- Instagram/@semuatentangkereta.id
Debat dengan Petugas KAI usai Kecelakaan Kereta, Bapak-bapak yang Viral Beri Kesaksian Momen Jelang KA Argo Bromo Tabrak KRL
Bagaimana Reaksi Bapak-bapak yang Marah ke Petugas KAI?
Tak berselang lama, bapak-bapak tersebut kembali muncul di ruang publik. Pria yang berdebat dengan petugas KAI diwawancarai oleh awak media untuk memberikan klarifikasinya.
Pernyataannya membuat warganet justru membela bapak-bapak tersebut. Ia berpendapat komunikasi antara pihak stasiun dan KAJJ tidak baik, bahkan dinilai cukup buruk.
Bapak-bapak itu mengetahui KRL yang tertemper taksi listrik. Pasalnya, petugas di KRL PLB kode 5568A telah menginformasikan insiden dialami KRL kode 5181.
"Ada informasi di dalam KRL, kereta jadi belum bisa diberangkatkan karena ada mobil yang keseret. Jadi, mau dievakuasi di stasiun ini," tuturnya.
Namun demikian, ia merasa heran kenapa KAJJ tetap menerabas di jalur yang sama. Akibatnya, gerbong wanita di KRL rangsek karena dihantam KA Argo Bromo.
"Anehnya, pihak dari stasiun sini enggak dikasih info, suruh tahan keretanya yang mau arah ke Jawa," jelasnya.
Ia menjelaskan kondisi sebelum KRL PLB kode 5568A ditabrak KA Argo Bromo. Kata dia, KAJJ arah Surabaya sudah menyembunyikan klakson dari jarak jauh.
Klason inilah membuat dirinya panik. Kepanikan itu mengarahkan untuk memutuskan keluar dari gerbong.
Pada akhirnya peristiwa tabrakan sesama kereta tidak terelakkan lagi. Ia menegaskan penumpang dalam KRL banyak yang terpental.
"Di gerbong tiga itu sudah jungkir balik semua, bahkan pada mental semua. Mendadak itu, bukan kencang lagi, sudah kayak rudal," tegasnya.
Pertanyakan Mitigasi KAI
Ia sangat menyesali terhadap tindakan pihak KAI. Padahal KAI seharusnya melakukan mitigasi agar segera mengevakuasi penumpang KRL.
KRL kode 5568A telah berhenti cukup lama di Stasiun Bekasi Timur. Namun, penumpang tetap dibiarkan menunggu yang justru menjadi malapetaka bagi mereka.
"Ini kan berhentinya lama itu tadi barusan. Kalau suruh keluar dulu, mungkin ya nyawa banyak yang selamat lah," paparnya.
Meski demikian, bapak-bapak berkepala plontos itu tidak mau perdebatan ini berlarut-larut. Ia juga enggan saling menyalahkan lantaran tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya musibah.