang tidak sehat membuat sebagian orang mengabaikan pemeriksaan kesehatan, termasuk tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.
"Usia produktif itu pasti dia di bawah tekanan pekerjaan, kurang tidur, pekerjaan banyak sehingga dia tidak meluangkan waktu untuk skrining gula darah, tekanan darah, kolesterol," paparnya.
Ia memperkirakan kasus stroke pada kelompok usia produktif masih dapat meningkat apabila pola hidup tidak berubah. Konsumsi makanan cepat saji, kurang aktivitas fisik, serta tidak terkontrolnya tekanan darah, gula darah, dan kolesterol menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.
"Prediksinya akan terus naik. Sekarang anak zaman sekarang, remaja, pemuda, kalau makan fast food misalnya, tidak bisa pulang dari kantor kemudian pesan makanan. Makanan fast food itu juga akan menyebabkan gula darah dan kolesterol yang tinggi," tuturnya.
Masyarakat juga diminta mengenali gejala stroke sejak dini. Gejala stroke dapat berbeda bergantung pada bagian otak yang terdampak. Salah satu tanda yang umum adalah munculnya kelemahan atau kelumpuhan secara tiba-tiba pada salah satu sisi tubuh. Gangguan penglihatan juga dapat menjadi salah satu gejala.
"Serangan stroke yang paling sering adalah mengenai motorik, gangguan gerak. Lemas separuh, itu yang paling sering," jelasnya.
Stroke pada usia produktif tidak hanya berdampak terhadap kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien dan keluarganya. Ketika pasien mengalami keterbatasan setelah stroke, kemampuan untuk bekerja dan menjalankan peran dalam keluarga juga dapat terganggu.
"Stroke itu tidak hanya menyerang fisik, menyerang psikis juga," ungkap dr. Locoparta.
Untuk mengurangi risiko stroke, masyarakat diingatkan menjaga waktu tidur, rutin melakukan aktivitas fisik, menghindari rokok dan paparan asap rokok, serta menjaga pola makan dengan membatasi konsumsi garam, gula, dan lemak jenuh.
"Kalau tensi ya hindari asin, kalau diabetes ya hindari manis, kalau kolesterol ya hindari jeroan," pungkasnya.
Sementara itu, dr. Martha mengingatkan masyarakat tetap melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala meski tidak merasakan keluhan. Menurutnya, pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol dapat membantu mengetahui faktor risiko lebih awal.
"Jangan tunggu sakit baru berobat. Cek tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala. Lebih baik mencegah daripada mengobati, apalagi untuk stroke yang biaya pengobatannya sangat mahal dan pemulihannya tidak selalu sempurna," tutup dr. Martha. (gol)