- X/@CozyGreenVibes
Viral Ibu Muda di Malang Hilang Diduga Baby Blues usai 11 Hari Melahirkan, Kenali Gejala Depresi Pascapersalinan
tvOnenews.com - Kabar hilangnya seorang ibu muda di Malang, Jawa Timur, menjadi perhatian publik setelah informasi pencariannya viral di media sosial.
Shaskia Maulidina (30) dilaporkan meninggalkan rumah pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 13.30 WIB, ketika kondisinya baru 11 hari setelah melahirkan.
Informasi tersebut dibagikan melalui akun Threads @_divaamara.
Keluarga dan orang-orang terdekat Shaskia meminta bantuan masyarakat untuk menemukan keberadaannya karena khawatir dengan kondisi kesehatannya yang masih dalam masa pemulihan pascapersalinan.
Dalam unggahan tersebut, pengunggah menyebutkan bahwa Shaskia pergi dengan berjalan kaki. Ia juga diketahui masih memberikan ASI kepada bayinya.
"Mba Sha pulang ya, kami semua menunggu," tulis pengunggah dalam unggahannya.
Keluarga bersama kerabat dan rekan-rekan Shaskia telah melakukan berbagai upaya pencarian, mulai dari menelusuri rekaman kamera pengawas (CCTV), menyusuri sejumlah jalan, hingga menyebarkan informasi kepada warga sekitar.
Berdasarkan informasi yang beredar, seorang warga sempat melihat Shaskia di kawasan AustinVille, Dieng Atas, Malang, pada Sabtu malam sekitar pukul 19.30 WIB.
Pencarian pun terus dilakukan hingga akhirnya muncul kabar terbaru mengenai keberadaannya.
Shaskia Ditemukan dan Dibawa ke Rumah Sakit
Dalam unggahan lanjutan, pengunggah mengabarkan bahwa Shaskia telah ditemukan.
Namun, ia dilaporkan mengalami patah tulang setelah terjatuh dari ketinggian sehingga harus mendapatkan penanganan medis.
"Alhamdulillah Sasa sudah ketemu. Jatuh dari ketinggian. Terima kasih bapak ibu dan teman-teman semua, saat ini Sasa sedang dibawa ke RSSA karena mengalami patah tulang," demikian informasi yang disampaikan melalui media sosial.
Kabar tersebut membuat perhatian warganet tertuju pada kondisi Shaskia, terlebih ia baru saja menjalani persalinan.
Di tengah perbincangan mengenai dugaan baby blues, penting untuk memahami bahwa kondisi kesehatan mental seseorang tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial.
Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga profesional untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Meski demikian, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental ibu setelah melahirkan perlu mendapatkan perhatian yang sama pentingnya dengan pemulihan fisik.
- Antara
Mengenal Gejala Baby Blues dan Depresi Pascapersalinan
Setelah melahirkan, seorang ibu mengalami berbagai perubahan, mulai dari kondisi fisik dan hormonal hingga pola tidur serta tanggung jawab dalam merawat bayi.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi suasana hati dan kondisi psikologis.
Salah satu kondisi yang kerap dialami ibu setelah persalinan adalah baby blues.
Sindrom ini umumnya muncul pada hari-hari awal setelah melahirkan dan dapat ditandai dengan perubahan suasana hati, mudah menangis, mudah tersinggung, kecemasan, hingga perasaan kewalahan.
Gejala baby blues biasanya mereda dalam waktu sekitar dua minggu. Namun, apabila kesedihan berlangsung lebih lama, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Dokter Grace Roseliny dalam tayangan di kanal YouTube Tanyakan Dokter menjelaskan bahwa depresi pascapersalinan atau postpartum depression merupakan kondisi depresi yang dialami seseorang setelah melahirkan. Kondisi ini berbeda dari baby blues, terutama dari segi tingkat keparahan dan durasi gejalanya.
Dalam penjelasannya, dr. Grace menyebutkan tiga ciri utama depresi yang perlu dikenali, yakni anergia, anhedonia, dan afek depresif.
- tim tvonenews
1. Anergia atau Kehilangan Energi
Anergia merupakan kondisi ketika seseorang mengalami penurunan energi secara berkepanjangan hingga kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.
"Anergia adalah kondisi ketika seseorang mengalami kelemahan atau kekurangan energi yang berkepanjangan sehingga merasa tidak mampu melakukan apa pun seperti biasanya," jelas dr. Grace Roseliny.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa sangat lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat. Bahkan, kegiatan sederhana seperti bangun dari tempat tidur pun dapat terasa sulit.
Pada ibu yang baru melahirkan, kelelahan memang dapat terjadi akibat proses persalinan dan kurang tidur. Namun, apabila kekurangan energi berlangsung terus-menerus dan disertai gejala emosional lainnya, kondisi tersebut perlu diperiksa lebih lanjut.
2. Anhedonia atau Kehilangan Kemampuan Merasakan Kesenangan
Gejala berikutnya adalah anhedonia, yaitu kondisi ketika seseorang kehilangan minat atau kemampuan untuk menikmati aktivitas yang sebelumnya terasa menyenangkan.
"Sementara itu, anhedonia merupakan kondisi ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan kesenangan," ungkap dr. Grace.
Seseorang yang mengalami kondisi ini dapat merasa hampa, kehilangan ketertarikan terhadap kegiatan yang biasanya disukai, atau kesulitan merasakan kebahagiaan.
