- tvOnenews.com Edit / YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Di Hadapan Akademisi Jayapura, Dedi Mulyadi Tegas: Jangan Bilang Orang Papua Malas
tvOnenews.com - Di hadapan akademisi dan pendeta asal Jayapura, Dedi Mulyadi meminta publik berhenti memberi cap negatif kepada orang Papua.
Bukan tanpa alasan, menurutnya masyarakat Papua hidup di tanah yang kaya dan serba tersedia dari alam. Karena itu, ia menilai stigma “malas” yang selama ini dilekatkan kepada masyarakat Papua adalah penilaian yang keliru.
Momen tersebut terjadi saat perwakilan komunitas Analisis Papua Strategis atau APS datang menemui Dedi Mulyadi di Lembur Pakuan, Subang. Rombongan yang dipimpin Laus Rumayom itu datang untuk mengundang Dedi Mulyadi menjadi keynote speaker dalam konferensi tahunan APS di Jayapura pada 27 Mei mendatang.
Dalam pertemuan itu, APS menjelaskan bahwa Papua kini terbagi menjadi enam provinsi dengan tujuh wilayah budaya, yakni Saireri, Tabi, Lapago, Animha, Mepago, Domberai, dan Bomberai. Mereka juga menegaskan fokus pembangunan Papua harus berbasis etnosains atau kearifan lokal, bukan sekadar pendekatan keamanan.
Di tengah obrolan hangat tersebut, Dedi Mulyadi mengaku dirinya sudah lama memiliki kedekatan dengan Papua sejak masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
“Saya nih sama Papua bukan barang baru. Saya dulu masih Bupati Purwakarta itu pernah berkunjung ke sana sekali. Saya nulis lagu judulnya di YouTube. Silakan cari Surga di Tanah Papua,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia juga mengaku pernah membantu anak-anak Papua untuk sekolah hingga menyalurkan bakat di bidang sepak bola.
“Saya pernah waktu jadi bupati banyak anak-anak Papua sekolah bareng saya. Bahkan ada yang disekolahin sepak bola dan sekarang bareng kerja di Pemprov dengan saya ada orang Papua,” katanya.
Percakapan kemudian berkembang membahas karakter masyarakat Papua yang menurut Dedi Mulyadi sering disalahpahami banyak orang.
“Saya paham karakter masyarakat Papua ya. Jadi gini, banyak orang yang salah dalam memberikan penilaian pada lingkungan masyarakat. Misalnya begini, orang dulu suka ngomong orang Sunda tuh malas. Menurut saya bukan malas karena pada waktu itu orang Sunda mendiami sebuah wilayah yang sangat subur,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia lalu menggambarkan bagaimana masyarakat yang hidup di wilayah kaya sumber daya tidak perlu bekerja terlalu keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Tanah terbentang, gunungnya tinggi menjulang, lautnya terhampar, nanam apa pun jadi ya. Kalau orang di lingkungannya sudah serba ada, kekayaannya melimpah, ngapain harus capek-capek?” lanjutnya.
Salah satu akademisi kemudian menimpali bahwa kondisi tersebut juga sangat mirip dengan Papua.
“Sama, Kang, di Papua juga begitu,” ujar salah satu akademisi lainnya.
Mendengar hal itu, Dedi Mulyadi langsung menegaskan bahwa masyarakat Papua tidak pantas diberi stigma malas.
“Maksud saya itu gitu loh. Jadi jangan dibilang orang Papua malas. Kenapa loh bukan malas, ngapain dia harus capek? Ngambil ikan di sungai ikan nilanya gede-gede. Iya kan ikan nila ya di Papua kan sama dengan di kita gede-gede kan ikan nilainya kan,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia kembali mencontohkan betapa kayanya alam Papua hingga masyarakatnya bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa harus bekerja terlalu keras seperti di daerah lain.
“Kalau di sini ikan nila gede-gede harus dikasih makan. Di sana tidak perlu. Mau ngambil buaya, buayanya banyak. Itu apalagi kan, mau enggak usah piknik orang Papua karena seluruh wilayahnya sudah indah. Enggak usah pakai AC sudah dingin. Jadi dia melihat bahwa saya kan tinggal di tanah yang sudah serba ada, serba punya,” katanya.
“Ya, kita kalau hidupnya terlahir sudah serba ada, serba punya itu ya sudah tinggal tiduran nikmat. Ngapain capek? Gitu kan,” tutup Dedi Mulyadi.
Pertemuan itu kemudian ditutup dengan diskusi santai mengenai karakter masyarakat Papua dan Sunda yang dinilai saling melengkapi. Dedi Mulyadi juga menyatakan kesiapannya hadir di Jayapura apabila tidak ada agenda mendesak lainnya.
(anf)