news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Gubernur Malut, Sherly Tjoanda Laos (tengah) usai Musrenbang RKPD 2027.
Sumber :
  • Pemprov Malut

Pertumbuhan Ekonomi Malut Tak Dirasakan Warga, Sherly Tjoanda Bongkar Biang Keroknya: Puluhan Tahun

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menyoroti persoalan ekonomi yang dinilai masih menjadi beban besar bagi masyarakat di wilayahnya. Ternyata masalahnya...
Jumat, 15 Mei 2026 - 20:28 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menyoroti persoalan ekonomi yang dinilai masih menjadi beban besar bagi masyarakat di wilayahnya.

Meski Malut memiliki hasil panen dan tangkapan ikan yang melimpah, masyarakat disebut belum benar-benar merasakan dampak pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Hal itu disampaikan Sherly Tjoanda melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @s_tjo.

Menurut Sherly, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara sebenarnya berada di angka yang cukup tinggi, bahkan mendekati 20 persen.

Namun di sisi lain, masyarakat masih mempertanyakan di mana letak hasil pertumbuhan tersebut karena kehidupan sehari-hari mereka belum banyak berubah.

“Pertumbuhan ekonomi kita di angka sekitar 20%, tetapi selalu yang menjadi pertanyaan dan kebiasaan masyarakat adalah pertumbuhan ekonomi itu ada di mana, mereka tidak terlalu merasakan itu,” ujar Sherly Tjoanda.

{{ https://www.instagram.com/reel/DYQmxurgq9X }}

Sherly menjelaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada kurangnya hasil bumi maupun hasil laut. Ia menegaskan para petani dan nelayan sebenarnya memiliki produksi yang cukup.

Namun persoalan besar muncul karena akses jalan dan konektivitas antardaerah masih buruk.

"Mereka tidak kekurangan hasil. Mereka hanya kekurangan akses," tulis Sherly Tjoanda.

Akibatnya, hasil panen dan tangkapan ikan sulit didistribusikan dengan cepat ke pasar.

“Hasil panen ada. Ikan ada. Tapi tanpa jalan yang layak, tanpa konektivitas yang kuat, hasil itu tertahan di desa, harga jatuh di petani - Nelayan, mahal di pasar,” tulis Sherly.

Kondisi tersebut membuat harga hasil bumi justru jatuh di tingkat petani dan nelayan, sementara harga barang di pasar menjadi mahal.

Menurut Sherly, situasi inilah yang secara tidak langsung ikut memicu tingginya angka kemiskinan di Maluku Utara.

Karena itu, ia menilai pembangunan konektivitas menjadi solusi paling penting untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

Ia juga memaparkan bahwa saat ini kondisi infrastruktur jalan di Maluku Utara masih memprihatinkan.

Berdasarkan data yang dimilikinya, total panjang jalan provinsi di 10 kabupaten dan kota mencapai sekitar 6.300 kilometer.

Namun sekitar 1.900 kilometer atau hampir 30 persen di antaranya mengalami kerusakan berat.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:06
05:01
05:14
03:43
03:22
03:33

Viral