- Tangkapan layar Moviezy
Review Papa Zola The Movie: Animasi Keluarga yang Menggali Makna Ayah di Balik Humor
tvOnenews.com - Film animasi keluarga kerap menjadi ruang aman untuk membicarakan tema-tema emosional yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui visual yang ringan dan cerita yang mudah diikuti, animasi mampu menjangkau anak-anak tanpa mengabaikan kebutuhan penonton dewasa. Dalam konteks inilah Papa Zola The Movie hadir sebagai film yang mencoba menawarkan lebih dari sekadar hiburan keluarga.
Berbeda dari animasi petualangan atau aksi yang mendominasi layar lebar, film ini memilih fokus pada relasi keluarga, khususnya hubungan antara ayah dan anak.
Tema tersebut terasa relevan di tengah perubahan pola keluarga modern, ketika peran ayah semakin dibicarakan bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur emosional dalam kehidupan anak.
Sebagai film layar lebar yang berangkat dari karakter yang sebelumnya populer di media sosial, Papa Zola The Movie menghadapi tantangan tersendiri.
Film ini dituntut untuk mengembangkan karakter yang sebelumnya hadir dalam format singkat menjadi narasi panjang yang utuh, sekaligus menjaga kedekatan emosional dengan penontonnya.
Dari Karakter Viral ke Cerita Panjang yang Lebih Personal
Melansir dari Moviezy, film ini diproduksi oleh studio animasi Monsta. Film ini mengangkat kisah asal-usul Papa Zola, karakter yang selama ini dikenal luas melalui konten digital dengan gaya humor khas.
Di versi layar lebar, karakter tersebut tidak lagi hanya tampil sebagai figur komedi, tetapi juga diperlihatkan sisi latar belakang dan perjalanan hidupnya.
Pengembangan film ini didorong oleh antusiasme penonton yang ingin mengenal Papa Zola secara lebih mendalam. Karakter tersebut ternyata tidak hanya menarik bagi anak-anak, tetapi juga digemari oleh penonton dewasa.
Daya tarik lintas usia inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan cerita yang lebih emosional dan reflektif.
Papa Zola digambarkan sebagai sosok ayah yang tidak sempurna, namun berusaha hadir dengan caranya sendiri. Pendekatan ini membuat karakter terasa lebih manusiawi dan dekat dengan realitas banyak keluarga, alih-alih tampil sebagai figur ideal tanpa cela.
Pendekatan Emosional dan Gaya Bertutur yang Sederhana
Dalam film ini, sutradara sekaligus penulis cerita mengambil pendekatan yang lebih personal. Cerita dibangun secara perlahan, memberi ruang bagi penonton untuk memahami dinamika batin Papa Zola.
Humor tetap hadir, namun tidak menjadi satu-satunya penopang cerita. Emosi dan relasi keluarga justru menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan narasi.
Menariknya, karakter Papa Zola awalnya lahir dari kebutuhan untuk menjangkau penonton dewasa dalam proyek animasi sebelumnya.
Saat itu, kreator menyadari bahwa banyak penonton yang telah tumbuh bersama serial animasi lama, namun tetap ingin menikmati cerita yang relevan dengan usia mereka.
Dari situ, Papa Zola berkembang menjadi karakter mandiri yang tidak bergantung pada semesta cerita lain.
Film ini juga menegaskan bahwa Papa Zola tidak terinspirasi dari tokoh tertentu. Karakternya dibangun dari pengamatan keseharian, sehingga konflik dan emosinya terasa akrab. Pilihan ini membuat film lebih membumi dan mudah diterima oleh berbagai latar budaya.
Mengapa Film Animasi Malaysia Relevan untuk Penonton Indonesia?
Masuknya Papa Zola The Movie ke bioskop Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kedekatan budaya antara Malaysia dan Indonesia.
Nilai-nilai keluarga, cara berkomunikasi antaranggota keluarga, hingga humor yang digunakan memiliki banyak irisan. Hal ini membuat cerita Papa Zola terasa tidak asing bagi penonton Indonesia.
Selain itu, animasi Asia Tenggara kini semakin mendapat tempat di pasar regional. Penonton Indonesia telah terbiasa dengan konten animasi dari negara tetangga, terutama yang mengangkat tema keluarga dan kehidupan sehari-hari.
Bahasa visual yang universal juga membantu film ini melintasi batas negara tanpa kehilangan makna. Secara keseluruhan, Papa Zola The Movie tampil sebagai film animasi keluarga yang menekankan cerita dan emosi dibandingkan sensasi visual semata.
Dengan tema ayah dan keluarga yang bersifat universal, film ini berpotensi diterima oleh penonton Indonesia sebagai tontonan yang ringan, reflektif, dan relevan untuk dinikmati bersama lintas generasi. (udn)