- tvOnenews.com Edit / YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Dedi Mulyadi Kebingungan Didatangi Akademisi dan Pendeta dari Papua: Saya Gubernur Jabar, Bukan Menteri
Dalam konferensi pertama, APS fokus membahas persoalan konektivitas karena distribusi barang di Papua masih menjadi tantangan besar.
“Di konferensi pertama kita fokus pada konektivitas. Karena darat, laut, udara itu menjadi tantangan terbesar untuk harga barang,” jelas Laus Rumayom.
Tak hanya itu, APS juga menyoroti persoalan infrastruktur kepelabuhanan di wilayah selatan Papua yang membuat harga barang menjadi sangat mahal.
“Kedua kita fokus pada infrastruktur kepelabuhanan karena banyak daerah yang tidak dilayani oleh kapal. Seperti wilayah selatan harus kapal masuk di sungai-sungai sehingga harga barang di kabupaten-kabupaten sangat mahal,” lanjutnya.
Pada tahun ini, APS mengusung tema pembangunan berbasis etnosains atau kearifan lokal. Mereka ingin pembangunan Papua tidak lagi hanya mengandalkan pendekatan keamanan semata.
“Kemudian di tahun ini izin Kang Dedi kita mengusung tema inovasi pembangunan Papua berbasis etnosains. Jadi kami ingin Papua tidak hanya saja dibangun dengan pendekatan keamanan, kami ingin melihat model pembangunan yang berbasis pada kearifan lokal,” ujar Laus Rumayom.
Laus Rumayom juga mengaku alasan mereka datang menemui Dedi Mulyadi karena melihat sosok pemimpin yang dianggap mampu menjaga budaya di tengah pembangunan modern.
“Dan ketika kami lihat, ikuti semua media sosial dan melihat sosok pemimpin yang memberikan inspiratif untuk bukan saja perubahan tapi mempertahankan eksistensi budaya itu kami lihat ada di Kang Dedi di Jawa Barat,” katanya.
Pujian tersebut langsung disambut serius oleh Dedi Mulyadi. Ia kemudian menjelaskan pandangannya tentang pembangunan yang menurutnya harus berjalan berdampingan dengan budaya dan alam.
“Gini memang kita ini ada salah pemahaman ya. Kalau saya, satu ideologi, dua filosofi, yang ketiga itu teknokrasi, yang keempat humanisme,” ujar Dedi Mulyadi.
Menurutnya, kearifan lokal yang selama ini dianggap kuno justru merupakan bentuk sains yang sangat tinggi.
“Nah, dalam pandangan saya kebudayaan atau culture atau kearifan lingkungan itu adalah sains. Saya ngomong tadi orang bikin rumah di pohon itu sains. Bukti sainsnya adalah dia bisa hidup, bersatu dengan alam, tidak merusak, nyaman, dan tidak kena bencana,” kata Dedi Mulyadi.