- YouTube/GubSherly
Gubernur Malut Sherly Tjoanda Ungkap Perasaannya usai Diterima Suku Pedalaman: Ini Pertama Kali Aku Ketemu
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Maluku Utara (Malut), Sherly Tjoanda Laos mengungkap perasaan mendalamnya. Hal itu terjadi seusai menyapa masyarakat adat di pedalaman Pulau Halmahera.
Sherly Tjoanda bersama Kementerian Sosial (Kemensos) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Malut belum lama ini mengunjungi Suku Togutil di Desa Koli, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Rabu (6/5/2026).
Sherly Tjoanda dan Kemensos menyerahkan bantuan sosial. Di momen ini, Gubernur Malut itu juga ingin mengetahui seperti apa kondisi dan kehidupan dijalani masyarakat Suku Togutil.
Sherly Tjoanda melihat ekspresi trauma dari warga saat menawarkan program pembangunan rumah layak huni (RLH). Ia berjanji pemerintah akan menyejahterahkan mereka.
"Kita bikin lebih bagus daripada rumah sebelumnya," ujar Sherly Tjoanda dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube GubSherly, Minggu (17/5/2026).
- Instagram/@s_tjo
Kedatangan Sherly tidak memposisikan dirinya sebagai Gubernur. Ia ingin mempelajari bagaimana bisa belajar menjadi manusia.
Sherly terharu saat baru memasuki desa. Mereka yang kerap disebut "orang dalam" memberikan sambutan dengan penuh tatapan yang jujur tanpa berbicara banyak kata.
Istri mendiang Benny Laos itu merasa langsung mendapat sebuah kehormatan. Ia disambut dengan penuh ceria.
Di balik itu, tak sedikit warga menunjukkan rasa traumanya. Mereka menjalani kehidupan sederhana dan hanya mengandalkan hutan selama bertahun-tahun.
Kunjungan itu tentu memberikan penawaran serius. Pemprov Malut akan membangun perumahan berupa RLH seluas 5 hektare.
"Kita mau bikin, mau kasih lahan 5 hektare buat mereka, mau bikin perumahan nanti modelnya mereka setuju dulu supaya mereka bisa tinggal menetap," terangnya.
Sherly menyampaikan kepada mereka bahwa, pemerintah bekerja sama dengan Kemensos untuk memberikan bantuan makanan untuk kebutuhan setiap bulan.
"Nanti kalau sudah di pemukiman diberikan bantuan beras bulanan," tambahnya.
Pemerintah juga akan membangun infrastruktur jalan. Selain itu, hunian setiap masyarakat adat di Taman Nasional Aketajawe-Lolobata itu akan dipasang lampu untuk penerangan hingga kebutuhan listrik.
Sherly menjamin gizi anak-anak dan kesehatan bagi masyarakat Suku Togutil. Ia juga menginginkan segera adanya perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP) guna memudahkan penyaluran bantuan kepada mereka.
Bagaimana Perasaan Sherly Tjoanda usai Menyapa Suku Togutil
- Tangkapan layar YouTube GubSherly
Kunjungan ini berlangsung hangat. Ia pun menyempatkan berpose hingga berpelukan bersama sebelum berpisah dengan masyarakat adat tersebut.
Ia pun berbincang dengan stafnya untuk membagikan perasaan mendalamnya. Wanita berusia 43 tahun ini mengungkapkan bahwa dirinya pertama kali mengunjungi suku di pedalaman.
Pasalnya, Sherly memang sudah berniat untuk menyapa suku-suku pedalaman di Malut. Kendati demikian, keinginan tersebut sempat belum terwujud.
"Ini pertama kali aku ketemu Suku Togutil. Iya, ini pertama kali. Aku sering mendengar dan berencana tapi enggak pernah kejadian," ngakunya.
Ia tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Kata dia, kunjungan ini sangat berkesan lantaran masyarakat Togutil menerima kedatangannya dengan baik.
Tak hanya itu, berbagai tawarannya tidak memiliki kendala apa pun. Meski begitu, mereka tetap memilih berada di lingkungan tersebut walaupun akan dibangun perumahan yang layak huni.
"Kesannya senang bisa diterima oleh Suku Togutil. Senang banget mereka menerima penawaran kita untuk hidup menetap dan dibangunkan (rumah) dengan menyiapkan 5 hektare tapi tetap mempertahankan ciri khasnya mereka," terangnya.
Pembangunan ini tidak sekadar modernisasi masyarakat adat di sana. Hal itu dapat mengundang para akademisi hingga budayawan untuk mengeksplorasi hal-hal yang ada di Suku Togutil.
"Jadi, suatu hari nanti jika ada para akademisi atau yang mau mempelajari, meneliti lebih dalam tentang budaya, kebiasaan Suku Togutil bisa datang ke sini," katanya.
Ia memahami Suku Togutil tidak hanya di Desa Koli. Suku yang biasa disebut Tobelo Dalam ini memiliki beberapa kelompok yang tersebar di kawasan pedalaman hutan tropis di Pulau Halmahera, Malut.
Wilayah utama penyebaran Suku Togutil, di antaranya hutan-hutan di Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Timur, serta Halmahera Tengah.
Ia meyakini pembangunan yang ditawarkan pada kali ini sebagai pembuka gerbang memajukan masyarakat adat pedalaman di Malut tanpa menghilangkan kearifan mereka.
(hap)