- Kolase tvOnenews.com/ Instagram @s_tjo
Momen Tak Terlupakan Sherly Tjoanda di Obi dan Taliabu: Saksi Bisu Tragedi Benny Laos dan Titik Balik Jadi Gubernur
Meski begitu, warga mengungkapkan keluhan mereka terkesan menjadi suatu hal yang biasa dihadapi. Namun, bagi Sherly hal tersebut sangat tidak wajar untuk diterima warganya.
Bahkan, ibu-ibu sudah tidak menangis saat menceritakan kesulitan ini.
Tragedi Kecelakaan Benny Laos dan Sherly Tjoanda
- Instagram @s_tjo
Selain kunjungan ke Pulau Obi, pengalaman di Pulau Taliabu juga tidak akan terlupakan bagi Sherly Tjoanda.
Sebab, Pulau Taliabu menjadi saksi bisu meninggalnya Benny Laos saat kampanye untuk menjadi Gubernur Maluku Utara.
Minimnya fasilitas kesehatan di Taliabu kini dialami oleh Sherly dan Benny. Tak hanya itu, infrastruktur yang kurang memadai juga menjadi kesulitan warga.
Hal ini sangat dirasakan ibu anak tiga ini saat akan menyelamatkan nyawa suaminya.
“Kemudian aku kecelakaan lah di Bobong, Taliabu. Tidak ada apapun disitu, saya bisa mendatangkan SOS, saya bisa mendatangkan apapun. Tetapi kemudian tidak bisa karena tidak ada airport,” terang Sherly.
“Saya waktu lihat Almarhum itu Almarhum masih bernapas. Dengan segala keterbatasan, nggak punya oksigen, pakai alat pompa yang warnanya sudah cokelat. Para dokternya itu berbaik hati di push sampai 3-4 jam. Ketika Almarhum sudah tidak ada pun mereka tetap push, karena saya menolak untuk menerima (meninggal). Pokoknya push saja terus. There is nothing that I can do,” lanjutnya.
Tak hanya itu, istri Mantan Bupati Morotai ini juga tidak mendapatkan painkiller ketika menjadi korban luka dalam kecelakaan tersebut.
“Saya tidak punya painkiller, 24 jam saya menunggu sampai besok dijemput Helikopter dalam kebakar level 2, 18 persen terbakar dari lutut sampai kaki tidak ada painkiller. Dia hanya menyuci lukaku dengan NaCl, Panadol pun tidak ada. Staf-ku dijahit tanpa dibius pakai tali senar. Itu di alami sama mereka setiap hari selama bertahun-tahun. Kabupaten itu sudah (berdiri) 10 tahun,” pungkasnya.
Pengalaman ini yang membuatnya untuk memberanikan diri melangkah menuju kursi Gubernur Malut.
Dirinya merasa bahwa ia berani untuk bersuara demi kesejahteraan warga di kampung halaman suaminya.