- Ilustrasi AI/ChatGPT - YouTube/KANGDEDI MULYADI CHANNEL
Menangis di Hadapan KDM, Pedagang Kios Ungkap Detik-Detik Sebelum Kiosnya Hangus Terbakar saat Ricuh May Day Bandung
tvOnenews.com - Suasana haru menyelimuti pertemuan antara seorang pedagang kios korban kerusuhan May Day Bandung dengan Dedi Mulyadi (KDM).
Di hadapan orang nomor satu di Jawa Barat itu, Pak Nandang (60) tak kuasa menahan air mata saat menceritakan detik-detik sebelum kios miliknya hangus terbakar.
Kerusuhan terjadi saat peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei 2026 di kawasan Tamansari, Bandung.
Berdasarkan informasi, aksi yang semula berjalan damai berubah ricuh.
Sejumlah fasilitas umum dirusak, termasuk pos polisi dan kios kecil milik Pak Nandang di sekitar Jalan Cikapayang.
Kios sederhana itu selama ini menjadi sumber penghidupan Pak Nandang.
Ia menjual rokok, bensin eceran, hingga gas LPG 3 kilogram. Namun dalam sekejap, semuanya ludes dilalap api.
- Instagram @dedimulyadi71
Di hadapan Dedi Mulyadi, Pak Nandang mencoba mengingat kembali kejadian sore itu.
Ia mengaku awalnya tidak merasakan tanda-tanda mencurigakan.
“Saya biasa dagang sampai jam 5, Pak” tutur Pak Nandang, dilansir dari kanal YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL.
Menurutnya, situasi pada awal aksi May Day masih terlihat aman. Namun menjelang sore, muncul sekelompok orang yang tidak dikenal.
“Buruh bukan, pedagang bukan, mahasiswa bukan. Tidak orasi. Mereka datang saja, awalnya sekitar 10–20 orang, jam 4 lebih,” ungkapnya.
Kelompok tersebut awalnya hanya berkumpul tanpa melakukan tindakan apa pun. Karena itu, Pak Nandang tidak menaruh curiga.
Ia bahkan mengira mereka hanya anak-anak muda yang biasa berkumpul atau bermain musik.
- YouTube/KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Namun jumlah mereka terus bertambah hingga sekitar 40 orang. Suasana mulai terasa tidak nyaman, hingga akhirnya mereka bergerak meninggalkan lokasi ke arah Taman Dago.
“Setelah kios tutup, saya pulang ke rumah. Tapi sempat balik lagi lihat situasi, aman karena anak-anak itu sudah pergi,” jelasnya.
Ia pun pulang tanpa firasat apa pun. Hingga malam hari sekitar pukul 21.00 WIB, situasi berubah drastis.
“Pas jam 9, ada rame-rame, ada pembakaran pos polisi,” katanya.
Saat hendak mendekat, Pak Nandang tidak bisa menembus lokasi karena sudah diblokade massa. Ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
Ketika ditanya apakah ia memiliki firasat kiosnya akan dibakar, Pak Nandang menggeleng.
“Nggak ada, Pak,” jawabnya singkat.
Ia baru bisa mendekat setelah situasi mulai mereda. Namun yang dilihatnya justru membuat hatinya hancur.
“Kios saya sudah hangus,” ucapnya pelan.
- YouTube/KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Saat Dedi menanyakan perasaannya, Pak Nandang tak mampu lagi menahan tangis.
“Sedih,” katanya, sebelum akhirnya menangis di hadapan KDM.
Lebih menyayat hati, Pak Nandang mengaku modal usahanya selama ini bukan berasal dari dirinya sendiri.
Ia mendapat bantuan dari anggota kepolisian setempat yang membantu membangun kios sekaligus memberikan modal usaha hingga sekitar Rp20 juta.
Kini, semuanya habis tak tersisa.
Melihat kondisi tersebut, Dedi Mulyadi langsung memberikan bantuan. Ia melunasi utang-utang Pak Nandang sekaligus menawarkan pekerjaan tetap.
“Bapak mau kerja? Jadi petugas kebersihan di daerah situ, gajinya Rp4,2 juta,” ujar Dedi Mulyadi.
Tanpa ragu, Pak Nandang menyanggupi.
“Mau, Pak,” jawabnya.
KDM pun memastikan Pak Nandang akan diangkat sebagai petugas kebersihan di bawah naungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, lengkap dengan gaji tetap dan jaminan kesehatan.
“Bapak sudah menjadi pegawai PU Provinsi Jawa Barat. Gaji Rp4,2 juta, dapat asuransi kesehatan,” ujar KDM.
Tak hanya itu, ia juga memberikan bantuan tambahan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk ongkos makan dan uang yang bisa dikirimkan kepada keluarga Pak Nandang. (gwn)