- Tangkapan Layar YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel
Pesona Ni Hyang Sukma Ayu, Putri Kesayangan Dedi Mulyadi Saat Kirab Mahkota Binokasih, Beri Pesan untuk Warga Sumedang
tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi tetapkan Kabupaten Sumedang menjadi lokasi awal perhelatan Milangkala Tatar Sunda.
Kang Dedi Mulyadi mengatakan bahwa keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan bukti fisik sejarah yang masih terjaga hingga kini.
Menurutnya, eksistensi Mahkota Binokasih menjadi bukti otentik menempatkan Sumedang berada di posisi sentral dalam sejarah Sunda.
“Penetapan berlandaskan karena Mahkota Binokasih itu di Sumedang. Jadi jejak sejarah yang ada dalam wujud itu di Sumedang. Kalau yang lain kan kebanyakan narasi, cerita. Saya ingin berangkat dari fakta, bukan mitologi,” ungkap Dedi Mulyadi pada kunjungannya ke Sumedang, Sabtu (2/4/2026).
- Tangkapan Layar YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel
KDM menilai Mahkota Binokasih merupakan kunci untuk memahami peradaban Sunda yang meliputi Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang Larang.
Sejarah telah mencatat adanya masa transisi penting saat pusat kekuasaan mengalami gejolak.
Pesan Ni Hyang Sukma Ayu untuk Warga Sumedang
Putri kesayangan Dedi Mulyadi, Ni Hyang Sukma Ayu menyampaikan pesan dihadapan warga Sumedang.
Saat KDM memberikan sambutan dalam acara Milangkala Tatar Sunda, Ni Hyang Sukma Ayu mengambil mic dari tangan sang ayah.
Dirinya menegaskan agar warga Sumedang tidak boleh berisik, sebab ia kini sedang berbicara.
“Ini bukan di rumah, ini lagi di luar. Balam mulutnya. Ni Hyang lagi bicara,” ujar Ni Hyang pada tayangan YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
- Tangkapan Layar YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel
Kemudian, Ni Hyang berpesan agar warga Jabar khususnya Sumedang untuk mengunjungi alam Jabar seperti sawah, danau, gunung, dan laut.
“Ayo ke sawah, ada belut, ada tutut. Yuk ke danau, ada lele, ada ikan patin. Yuk ke gunung, main di gunung, main perosotan. Ayo ke laut, ada hiu,” terang putri kesayangan Dedi Mulyadi itu.
Melihat tingkah Ni Hyang yang menggemaskan, sebagian warga yang menyaksikan turut senang dan terhibur.
Namun, sejatinya ada pesan yang ingin disampaikan oleh Ni Hyang Ayu. Kemudian, Dedi Mulyadi mencoba menerjemahkan apa yang dimaksud putrinya.
“Ni Hyang itu kenapa, kok anaknya seperti kesurupan?” kata KDM.
“Jadi Ni Hyang mengajak lagi katanya kita ini ke sawah. Apa sebabnya? Karena gunung harus berpohon (hutan). Kalau berpohon maka akan ada air. Kalau sudah ada air, maka akan punya saluran irigasi. Kalau sudah ada saluran air, maka akan ada genangan/kolam air. Akan punya sungai, akan punya bendungan. Sawah itu akan terairi. Kalau sawahnya sudah terairi, yuk kita ke sawah, mencari keong, mencari belut, mencari tutut, mencari lele, begitu kan benar?” sambungnya menjelaskan.
Lebih lanjut, kesurupan yang dimaksud Dedi Mulyadi kepada Ni Hyang bukan karena jin maupun setan.
Melainkan kemasukan yang berarti menyatu dalam filosofis Sunda mengenai penyatuan jati diri atau keselarasan dengan segala aspek lahiriah maupun batiniah seseorang.
“Oh, ternyata Ni Hyang itu 'kemasukan' (menyatu). Ada penyatuan antara diri dengan keagungan dirinya. Antara roh dan jasadnya. Antara hati dan rasanya. Antara mata dan penglihatannya, hidung dan penciumannya, lidah dan ucapannya, telinga dan pendengarannya. Antara hidup dan jiwanya, harta dan maknanya, ilmu dan amalnya, dunia dan alam akhiratnya. Mengerti?” jelas KDM.
(kmr)