- REUTERS/Benoit Tessier
Beda Nasib dengan Indonesia, BYD Malaysia Batal Bangun Pabrik Sendiri dan Pilih Gandeng Perusahaan Lokal
Menariknya, BYD sebelumnya sempat mengumumkan rencana pembangunan pabrik sendiri di Tanjung Malim, Perak, pada Agustus 2025. Namun, rencana tersebut akhirnya dikesampingkan dan perusahaan memilih menjalin kerja sama perakitan dengan Inokom.
Laporan The Edge yang dikutip Nikkei Asia menyebut rencana pembangunan pabrik tersebut menghadapi kendala setelah BYD tidak mencapai kesepakatan dengan Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia atau MITI. Salah satu persoalan yang dilaporkan adalah persyaratan untuk mengekspor hingga 80 persen kendaraan hasil perakitan lokal, meskipun BYD belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan perubahan rencananya.
Di sisi lain, persaingan pasar kendaraan listrik Malaysia juga semakin ketat bagi BYD yang sebelumnya menjadi pemimpin penjualan pada 2025. Perusahaan asal China tersebut tercatat menjual 14.407 unit mobil listrik sepanjang tahun lalu, tetapi kini menghadapi tekanan dari produsen otomotif nasional Malaysia, Proton.
Berdasarkan data Departemen Transportasi Jalan Malaysia yang dihimpun paultan.org, sebanyak 24.857 mobil listrik Proton terdaftar sepanjang Januari hingga September 2026. Pada periode yang sama, jumlah kendaraan listrik BYD yang terdaftar mencapai 8.087 unit sehingga menunjukkan perbedaan cukup besar antara kedua merek tersebut.
Berbeda dengan Malaysia, BYD memilih membangun fasilitas manufaktur milik sendiri di Indonesia yang berlokasi di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat. Pabrik tersebut diresmikan pada 3 September 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp11,6 triliun, berdiri di atas lahan seluas 126 hektare, dan memiliki kapasitas produksi maksimal 150 ribu kendaraan per tahun.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, produksi kendaraan BYD di Indonesia telah berlangsung sejak April 2026. Hingga September 2026, total kendaraan yang diproduksi secara lokal mencapai 32.040 unit, sementara impor kendaraan utuh BYD sepanjang Januari hingga September turun menjadi 1.108 unit dibandingkan 27.795 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, BYD Malaysia hingga kini belum mengumumkan model kendaraan listrik yang akan dirakit melalui fasilitas Inokom. Perusahaan juga belum memberikan kepastian mengenai jadwal dimulainya produksi kendaraan dengan skema CKD tersebut.
"Kami bertujuan mendekatkan keahlian BYD di bidang kendaraan energi baru dan teknologi baterai ke pasar Malaysia, sembari berkontribusi pada pengembangan berkelanjutan industri otomotif lokal," pungkasnya.