- Instagram @sarwendah29
Apakah Jadi Pelakor Termasuk Gangguan Mental? Sarwendah Beri Jawaban dari Sisi Psikologi
tvOnenews.com - Fenomena pelakor atau perebut pasangan orang lain bukanlah hal baru di tengah masyarakat.
Kasus semacam ini kerap muncul dan menjadi perbincangan hangat, terutama di media sosial dan pemberitaan hiburan.
Namun, di balik label sosial yang melekat, muncul pertanyaan penting: apakah perilaku menjadi pelakor termasuk gangguan mental menurut psikologi?
Sarwendah, seolang public figure sekaligus seseorang yang mempelajari ilmu psikologi memberikan jawabannya dari sudut pandang psikolog.
"Menurut ilmu psikologi, salah satu penyebab pelakor karena adanya perasaan komepetitif dengan orang lain," kata Sarwendah, melansir dari unggahan Instagram miliknya, Jumat (2/1/2026)
Ketika seseorang berhasil mendapatkan pasangan milik orang lain, hal tersebut dapat meningkatkan rasa percaya diri pelaku.
Ia merasa lebih unggul, lebih hebat, dan seolah “menang” dibandingkan pihak yang pasangannya direbut.
Sarwendah menambahkan, pelakor itu tidak selalu merujuk pada perempuan. Laki-laki juga dapat melakukan perilaku serupa, yakni terlibat dalam hubungan dengan pasangan orang lain.
Artinya, fenomena ini berkaitan dengan perilaku dan kondisi psikologis individu, bukan soal gender semata.
Faktor seseorang menjadi pelakor
- Freepik/stefamerpik
Psikologi mencatat beberapa faktor yang dapat memengaruhi seseorang terlibat dalam hubungan terlarang.
Sarwendah menjelaskan beberapa faktor tersebut di antaranya:
- Kebutuhan vaidasi dan harga diri yang rendah.
- Sensasi dan adrenalin dari 'cinta yang terlarang'
- Isu komitmen dan ketakutan hubungan yang serius.
- Kurangnya empati atau narsisme
- Ada pengalaman masa lalu atau trauma.
Apakah perilaku pelakor termasuk gangguan mental?
Lalu, apakah menjadi pelakor dapat dikategorikan sebagai gangguan mental? Sarwendah menyebut, jawabannya tidak selalu.
"Jika dilakukan karena tidak sengaja dan terbuai suasana, tidak bisa dikatakan sebagai gangguan mental," ungkap mantan istri Ruben Onsu tersebut.
Namun, ia menjelaskan, jika tindakan merebut pasangan orang lain dilakukan secara berulang, disengaja, bahkan dijadikan sarana mencari perhatian atau popularitas, kondisi tersebut bisa mengarah pada gangguan kepribadian narsistik.
Kesimpulannya, psikologi memandang fenomena pelakor sebagai perilaku kompleks yang dipengaruhi banyak faktor.