- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Ingin Bekerja di Jepang? 7 Tips Persiapan Kerja ke Jepang, Mulai dari Bahasa hingga Keterampilan Hospitality
tvOnenews.com - Bekerja di Jepang tidak cukup hanya bermodal keinginan dan kemampuan menghafal kosakata. Bagi tenaga kerja Indonesia yang ingin mencoba peruntungan di Negeri Sakura, kemampuan berkomunikasi, pemahaman budaya, keterampilan sesuai bidang pekerjaan, hingga kesiapan beradaptasi menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan sejak awal.
Bahasa Jepang memang menjadi salah satu pintu masuk utama. Namun, belajar bahasa untuk kebutuhan kerja berbeda dengan sekadar mempelajari percakapan sehari-hari.
Calon pekerja perlu memahami istilah yang berkaitan dengan profesinya, etika komunikasi, kebiasaan di lingkungan kerja, serta pola disiplin yang berlaku.
Persiapan semacam ini menjadi semakin relevan karena peluang kerja lintas negara membutuhkan tenaga kerja yang bukan hanya mampu bekerja, tetapi juga memahami lingkungan tempat mereka bekerja.
Berikut sejumlah hal yang penting diperhatikan bagi masyarakat Indonesia yang ingin belajar bahasa Jepang sekaligus mempersiapkan diri untuk bekerja di Jepang.
1. Jangan Hanya Menghafal Kosakata, Pahami Bahasa untuk Kebutuhan Kerja
Bahasa Jepang sebaiknya dipelajari secara bertahap dengan tujuan yang jelas. Selain huruf dan kosakata dasar, calon pekerja perlu mengembangkan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.
Untuk kebutuhan profesional, kemampuan berkomunikasi secara sopan juga penting. Dalam budaya kerja Jepang terdapat penggunaan bahasa yang menyesuaikan situasi dan lawan bicara.
Karena itu, materi pembelajaran sebaiknya tidak berhenti pada percakapan umum. Istilah dan komunikasi yang berkaitan dengan bidang pekerjaan perlu dipelajari sejak masa pelatihan.
2. Pelajari Budaya dan Etika Kerja Jepang
Kemampuan bahasa bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesiapan bekerja di Jepang. Pemahaman mengenai kebiasaan dan etika di tempat kerja juga diperlukan.
Kedisiplinan waktu, cara berkomunikasi dengan atasan dan rekan kerja, tanggung jawab terhadap pekerjaan, serta kebiasaan bekerja dalam tim merupakan beberapa aspek yang perlu dipahami calon pekerja.
Pembekalan budaya kerja juga dapat membantu mengurangi kesenjangan ketika seseorang mulai memasuki lingkungan profesional di Jepang. Dengan demikian, proses adaptasi tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis.
3. Sesuaikan Pelatihan dengan Bidang Pekerjaan
Calon pekerja juga perlu menentukan bidang yang ingin dituju sebelum memilih program pelatihan. Bahasa Jepang untuk bekerja di sektor manufaktur tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan bahasa yang digunakan di hotel atau restoran.
Salah satu sektor yang membutuhkan persiapan khusus adalah hospitality dan perhotelan. Pekerja perlu memahami pelayanan pelanggan, komunikasi dengan tamu, prosedur operasional, hingga standar pelayanan yang berlaku.
Artinya, pelatihan idealnya menggabungkan kemampuan bahasa dengan keterampilan kerja yang relevan.
4. Kenali Lembaga Pelatihan dan Program yang Ditawarkan
Lembaga pelatihan kerja (LPK) dapat menjadi salah satu pilihan bagi calon pekerja yang membutuhkan pembelajaran terstruktur. Namun, calon peserta sebaiknya tidak hanya melihat fasilitas atau klaim program.
Hal yang perlu diperiksa antara lain kurikulum, kompetensi pengajar, metode pembelajaran, durasi pelatihan, materi budaya kerja, pelatihan keterampilan, serta informasi mengenai proses penempatan kerja.
Salah satu lembaga yang bergerak dalam bidang tersebut adalah LPK Balapapat atau Balapapat Japanese School di Jalan Kapten Dasuki Bakri, Cibening, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Lembaga tersebut berfokus pada pendidikan bahasa Jepang dan persiapan tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di Jepang, terutama pada sektor hospitality dan perhotelan.
5. Perhatikan Keterampilan Praktis, Bukan Bahasa Saja
Pelatihan yang menggabungkan bahasa dan keterampilan kerja dapat memberikan bekal yang lebih relevan bagi calon pekerja. Balapapat Japanese School, misalnya, menyediakan pelatihan bahasa dan budaya Jepang serta keterampilan kerja yang berfokus pada bidang hospitality dan perhotelan.
Program tersebut juga mencakup pengenalan etika kerja Jepang. Dalam proses pembelajarannya, lembaga tersebut disebut menggunakan pengajar bersertifikat dan penutur asli atau *native speaker*.
Selain pembelajaran, tersedia pula fasilitas asrama dan kebutuhan harian bagi peserta selama masa pelatihan.
6. Pahami Bahwa Kerja di Jepang Membutuhkan Adaptasi
Keputusan bekerja di luar negeri berarti bersiap menghadapi lingkungan sosial dan profesional yang berbeda. Karena itu, calon pekerja perlu memiliki ekspektasi realistis mengenai kehidupan dan pekerjaan di Jepang.
Kemampuan beradaptasi menjadi bagian yang tidak kalah penting dari kemampuan teknis. Peserta perlu memahami bahwa proses bekerja di negara lain dapat melibatkan perbedaan bahasa, budaya, sistem kerja, dan kebiasaan sehari-hari.
Persiapan sejak sebelum keberangkatan dapat membantu calon pekerja menghadapi perubahan tersebut dengan lebih baik.
7. Potensi Pengembangan Lembaga Pelatihan
Persiapan tenaga kerja Indonesia untuk pasar Jepang juga mulai mendapat perhatian dari pelaku usaha Jepang. Salah satunya terlihat dari kunjungan Indonesia Soken (Indonesia Research Institute Japan - Jakarta) bersama CEO Albertus Prasetyo Heru Nugroho yang memperkenalkan Balapapat Japanese School kepada sejumlah pengusaha Jepang.
Lembaga ini merupakan perusahaan yang berdiri di Tokyo sejak 2011 dan bergerak dalam riset pasar serta pengembangan bisnis bagi investor Jepang yang ingin berinvestasi di luar negeri, khususnya Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, para pengusaha Jepang diperkenalkan dengan program pendidikan, fasilitas, serta model pelatihan Balapapat Japanese School.
Pembahasan tidak hanya berkaitan dengan pendidikan bahasa, tetapi juga potensi pengembangan lembaga pelatihan kerja untuk mendukung kebutuhan sumber daya manusia bagi industri Jepang.
Indonesia Soken sendiri memiliki layanan yang mencakup market research, pendirian perusahaan, merger dan akuisisi (M&A), konsultasi hukum, investment matching, financial advisory, sumber daya manusia, pendidikan, hingga dispatching to Japan.
Kebutuhan tenaga kerja Jepang menunjukkan pentingnya sistem persiapan yang menghubungkan bahasa, keterampilan profesional, pemahaman budaya, dan etika kerja.
Bagi calon pekerja Indonesia, persiapan tersebut dapat menjadi bekal penting sebelum benar-benar memasuki pasar kerja Jepang. (udn)