- YouTube/drRichardLee/Telkomsel
Kiprah Kak Seto Disorot Usai Buku Aurelie Moeremans Viral, Publik Pertanyakan Perannya di Masa Lalu
tvOnenews.com - Nama Seto Mulyadi atau yang akrab dikenal sebagai Kak Seto kembali ramai diperbincangkan publik usai perilisan buku memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans.
Buku tersebut memicu gelombang diskusi luas tentang isu child grooming dan kekerasan emosional yang dialami selebritas berdarah Belgia-Jawa itu saat berusia 15 tahun.
Di tengah sorotan tersebut, publik kembali menyinggung peran lembaga perlindungan anak yang saat itu dipimpin oleh Kak Seto, termasuk dugaan tidak adanya langkah konkret dalam menangani kasus yang menimpa Aurelie.
Menanggapi tudingan itu, Kak Seto akhirnya buka suara melalui unggahan Instagram Stories.
Ia meminta publik untuk menyikapi isu lama tersebut dengan kepala dingin dan tidak memelintir fakta yang pernah terjadi.
“Mohon kiranya kita dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih,” tulis Kak Seto dalam pernyataannya.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia itu juga menegaskan bahwa pihaknya sudah melakukan segala upaya sesuai kemampuan dan tanggung jawab lembaga pada masanya.
- Antara
“Pada masanya, kami telah berupaya semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab kami saat itu,” jelas Kak Seto.
Ia juga menegaskan bahwa tidak semua proses perlindungan anak berjalan mudah, terutama jika korban masih berada dalam pengaruh kuat dari pihak yang diduga sebagai pelaku.
Kasus lama ini mencuat kembali setelah publik mengetahui bahwa Aurelie dalam bukunya menggambarkan hubungan manipulatif dengan seorang pria dewasa berusia 29 tahun, yang disebut dengan nama samaran “Bobby”.
Diduga, sosok itu merujuk pada Roby Tremonti, mantan kekasih Aurelie yang kini kembali menjadi sorotan warganet.
Pada masa kejadian sekitar tahun 2009 hingga 2010, ibu Aurelie, Sri Sunarti, sempat melaporkan dugaan pencucian otak dan eksploitasi terhadap anaknya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Namun, upaya tersebut disebut tidak berjalan efektif. Proses mediasi yang diupayakan KPAI dikabarkan menemui banyak hambatan, terutama karena kondisi psikologis Aurelie yang masih membela sang pelaku.
Dalam wawancara tahun 2010, Sri mengungkap bahwa dirinya telah meminta bantuan kepada berbagai pihak, termasuk Kak Seto, namun tidak membuahkan hasil.
- YouTube/Telkomsel
“Saya sudah minta tolong ke Komnas, Kak Seto, empat kali. Tapi mereka sepertinya membiarkan saja, saya juga tidak ngerti,” ungkapnya dalam arsip pemberitaan lama.
Pernyataan tersebut kini kembali viral di media sosial. Salah satu akun X MahaKersa menuliskan,
“Fakta bahwa ibunya Aurelie udah minta tolong Kak Seto 4 kali tapi tetap gak digubris. Ya ampun, ternyata gak sebaik yang kita kira.”
Cuitan itu kemudian menuai ribuan komentar yang mempertanyakan sejauh mana peran lembaga perlindungan anak dalam menangani kasus tersebut di masa lalu.
Namun, Kak Seto dalam wawancara yang dikutip dari arsip media tahun 2010 justru membantah tuduhan itu.
Ia menjelaskan bahwa dirinya sempat memanggil pihak keluarga dan Aurelie untuk melakukan mediasi.
"Saya mencoba memanggil Ibu dan Aurelie. Yang diadukan tuh banyak, di antaranya bahwa Aurelie dicuci otak sama pacarnya,” jelas Seto saat itu.
Lebih lanjut, Kak Seto menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan lembaganya berfokus pada dialog, bukan paksaan.
“Anak remaja punya keinginan dan pilihan. Gak bisa dipaksa sesuai dengan keinginan orangtua,” ujarnya.
Ia juga menyebut hubungan keluarga sebenarnya sempat membaik setelah adanya upaya komunikasi.
"Waktu gempa, ibunya Aurel dan Aurel sempat menginap di rumah Roby. Jadi sudah baik sebenarnya hubungan antar orangtua. Namanya anak remaja, wajar lah kalau jatuh cinta,” ujarnya saat itu.
Kini, Aurelie yang telah berusia 32 tahun dan menikah dengan Tyler Bigenho mengaku menulis Broken Strings bukan untuk membuka aib lama, tetapi sebagai bentuk penyembuhan diri dan peringatan bagi remaja lain agar tidak terjebak dalam relasi tidak sehat. (adk)