- Tim tvOnenews/Adinda Ratna Safira
Sambil Menahan Tangis, Kepala SAR Ungkap Situasi Mencekam Evakuasi Korban KA vs KRL: Rintihan itu Kami Dengar
tvOnenews.com - Tragedi tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) pukul 20.55 WIB menyisakan kisah pilu yang tak mudah dilupakan.
Insiden ini melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi dengan rangkaian KRL, menyebabkan sejumlah korban terjepit di antara material gerbong yang ringsek.
Dengan suara bergetar, Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana, mengungkapkan betapa rumit dan menegangkannya proses evakuasi yang berlangsung hingga berjam-jam.
- Istimewa
Ia menceritakan bagaimana tim penyelamat harus bekerja ekstra hati-hati untuk mengeluarkan korban yang terhimpit tanpa memperparah kondisi mereka.
Menurutnya, banyak korban ditemukan dalam kondisi tertumpuk dan terjepit material kereta.
Bahkan, sebagian korban yang masih hidup mengalami himpitan di bagian kaki, sehingga proses penyelamatan membutuhkan teknik khusus menggunakan alat ekstrikasi.
"Kami melihat memang ada tertumpuk, terhimpit, dan itu material kereta memang lumayan, kami pun mengevakuasi dengan kehati-hatian, dengan peralatan ekstrikasi yang ada itu juga perlu ketelitian, ini sebagian yang terjepit untuk yang hidup itu di kaki," kata Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana, saat datang sebagai bintang tamu di Program Pagi-pagi Ambyar, Trans TV.
- Antara
Tak hanya itu, situasi di lokasi kejadian disebut sangat kompleks. Lokomotif yang masuk ke dalam rangkaian kereta membuat struktur gerbong berubah dan menyulitkan akses tim SAR.
Di beberapa titik, korban bahkan berada di bawah tumpukan material, sementara di atasnya masih ada bagian kereta yang berpotensi runtuh.
Tim SAR pun memilih pendekatan bertahap. Mereka terlebih dahulu mengangkat material bagian atas untuk mencegah timpa tambahan, sebelum perlahan membuka ruang untuk mengevakuasi korban di bawahnya.
Desiana menegaskan, pihaknya berusaha keras agar proses evakuasi dilakukan tanpa tindakan amputasi.
Fokus utama adalah menyelamatkan korban dalam kondisi utuh, meski hal itu membuat proses menjadi lebih lama.
- Tim tvOnenews/Adinda Ratna Safira
"Kita mengusahakan untuk mengevakuasi dalam keadaan utuh ya, saya tidak mau ada yang diamputasi, kita usahakan semaksimal mungkin, jadi kita utamakan yang selamat, setelah itu baru kita fokus yang terhimpit, yang sudah naik delta atau meninggal dunia," lanjutnya.
Di tengah proses yang menegangkan itu, momen paling menguras emosi terjadi saat tim mendengar langsung rintihan korban.
Dengan nada yang masih terbawa haru, Desiana mengingat bagaimana para korban berjuang menahan rasa sakit.
“Jadi memang dari suasana itu, satu korban 'bu saya lelah' 'saya capek, sakit' gitu ya, jadi rintihan itu memang kami dengar, dan kita harus menguatkan gitu kan disitu, karena mereka memang harus dalam keadaan sadar disini,” tuturnya.
- Syifa Aulia-tvOne
Meski dalam kondisi terjepit dan kesakitan, para korban disebut tetap berusaha tenang. Bahkan, beberapa di antaranya masih sadar dan menyaksikan proses evakuasi korban lain di dekat mereka.
Tim medis pun terus dilibatkan untuk memastikan kondisi korban tetap stabil. Obat pereda nyeri, air minum, hingga makanan ringan diberikan agar korban memiliki energi selama proses penyelamatan berlangsung.
Proses evakuasi sendiri memakan waktu hingga 10 jam. Satu per satu korban berhasil dikeluarkan dari himpitan material, meski dengan tingkat kesulitan yang berbeda di setiap titik.
Desiana pun mengapresiasi ketahanan mental para korban yang masih hidup.
Menurutnya, selain kerja keras tim penyelamat, keberhasilan evakuasi juga tak lepas dari ketenangan dan kesabaran korban dalam menghadapi situasi kritis tersebut.
"Jadi saya juga apresiasi ini mentalnya kuat juga, fisiknya juga yang masih hidup ini, sepuluh jam kami selesai evakuasi semuanya, dan mereka tenang dan sabar, merintih itu iya," sambung Desiana. (asl)