- Istimewa
Usai Aksinya di Eskalator Viral, Ibu-ibu Berbaju Hijau Ngamuk di TransJakarta: Tuduh Penumpang Jadi Antek Fredy Pratama
Ia menjelaskan, tujuan dirinya marah-marah memiliki alasan yang jelas. Ungkapan tersebut dinilai sebagai kebenaran.
Wanita paruh baya itu bahkan menuduh penumpang tersebut tidak menyukai Warga Negara Indonesia (WNI). Menurutnya, pria berbaju hitam itu tidak pantas berada di Indonesia.
"Kamu tinggal di daerah Indonesia. Kalau kamu bilang b*ngs*t, kembali ke Tiongkok, kembali kamu ke China, di sini adalah negeri. Kamu dapat gaji dari pajak rakyat Indonesia, ingat itu om!," imbau dia.
Ia mengakui banyak etnis dari China yang berkualitas. Namun penumpang tersebut dianggap bermasalah hanya perkara menjadi antek-antek bandar narkoba.
"Makanya dia masih berkeliaran. Itu yang saya inginkan. Ini reserse yang kurang ajar, yang tidak mau mendengar kebenaran," paparnya.
Seorang penumpang wanita menghampirinya agar ibu-ibu tersebut tidak gaduh. Pasalnya penumpang berbaju hitam itu semakin bingung melihat wanita paruh baya terus marah-marah kepadanya.
"Karena dia salah. Dia mengatakan orang yang salah itu baik. Orang yang benar dan baik dikatakan salah ini suatu (hal aneh). Jangan mengklaim, jangan men-judge seperti itu. Saya pengin mana buktinya kalau saya teroris, mana buktinya? Ayo buktikan sekarang," sebut dia sambil ngotot.
Sontak, video ibu-ibu berbaju hijau marah-marah kepada penumpang TransJakarta viral. Netizen langsung memberikan beragam reaksi atas kejadian tersebut.
"Kayaknya si ibu punya masalah kejiwaan nggak sih? Kalau normal, nggak mungkin gitu deh," ujar @rs.kyxxx.
"Semua orang dia bilang reserse," ketawa @iirmxxx.
"Ini yang ibu-ibu tidak fantas itu kan, yang di eskalator?," tanya @ulfaxxx.
Momen Ibu-ibu Berbaju Hijau Mengamuk di Eskalator Viral
- Istimewa
Sebelumnya, ibu-ibu tersebut memang terekam adu mulut di eskalator salah satu mal. Video aksi marah-marahnya di eskalator viral di media sosial.
Saat mengamuk di eskalator, ibu-ibu itu mengenakan pakaian yang serupa ketika berada di TransJakarta. Kala itu ia menuding perekam sebagai reserse.