- Reuters/Soveit Yarn
Impian Tinggal di Kapal Pesiar Berujung Petaka, Pasangan AS yang Nekat Jual Rumah Kini Berakhir Tragis di Kamboja
Jakarta, tvOnenews.com - Keputusan menjual rumah dan mobil demi mewujudkan impian berkeliling dunia menggunakan kapal pesiar justru membawa pasangan asal Amerika Serikat (AS) ke situasi yang tidak pernah mereka bayangkan.
Setelah menghabiskan 17 bulan hidup di atas kapal, mereka kini terpaksa meninggalkan hunian terapung tersebut di Kamboja akibat persoalan finansial perusahaan pengelola.
Pasangan bernama Lynn dan Paul Montoya merupakan bagian dari sekitar 200 penumpang kapal pesiar Villa Vie Odyssey. mereka rela mengeluarkan uang untuk membeli kabin senilai Rp3,2 miliar serta membayar iuran bulanan sekitar USD6.000 (setara Rp109 juta) demi mengarungi samudera di masa pensiun.
Namun, cita-cita menjalani kehidupan di tengah lautan mendadak kandas, sebagaimana yang dikutip tvOnenews.com dari Reuters, Senin (2/11/2026). Manajemen Villa Vie Residences pekan ini mengumumkan penghentian sementara operasional kapal. Sekitar 200 penumpang kemudian diminta turun ketika kapal bersandar di salah satu pelabuhan Kamboja.
Mereka juga harus mengosongkan kabin dan membawa seluruh barang pribadi, termasuk hewan peliharaan. Kondisi tersebut membuat para penumpang kehilangan tempat tinggal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
"Kami sebenarnya tidak pernah bepergian ke luar Amerika Serikat sebelum naik ke kapal ini. Kami menganggap ini sebagai kesempatan emas untuk melihat dunia," ujar Paul.
Di tengah ketidakpastian tersebut, para penumpang turut mencemaskan nasib uang yang telah mereka investasikan. Paul menilai perusahaan kemungkinan mengalami kesulitan keuangan.
Paul juga menduga pihak perusahaan kapal tersebut tidak sanggup memenuhi kebutuhan operasional, termasuk pembelian bahan bakar dan pembayaran gaji awak kapal.
"Mereka kehabisan uang, itulah alasan mengapa mereka tidak bisa membeli BBM. Mereka bahkan kesulitan membayar gaji kru di kapal, jadi kami benar-benar tidak berharap uang kami kembali," terangnya.
Dalam keterangannya pada Selasa (27/10), pengelola menyatakan tengah mengupayakan restrukturisasi modal sekaligus mencari sumber pendanaan tambahan. Kendati demikian, keberhasilan langkah tersebut belum dapat dipastikan.
Paul menyebut persoalan mulai terasa ketika konflik dengan Iran berdampak terhadap kenaikan harga bahan bakar. Bahkan, penumpang sempat diminta memberikan pinjaman untuk membantu pembelian BBM.