- Kolase tvOnenews.com / tangkapan layar Youtube Merry Riana / ChatGPT AI
Apa yang Paling Ditakuti Sherly Tjoanda? Dengan Suara Bergetar, Gubernur Malut Ungkap Hal Ini
tvOnenews.com - Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, belakangan menjadi sorotan publik berkat gaya kepemimpinannya yang dinilai berbeda.
Di tengah dominasi pemimpin laki-laki di tingkat daerah, ia tampil dengan pendekatan yang lebih langsung—turun ke lapangan, mendengar keluhan masyarakat, dan berupaya menyelesaikannya dengan cepat.
Melalui berbagai unggahan di media sosial, Sherly kerap memperlihatkan aktivitasnya saat berinteraksi dengan warga.
Sejumlah momen bahkan menjadi viral, termasuk ketika siswa secara langsung menyampaikan keluhan kepadanya.
- Instagram @s_tjo
Dalam salah satu kunjungan ke sekolah di Ternate, Maluku Utara, Sherly melakukan inspeksi mendadak dan menegur kepala sekolah yang dinilai tidak akurat dalam memberikan data.
Pada kesempatan yang sama, dua siswa memanfaatkan kehadiran Gubernur Malut untuk menyampaikan keluhan mereka. Bahkan, beberapa siswa secara terbuka mengungkapkan bahwa ada guru yang jarang hadir mengajar di kelas.
Dalam sebuah acara bincang di salah satu tv swasta, Sherly ditanya mengenai ketakutan terbesar dalam hidupnya. Pertanyaan tersebut membuat ekspresinya berubah, tampak emosional, sebelum akhirnya menjawab:
"Hal yang paling ditakuti ya kehilangan pasangan hidup, saya sudah mengalami itu. Jadi ya selanjutnya apapun dari itu, saya sudah mengalami dan menghadapi ketakutan terbesar saya," ungkap dengan suara bergetar dilansir dari kanal Youtube Metro TV.
Pengalaman kehilangan itu merujuk pada wafatnya sang suami, Benny Laos, yang meninggal dunia akibat kecelakaan speedboat yang terbakar dan meledak pada 12 Oktober di Pelabuhan Regional Bobong, Pulau Taliabu.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam kehidupan Sherly. Ia kemudian menggantikan mendiang suaminya sebagai calon gubernur Maluku Utara dalam Pilkada 2024, didampingi Sarbin Sehe, dengan dukungan koalisi delapan partai politik.
Dalam wawancara yang berbeda, ia ditanya mengenai latar belakang keterlibatannya di dunia politik. Akbar Faizal mengajukan pertanyaan langsung:
"Anda sadar kalau kehadiran Anda di ruang politik itu adalah sebuah kecelakaan?" tanya Akbar Faizal dilansir kanal Youtube pribadinya.
Sherly menjawab dengan jujur:
"Saya sadar," ucap Gubernur Malut itu.
Ia kemudian menjelaskan bahwa keputusannya terjun ke politik bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal, melainkan dipicu oleh situasi mendesak setelah kepergian suaminya:
"Dengan berhasil, bagi saya, masuk di dunia politik ini bukan karena saya mau masuk ke dunia politik ya, karena ini ada kecelakaan 12 Oktober, kemudian ada suatu perjuangan yang harus dilanjutkan, karena saya, anak-anak, relawan, para partai politik yang saat itu sedang berjuang tinggal 42 hari lagi,"
Menurutnya, dorongan utama adalah untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh Benny Laos:
"Kita menolak untuk kalah, kita menolak bahwa mimpi besar seorang Benny Laos, yang kita kenal semua, selesai begitu saja,"
Selain itu, dukungan keluarga—terutama anak-anaknya—menjadi faktor penting dalam memperkuat tekadnya. Ia ingin memastikan bahwa nilai, harapan, dan cita-cita yang diperjuangkan suaminya tetap berlanjut.
"Untuk itu saya melanjutkannya, dan waktu itu targetnya pendek untuk menang, ketika sudah menang, saya harus mewujudkan janji politiknya,"
Dalam menjalankan perannya sebagai gubernur, Sherly mengaku banyak mengadaptasi program-program yang sebelumnya berhasil diterapkan saat Benny Laos menjabat sebagai Bupati Morotai periode 2017–2022.
- Kolase tvOnenews.com/Instagram @s_tjo
Program-program tersebut mencakup pendidikan gratis, layanan kesehatan gratis, renovasi rumah, serta pembangunan infrastruktur.
"Janji politik itu kita racik bersama, sebenarnya hanya me-mirroring apa yang sudah berhasil dilakukan di Morotai, dari pendidikan gratis, kesehatan gratis, bagi-bagi renov rumah, infrastruktur, intinya dengan APBS seadanya, tetapi kebutuhan dasar manusia itu negara hadir. Itu dilakukan berhasil di Morotai selama lima tahun,"
Kini, ia memandang tugas utamanya adalah memastikan implementasi program tersebut dapat berjalan di seluruh wilayah Maluku Utara:
"Itu almarhum mau mengimplementasikannya di sembilan kabupaten/kota, tugas saya sekarang bagaimana itu bisa berhasil,"