Pada ibu setelah persalinan, perubahan tersebut dapat membuatnya merasa tidak bersemangat menjalani keseharian. Kondisi ini perlu diperhatikan apabila terjadi secara menetap dan memengaruhi kehidupannya.
3. Afek Depresif atau Suasana Hati Murung
Ciri utama depresi lainnya adalah afek depresif. Kondisi ini berkaitan dengan suasana hati yang sedih atau murung dan dapat terlihat melalui ekspresi seseorang.
"Orang yang mengalami kondisi ini biasanya tampak sedih dan murung hanya dari ekspresi wajahnya," jelas dr. Grace Roseliny.
Selain terlihat murung, seseorang juga dapat lebih sering menangis, merasa kehilangan harapan, atau mengalami kesedihan yang sulit dijelaskan.
Meski demikian, ekspresi wajah saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang mengalami depresi. Penilaian perlu mempertimbangkan gejala lain, durasi, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Gejala Lain Depresi Pascapersalinan yang Perlu Diwaspadai
Selain tiga ciri utama tersebut, dr. Grace menjelaskan bahwa depresi dapat disertai berbagai gejala tambahan. Di antaranya adalah kecemasan, perasaan hampa, pesimisme, kehilangan harapan, merasa tidak berdaya, serta menganggap diri sendiri tidak berharga.
Seseorang juga dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, terus memikirkan pengalaman masa lalu, hingga merasakan keluhan fisik tertentu.
Pada ibu setelah melahirkan, gejala juga dapat terlihat melalui perubahan perilaku dan hubungan dengan orang-orang terdekat.
"Seorang ibu mungkin tidak ingin menyentuh bayi yang baru dilahirkannya. Ia juga bisa merasa tidak memiliki kedekatan emosional atau ikatan batin dengan bayinya," jelas dr. Grace.
Ibu yang mengalami depresi pascapersalinan juga mungkin merasa kecewa terhadap dirinya sendiri, kehilangan rasa percaya diri, atau menganggap dirinya tidak mampu menjadi ibu yang baik.
Namun, kesulitan membangun kedekatan dengan bayi tidak selalu berarti seseorang mengalami depresi. Kondisi tersebut perlu dipahami secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kesehatan fisik, kondisi emosional, dan situasi yang sedang dihadapi.
Gejala lain yang tidak boleh diabaikan adalah munculnya pikiran untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri. Jika hal tersebut terjadi, orang yang bersangkutan perlu segera mendapatkan pertolongan medis.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Depresi Pascapersalinan
Menurut dr. Grace Roseliny, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami depresi setelah melahirkan.
Faktor pertama adalah pengalaman negatif atau peristiwa penuh tekanan yang pernah dialami sebelumnya. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang ketika menghadapi perubahan besar dalam kehidupannya.
Kedua, kurangnya dukungan sosial dari pasangan, keluarga, maupun lingkungan sekitar. Padahal, ibu yang baru melahirkan membutuhkan bantuan untuk beradaptasi dengan rutinitas baru dan merawat bayinya.
Ketiga, memiliki riwayat depresi sebelumnya. Riwayat tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan suasana hati setelah persalinan.
Selain itu, kesulitan untuk hamil dalam waktu lama, menjadi ibu pada usia muda, melahirkan bayi kembar, melahirkan bayi prematur, serta mengalami komplikasi selama kehamilan atau persalinan juga dapat menjadi faktor risiko.
Ibu yang memiliki bayi dengan kondisi kesehatan tertentu hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit juga dapat menghadapi tekanan emosional yang lebih besar.
Meski demikian, depresi pascapersalinan tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh gabungan faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Bagaimana Cara Membantu Ibu yang Mengalami Depresi?
Dr. Grace mengingatkan pentingnya berkonsultasi dengan dokter apabila seseorang merasa mengalami perubahan kondisi mental yang mengkhawatirkan setelah melahirkan.
"Jika Anda merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi diri sendiri, atau mengetahui tetangga, teman, maupun anggota keluarga yang menunjukkan gejala menyerupai depresi setelah melahirkan, segera konsultasikan kondisinya kepada dokter," pesan dr. Grace.
Keluarga dan orang-orang terdekat dapat memberikan dukungan dengan mendengarkan keluhan ibu tanpa menghakimi, membantu merawat bayi, serta memberikan kesempatan bagi ibu untuk beristirahat.
Ibu juga perlu didorong untuk mendapatkan bantuan profesional apabila kesedihan, kecemasan, atau kehilangan minat berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Apabila muncul kebingungan berat, halusinasi, perilaku yang sangat tidak biasa, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi, segera cari pertolongan medis darurat.
Dr. Grace turut mengingatkan bahwa depresi pascapersalinan tidak hanya dapat dialami ibu, tetapi juga ayah. Perubahan tanggung jawab, tekanan dalam kehidupan keluarga, dan riwayat depresi dapat memengaruhi kondisi mental orang tua setelah memiliki anak.
Karena itu, kesehatan mental setelah kelahiran bayi perlu menjadi perhatian bersama. Ibu yang mengalami kesulitan secara emosional bukan berarti gagal menjalankan perannya. Dukungan yang tepat, pemahaman dari lingkungan sekitar, dan penanganan profesional dapat membantu proses pemulihan.
Kasus Shaskia yang menjadi perhatian publik pun menjadi pengingat agar masyarakat tidak terburu-buru memberikan diagnosis berdasarkan dugaan. Hal yang lebih penting adalah memastikan orang yang membutuhkan pertolongan mendapatkan bantuan medis dan dukungan yang sesuai. (gwn)