- Ilustrasi AI Gemini
Warga Jakarta Perlu Tahu, Fenomena El Nino Diprakirakan terjadi di 2026 sampai 2027, Kok Bisa?
Jakarta, tvOnenews.com- Warga Indonesia wajib tahu soal fenomena El Nino, yang diprakirakan terjadi pada 2026 sampai 2027. Situasi yang membuat suhu memungkinkan hangat sampai panas.
Secara umum fenomena El Nino dipahami sebagai meningkatnya suhu permukaan laut di sekitar garis khatulistiwa, sehingga berpotensi memengaruhi pola cuaca global secara signifikan.
Lantas, kapan terjadi fenomena El Nino?
- Antara
Dalam keterangannya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan prediksi iklim 2026 dengan menyebut fenomena El Nino diperkirakan segera aktif dan berpotensi bertahan sampai awal 2027.
Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, bahwa hasil pemantauan hingga akhir Mei 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik telah mencapai positif 1,0 derajat Celsius, sementara indeks Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat sebesar minus 0,56.
"Anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batas netral selama lima dasarian. BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027," ujar Ardhasena, dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Kamis.(18/6)
Dengan begitu, dampak El Nino tidak hanya terjadi pada Indonesia. Melainkan secara global, hal ini perlu dipahami.
Sebab dampak El Nino bersifat global dan memengaruhi pola curah hujan di berbagai belahan dunia dengan karakteristik yang berbeda-beda.
"Fenomena El Nino menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai wilayah dunia, tidak hanya di Indonesia. Namun, untuk Indonesia, El Nino umumnya berdampak pada penurunan curah hujan sehingga kondisi menjadi lebih kering, terutama pada periode Juni hingga Januari," jelasnya.
Maka dengan itu, El Nino akan mempengaruhi iklim atau cuaca. Peningkatan curah hujan akibat El Nino justru terjadi di wilayah Pasifik tengah hingga April tahun berikutnya, serta di pesisir Amerika Latin pada Januari–Mei.
Sebaliknya, penurunan curah hujan juga diperkirakan terjadi di sebagian Brasil, India, dan Afrika bagian selatan.
Prediksi Awal Kemarau Lebih Cepat
BMKG juga mencatat bahwa awal musim kemarau 2026 cenderung datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020.
Disampaikan sebanyak 308 zona musim atau 39,7 persen luas wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih maju dari biasanya.
Adapun 165 zona musim (17,03 persen) diperkirakan berlangsung normal, sedangkan 113 zona musim (9,52 persen) diprediksi mengalami kemunduran awal musim kemarau.
Dengan begitu, wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih awal antara lain Aceh, sebagian Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, sebagian besar Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Lampung bagian utara, sebagian besar Banten, DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sejumlah wilayah di Papua.
Sementara dari sisi sifat hujan, BMKG menegaskan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau di bawah normal atau lebih kering dibandingkan kondisi rata-rata.
Sudah tercatat sebanyak 482 zona musim atau 56,18 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami kondisi tersebut. Sementara itu, 210 zona musim (43,14 persen) diprediksi memiliki sifat hujan normal.
Apabila ditarik kesimpulan, El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di Samudra Pasifik yang memicu cuaca ekstrem global.
Mengutip dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bahwa El Nino berdampak signifikan dengan menyebabkan musim kemarau datang lebih awal, durasi yang lebih panjang, cuaca yang jauh lebih panas, serta penurunan curah hujan drastis yang meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan.(klw)