Awalnya Ogah Masuk Politik, Ini Kisah Sherly Tjoanda Jadi Gubernur Malut Diiringi Tangis Usai Suami Meninggal
- Tangkapan layar Youtube Merry Riana
tvOnenews.com - Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, mengungkapkan bahwa dirinya sempat menolak tawaran untuk menggantikan sang suami dalam kontestasi politik.
Namun, di tengah dominasi kepemimpinan laki-laki di tingkat daerah, ia kini justru tampil menonjol dengan gaya blusukan—turun langsung ke masyarakat untuk mendengar keluhan dan mencari solusi secara cepat.
Aktivitasnya tersebut kerap dibagikan melalui media sosial dan beberapa di antaranya menjadi viral. Salah satu momen yang menarik perhatian publik adalah ketika seorang siswa berani menyampaikan keluhan langsung terkait guru yang jarang masuk kelas saat inspeksi mendadak di Ternate.
- Instagram @s_tjo
Perempuan berusia 43 tahun itu kemudian menceritakan bahwa keputusannya terjun ke dunia politik tidaklah mudah, terutama setelah peristiwa kecelakaan pada 12 Oktober yang menewaskan suaminya, Benny Laos.
"Saya awalnya menolak," tuturnya dilansir dari kanal Youtube Akbar Faizal Uncensored.
Ia menjelaskan bahwa pada malam kejadian tersebut, salah satu pimpinan partai mendatanginya dan meminta dirinya untuk melanjutkan perjuangan sang suami sebagai calon Gubernur Malut.
"Malam 12 Oktober, waktu itu Ketua Partai Gelora, sebenarnya waktu itu Ketua PPP, tapi ketua PPP menjadi korban juga. Jadi tinggal ketua partai gelora, datang bertemu dengan saya mengatakan bahwa dia sudah telepon dengan teman-temannya, saya yang harus melanjutkan," ungkapnya.
Namun saat itu, ia dengan tegas menolak karena merasa dunia politik masih sangat didominasi laki-laki.
"Saya bilang,'saya nggak mau, itu dunia yang sangat patriarki, sangat laki, saya ini perempuan. Saya juga ingat di rumah sakit ketika telpon Pak Wagub,'bahwa pikir aja deh, saya udah enggak mau ngurus ini lagi, saya mau pulang liat anak-anak saya," tuturnya.
Dalam kondisi emosional, ia bahkan sempat berjanji kepada anak-anaknya untuk kembali ke kehidupan keluarga.
"Saya telpon anak-anak saya,'Dont worry, Mami akan pulang, and then Mami enggak kemana-mana lagi, itu yang terjadi 12 Oktober," tuturnya.
Keputusan untuk maju baru dipertimbangkan beberapa hari kemudian, setelah proses pemulangan jenazah dan pertemuan dengan para petinggi partai di RSPAD.
Load more