news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kades Sabajaya dan Dedi Mulyadi.
Sumber :
  • Kolase tvOnenews.com / YouTube Kang Dedi Mulyadi

Mengaku Khawatir ke Dedi Mulyadi, Kades Sabajaya Ungkap Narasi Medsos Bikin Kasus Ustaz Karawang Melenceng

​​​​​​​Kades Sabajaya mengaku khawatir ke Dedi Mulyadi soal narasi medsos yang melencengkan kasus Ustaz Karawang, ini fakta sebenarnya di balik kejadian tersebut.
Senin, 30 Maret 2026 - 02:54 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Narasi yang beredar di media sosial soal kasus Ustaz Karawang ternyata jauh dari fakta sebenarnya. Dedi Mulyadi pun angkat bicara setelah mendengar langsung penjelasan dari Kades Sabajaya yang mengaku khawatir karena informasi di medsos terus berkembang liar. Percakapan keduanya membuka fakta bahwa cerita yang viral justru melenceng dari kejadian asli.

Dalam pertemuan tersebut, Dedi Mulyadi menanyakan kondisi terkini AP, ustaz yang menjadi sorotan, serta keberadaan perempuan berinisial UM. 

Menjawab hal itu, Kades Sabajaya menjelaskan bahwa persoalan tersebut sebenarnya telah diselesaikan secara kekeluargaan melalui musyawarah di Polres.

“Ketika memang kita sudah musyawarah di Polres, ya sudah selesai secara kekeluargaan. Memang saya, atas nama pemerintah juga, karena tekanan dari warga juga kan kita tidak bisa menerima, karena dia kan punya titel itu kan, itu yang kita enggak bisa menerima,” ujar Kades Sabajaya.

Ia juga menegaskan bahwa hasil kesepakatan di tingkat desa adalah menolak kehadiran pihak yang terlibat untuk kembali ke wilayah mereka.

“Kita akhirnya satu desa menolak, tidak dibolehkan ke desa kami lagi, kembali lagi,” lanjutnya.

Saat ditanya mengenai proses hukum, Kades Sabajaya mengungkapkan bahwa kasus tersebut tidak dilanjutkan ke jalur hukum karena dinilai sulit dalam pembuktian.

“Tidak ada proses hukum. Karena kalau proses hukum pembuktiannya panjang, itu susah di KUHP pidananya untuk membuktikannya,” jelasnya.

Menanggapi adanya dugaan penganiayaan, Dedi Mulyadi kembali menggali informasi lebih dalam. Kades Sabajaya pun menyebut bahwa pihak keluarga korban memilih untuk tidak memperpanjang persoalan tersebut.

“Nah, saya sudah berbicara dengan para keluarga. Dari pemerintahan itu ayo mengikuti keinginan dari pihak keluarga. Ternyata dari pihak keluarga diam semua. Terus ada mamangnya juga, ‘sudahlah, enggak usah,’” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa korban pemukulan juga tidak melanjutkan perkara tersebut atas saran keluarga.

Kades Sabajaya juga mengaku belum mengetahui secara pasti keberadaan UM saat ini. Informasi yang diterimanya menyebut bahwa UM berada di wilayah Cikarang, tinggal bersama keluarga.

“Saya belum ngobrol dengan si UM ini, belum tahu sekarang di mana. Katanya ada di mamangnya di daerah Cikarang,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pihaknya sebenarnya telah membuka peluang jika keluarga ingin menempuh jalur hukum, termasuk terkait dugaan penganiayaan hingga unsur perencanaan.

“Jadi memang saya sudah sampaikan, silakan dari pihak keluarga maunya bagaimana. Apakah mau diproses hukum soal penganiayaan. Ini kan sama saja penculikan juga, sudah direncanakan. Saya silakan,” ujarnya.

Namun pada akhirnya, pihak keluarga memilih menyelesaikan persoalan tersebut tanpa proses hukum.

“Tapi pihak keluarga, ada mamangnya sebagai perwakilan, ya sudahlah yang penting kita sudah selesai semua,” tambahnya.

Di tengah penyelesaian tersebut, Kades Sabajaya justru mengaku khawatir dengan dampak yang ditimbulkan dari media sosial.

“Yang khawatir ini kan yang menimbulkan ramainya ini medsos ini sampai sekarang,” katanya.

Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa narasi di media sosial memang sering kali berbeda dengan fakta di lapangan.

“Ya ramai kan tujuannya kalau di medsos itu. Ini pentingnya saya mengundang. Kalau di medsos itu seolah-olah ini kedapatan lagi melakukan perzinahan, kan begitu,” ujar Dedi Mulyadi.

Ia menjelaskan bahwa cerita yang berkembang di media sosial menggambarkan seolah-olah peristiwa terjadi secara langsung saat itu juga.

“Kedapatan lagi melakukan perzinahan kemudian ketahuan oleh warga, diintip. Cerita medsos mah kan begitu. Sebelumnya sudah diintip, divideokan sampai menuju rumah,” lanjutnya.

Namun, menurut Dedi Mulyadi, fakta sebenarnya berbeda dari narasi yang viral.

“Padahal yang sebenarnya adalah peristiwa pengakuan bahwa yang bersangkutan pernah melakukan selama dua tahun ke belakang, tetapi tidak waktu itu. Nah, kemudian pemukulan dilakukan disebabkan karena diteriaki bahwa pelaku ini dianggap maling. Bukan urusan sesuai dengan tuduhan di media sosial,” tegasnya.

Percakapan antara Dedi Mulyadi dan Kades Sabajaya ini sekaligus meluruskan berbagai informasi yang beredar. Kasus yang semula ramai diperbincangkan ternyata memiliki kronologi yang berbeda dari narasi yang berkembang di media sosial.

Dengan klarifikasi ini, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menerima informasi, terutama yang viral di medsos, agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu sesuai fakta.

(anf)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:52
05:26
04:52
09:49
01:22
08:38

Viral