news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.
Sumber :
  • YouTube Kang Dedi Mulyadi

Dengan Nada Tinggi, Dedi Mulyadi Sentil Kumuhnya Lingkungan SMA Negeri di Subang: Akui Kesalahan

​​​​​​​Dedi Mulyadi sentil keras kondisi kumuh SMA Negeri di Subang. Ia tegur pihak sekolah dan dorong kesadaran kebersihan serta rasa inisiatif membersihkan.
Kamis, 2 April 2026 - 06:10 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Kunjungan Dedi Mulyadi ke sebuah SMA Negeri 2 Subang mendadak memanas. Dengan nada tinggi, ia menyoroti kondisi lingkungan sekolah yang dinilai masih kumuh meski bagian depan terlihat sudah dirapikan. Teguran keras pun langsung dilontarkan di hadapan pihak sekolah.

Dalam sidak tersebut, Dedi Mulyadi menilai kebersihan sekolah belum menjadi prioritas utama. Ia menegaskan bahwa tampilan depan yang rapi tidak cukup jika area lain masih terlihat kotor dan tidak terurus.

“Sekolah ini depannya sudah dirapihin, tapi jorok,” tegas Dedi Mulyadi dalam tayangan YouTube pribadinya (1/4/2026).


Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat. (Sumber: YouTube Kang Dedi Mulyadi)

Saat kepala sekolah mencoba memberikan penjelasan, Dedi langsung memotong dengan nada tegas. Ia mempertanyakan inisiatif pihak sekolah dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Udah, jangan ngebantah, Pak. Yang bersihin itu siapa? Ada enggak inisiatif kepala sekolah bersihin halaman?” ujarnya.

Kepala sekolah sempat menjawab bahwa siswa membersihkan lingkungan setiap hari. Namun Dedi Mulyadi menolak alasan tersebut dan menyebut kenyataan di lapangan berbeda.

“Enggak ada, Pak. Saya tiap hari sini. Itu yang beresin siapa? Halte. Saya yang ngecat sendiri, Pak. Udah, Pak. Jangan bantah. Itu loh yang ngeberesin itu saya, Pak,” katanya.

Lebih lanjut, Dedi menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi pelopor dalam hal kebersihan dan kepedulian lingkungan. Ia juga mengingatkan pentingnya mengakui kekurangan sebagai langkah awal perbaikan.

“Maksud saya sekolah harus jadi pelopor lingkungan kebersihan. Dengan saya jangan suka nyangga. Akui sebuah kesalahan. Kalau kumuh ya kumuh, kan tujuannya membenahi,” ucapnya.

Ia juga menyindir kurangnya inisiatif dari pihak sekolah dalam menjaga fasilitas yang ada. Menurutnya, perubahan justru terjadi setelah dirinya turun tangan langsung.

“Jangan tinggi, saya lebih tinggi lagi. Dari awal kumuh, kapan berubah? Setelah saya benahin. Ada enggak inisiatif selama ini?” lanjut Dedi.

Dalam peninjauan tersebut, Dedi Mulyadi juga menunjukkan beberapa titik yang menurutnya masih memprihatinkan. Ia bahkan menyebut bahwa kebersihan di beberapa area justru dilakukan oleh timnya sendiri.

“Yang ngebersihin di situ siapa? Anak-anak saya, Pak. Sampai ngangkat sampah saya diam. Saya lihatin ada enggak inisiatif? Enggak ada. Ada sekali pasang, pakai TikTok saya,” katanya.

Menurut Dedi, kebersihan bukan sekadar tampilan, tetapi bagian dari pendidikan karakter. Ia menegaskan bahwa sekolah harus mampu menanamkan kepekaan terhadap lingkungan kepada para siswa.

“Itu kan kumuh tuh halte itu. Sekarang sudah bersih. Maksud saya sekolah itu ngajarin peka pada lingkungan, berinisiatif, bergerak. Kebersihan itu adalah standarisasi,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa hasil pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga kemampuan siswa dalam menghadapi masalah nyata di lingkungan sekitar.

“Jadi pendidikan output-nya bukan hanya akademis. Output-nya adalah orang-orang yang peka terhadap lingkungan. Jadi jangan terus bantah seolah-olah paling benar,” tegasnya lagi.

Tak hanya memberi teguran, Dedi Mulyadi juga mengambil langkah konkret. Ia memberikan bantuan dana untuk memindahkan pos satpam yang dinilai kurang layak dan memperbaiki area sekolah agar lebih tertata.

Saat berkeliling ke area lain, Dedi masih menemukan fasilitas yang tidak terawat, seperti tong sampah usang dan wastafel yang berkerak. Hal ini semakin menguatkan kritiknya terhadap minimnya inisiatif kebersihan.

“Saya tuh enggak berani masuk ke dalam karena saya hanya ngasih contoh aja. Luarnya saya bikin kinclong. Ngikut enggak sih yang di sekolah?” ujarnya.

Ia mengaku sengaja menunggu adanya inisiatif dari pihak sekolah sebelum turun tangan lebih jauh, namun hasilnya belum sesuai harapan.

“Saya pengin lihat ada inisiatif enggak. Oh, ternyata enggak. Nanti saya bandingkan sekolah dengan SMK,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi juga memberikan masukan terkait metode pembelajaran. Ia mendorong para guru untuk lebih kreatif dalam mengembangkan ilmu menjadi praktik nyata.

“Lihat tuh, ada guru biologi, kimia, fisika. Coba guru kimianya bikin bagaimana plastik jadi bahan bakar. Guru biologinya ubah daun jadi pupuk organik. Pelajarannya itu aja di sekolah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa nilai akademis harus mampu diubah menjadi produk yang bermanfaat.

“Kalau akademis semua orang biasa. Tetapi bagaimana nilai akademis ini berubah menjadi produk?” ujarnya.

Menutup sidaknya, Dedi kembali menegaskan alasan di balik nada tingginya saat menegur pihak sekolah. Ia mengaku ingin mendorong perubahan nyata, bukan sekadar formalitas.

“Ini kan, kenapa anak-anak tidak digerakin pagi-pagi bersihin? Saya tuh enggak mau ngada-ngada. Makanya tadi nada saya tinggi, Pak,” pungkasnya.

(anf)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:41
01:15
01:16
01:29
10:52
04:13

Viral