- YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo
Nina yang Bayinya Nyaris Tertukar di RS Hasan Sadikin Bandung Ungkap Banyak Kejanggalan, Akhirnya Hal ini Dibuka
tvOnenews.com - Kisah nina yang bayinya nyaris tertukar di RS Hasan Sadikin Bandung mendadak viral dan bikin publik geger.
Dalam pengakuannya, nina mengungkap sederet kejanggalan yang terjadi di RS Hasan Sadikin Bandung hingga membuatnya trauma. Insiden ini pun memicu banyak pertanyaan soal keamanan prosedur di rumah sakit tersebut.
Kasus yang menimpa Nina Saleha (27) ini bermula saat ia menjalani persalinan di RS Hasan Sadikin Bandung.
Nina Saleha. (Sumber: YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo)
Namun, momen bahagia berubah menjadi trauma mendalam ketika bayinya hampir tertukar akibat dugaan kelalaian prosedur rumah sakit.
Menurut pengakuan Nina, gelang identitas bayinya justru digunting dan diberikan kepada orang lain.
Kesalahan fatal ini membuat bayinya nyaris dibawa pulang oleh orang asing yang tidak dikenal saat berada di ruang perawatan.
Dalam podcast Curhat Bang Densu pada 15 April 2026, Nina tak kuasa menahan emosinya. Ia bahkan terlihat menangis saat menceritakan kembali kejadian tersebut.
“Kenapa sedih?” tanya Denny Sumargo kepada Nina.
“Sedih atuh. Ya kan kalau misalkan enggak ketemu kan anak saya gitu kan enggak ketemu misalkan, terus susternya cuma cukup bilang mohon maaf, Bu. Terus anak bilangnya kalau misalkan gitu ya, Pak, bilangnya gini, iya Teh kan saya sudah titipin ke saudara Teteh, kata Teteh kalau misalkan itu terjadi gitu ya, Pak,” ujar Nina.
“Terus enggak kebayang gitu anak saya hilang, Pak. Enggak ketemu sampai sekarang,” lanjutnya.
Kuasa hukum Nina, Bu Mira, juga mengungkap betapa kritisnya situasi saat itu.
“Karena dia dari ruangan itu hanya berapa langkah ke lift, Bang. Jadi dia pikirnya, ‘Wah, kalau saya telat sudah keluar lift, sudah enggak tahu,’” ujar Bu Mira.
Bu Mira dan Nina Saleha. (Sumber: YouTube Denny Sumargo)
Situasi tersebut semakin menegangkan ketika dikaitkan dengan berbagai kasus penculikan anak yang pernah terjadi.
“Karena banyak sekali kasus-kasus kayak begitu anak enggak kembali lagi, kan? Bukan hanya masalah anak masih usia segitu, anak yang sudah agak lumayan 1–2 tahun lagi main di luar diculik,” kata Denny Sumargo.
“Kamu pernah dengar-dengar berita anak diculik juga ya? Itu bikin tambah takut ya. Jadi intinya kamu kebayang ke mana-mana tuh kalau sampai waktu itu anak aku sudah enggak tahu di mana,” lanjutnya.
“Terus kita mau nyari ke mana, kan orang banyak,” jawab Nina.
Saat ditanya apakah ia mencurigai adanya hal yang tidak beres, Nina menjawab singkat, “Iya.”
Kecurigaan tersebut semakin menguat setelah Nina dan tim kuasa hukumnya menerima banyak pesan dari masyarakat.
“Ya, kita pikirkan ya, Bang, dengan datang dengan komunikasi Pak Gubernur KDM itu, terus ada permintaan maaf dari RSHS itu sudah oke lah dia gitu, kan. Ternyata di dia saya tanya belum ada kesepakatan damai apa-apa, belum ada kejelasan, jadi hanya permintaan maaf,” jelas Bu Mira.
“Nah, di situ dia mulai berpikir mungkin saya belum puas, saya masih pengin tahu ada apa dengan itu. Ditambah setelah dia speak up, DM banyak ke dia dan ke saya juga ada,” lanjutnya.
“Apa itu?” tanya Denny Sumargo.
“Isinya, ya, banyak sekali persoalan tentang bayi di rumah sakit itu di masa-masa lalu. Bahkan ada yang tahun 82 pun menyatakan bahwa ada saudaranya yang kehilangan bayi di situ dan tidak tertelusur,” ungkap Bu Mira.
“Oh, ada catatan-catatan seperti itu dari testimoni orang di DM ya,” ujar Denny.
“Iya. Tambahlah dianya sudah, dia masih syok. Akhirnya ini juga masukan bagi tim kita. Wah, ini mungkin gerbang buat kita menelusuri ada peristiwa besar apa, ya kan, Bang?” tambah Bu Mira.
“Waduh seram ya. Maksudnya ngerti kan? Saya enggak tahu ya, yang nonton nangkap enggak dia, ya,” kata Denny.
Merasa dirugikan dan mengalami trauma mendalam, Nina akhirnya mengambil langkah tegas. Pada 13 April 2026, ia resmi melayangkan somasi kepada pihak RS Hasan Sadikin Bandung.
Tim kuasa hukum Nina, Krisna Murti, menjelaskan tuntutan yang diajukan kepada pihak rumah sakit.
Krisna Murti. (Sumber: YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo)
“Tolong dicatat. Permintaan kita tuh ada beberapa hal, kan. Pertama kita bilang kita ingin melihat CCTV itu. Itu permintaan kita kepada rumah sakit, ya kan, bahwa dibuka ya kan seperti apa,” ujar Krisna Murti.
“Lalu yang kedua kita bilang orang yang disebut oleh klien kita itu tercatat tidak di rumah sakit sebagai apa dia gitu loh. Apakah dia betul-betul pasien yang mengantar anaknya sakit ataukah apa, kita bilang begitu kan untuk mencari tahu,” lanjutnya.
“Lalu kita bilang kita juga dimintakan tim, ya kan, kalau perlu dites DNA lagi, ya kan, hubungan antara anak ini dengan ibunya. Saya bilang untuk memastikan bayi ini betul-betul anaknya daripada klien kami,” tambahnya.
Saat ditanya apakah pihak rumah sakit langsung memberikan rekaman CCTV, jawabannya justru mengejutkan.
“Enggak. Kan mereka bilang kita akan lapor dulu ke Pak Direksi. Oke, kalau gitu kita kasih surat resmi saja, deh, kalian jawab, deh,” ungkap Krisna Murti.
“Berarti bentuknya somasi?” tanya Denny Sumargo.
“Iya. Kita bilang kita kasih surat resmi saja karena kita enggak bisa ketemu direksi. Kita kasih surat resmi, kalian jawablah dalam waktu 3 hari,” tegasnya.
Kasus Nina kini menjadi perhatian luas publik. Banyak pihak menunggu transparansi dari RS Hasan Sadikin Bandung, terutama terkait rekaman CCTV dan identitas orang yang hampir membawa bayi tersebut.
Hingga kini, Nina masih berjuang mencari kejelasan demi memastikan keselamatan dan kebenaran atas apa yang terjadi pada buah hatinya.
(anf)