- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Tertipu Arisan Bodong Rp50 Juta, Hilfa Menangis di Hadapan Dedi Mulyadi dan Dapat Akses Pinjaman Mikro
Dedi Mulyadi juga menyoroti budaya mudah percaya yang kerap menjadi celah penipuan.
“Jadi orang Sunda itu mudah percaya, akhirnya mudah ketipu. Mudah ketipu sama laki-laki, mudah percaya sama perempuan, mudah percaya sama janji manis urusan usaha,” katanya.
Saat ditanya jumlah kerugian, Hilfa mengaku awalnya kehilangan Rp30 juta. Namun, ia juga harus mengembalikan uang orang lain sebesar Rp20 juta.
“Iya, tapi kan ada uang orang lainnya harusnya aku balikin. Uang orang lainnya itu Rp20 juta,” ungkapnya.
“Jadi Rp50 juta ketipunya. Ya sebenarnya enggak terlalu gede. Kalau konsisten kerja kan bisa kebayar kecicil,” ujar Dedi Mulyadi.
Namun tekanan yang dialami Hilfa tak berhenti di situ. Ia mengaku terus ditagih oleh orang-orang yang menitipkan uang kepadanya.
“Suaminya enggak bantu dong menyelesaikan?” tanya Dedi Mulyadi.
“Enggak, Pak. Jadi suami itu katanya, ‘Maaf, enggak sanggup.’ Kata dia, ‘Kamu pergi aja ke luar negeri. Nanti dua tahun kamu balik lagi,’” ujar Hilfa sambil menangis.
Dedi Mulyadi pun menegaskan bahwa dalam sebuah keluarga, tanggung jawab seharusnya dipikul bersama.
“Dari sisi prinsip, memang laki-laki harus ikut menyelesaikan, karena sudah keluarga. Artinya harus bertanggung jawab, kesalahan istri juga laki-laki harus ikut menyelesaikan secara bersama,” tegasnya.
Meski kisahnya penuh luka, Hilfa akhirnya mendapat secercah harapan. Dedi Mulyadi menawarkan solusi konkret untuk membantu meringankan bebannya.
“Nanti aku kasih jalan. Kamu kerja dulu, nanti saya akan minta bantuan BJB kasih pinjaman lunak,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia menjelaskan skema bantuan yang bisa diakses Hilfa.
“Artinya gini, utangnya sekitar Rp20 juta misalnya, ya sudah nanti kasih pinjaman BJB misalnya Rp25 juta. Kemudian nanti dicicil selama sekian tahun, jadi ringan. Kredit mikro, aku nanti bantu,” jelasnya.
Tak hanya itu, Dedi Mulyadi juga mendorong Hilfa untuk kembali bekerja di dalam negeri.
“Nah, kemudian yang paling utama kerja. Ini sudah pengalaman. Di Bandung juga banyak garmen, tinggal lihat saja di aplikasi nyari kerja,” pungkasnya.