- FIFA
Lho, Aksi Pungut Sampah Suporter Jepang Malah Kena Kritik di Piala Dunia 2026, Kok Bisa?
Data tersebut menunjukkan bahwa perempuan di Negeri Sakura menghabiskan waktu lebih dari tiga jam per hari untuk pekerjaan domestik yang tidak dibayar.
Angka ini melesat lebih dari lima kali lipat dibanding kaum pria, yang tercatat hanya menghabiskan waktu 47 menit dalam sehari.
Kritik tajam atas ketimpangan gender ini pun meledak di medsos. Sebuah poster berbahasa Jepang mendadak viral dan sukses mengantongi 60.000 tanda suka di platform X lantaran memuat satir visual yang menohok.
Poster tersebut membandingkan visual seorang pria Jepang yang tampak cekatan memungut sampah di stadion Piala Dunia, dengan visual pria yang sama saat berada di rumah: tengah asyik berbaring di sofa dan sibuk memainkan ponsel pintar, tepat di sebelah istrinya yang sedang lelah mencuci piring.
Teks dalam poster itu menegaskan pesan menohok bahwa laki-laki di Jepang harus mulai belajar tahu diri dan lebih banyak membantu urusan rumah.
"Waktu yang mereka habiskan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga termasuk yang terpendek di dunia," bunyi narasi dalam poster viral tersebut.
Kolom komentar pun langsung dipenuhi respons panas netizen yang setuju dengan kritikan tersebut.
"Semua orang ingin menyelamatkan dunia, tapi tidak ada yang mau membantu ibu mencuci piring," tulis seorang pengguna X menyitir kutipan terkenal dari penulis asal Amerika Serikat, P.J. O'Rourke.
"Mungkin ada seorang laki-laki di antara orang-orang yang memungut sampah ini, yang memiliki anak kecil di rumah dan meninggalkan istrinya untuk mengasuh mereka sendirian demi menonton Piala Dunia," timpal netizen lainnya.
Bukan hanya masalah domestik, netizen Jepang juga mempermasalahkan unsur kemunafikan para suporter di luar negeri.
Menurut mereka, ruang-ruang publik di kota-kota besar Jepang sendiri nyatanya sering kali dipenuhi sampah berserakan setiap kali usai menggelar acara atau festival besar.
Kendati memicu perdebatan sengit mengenai pembagian keadilan tugas rumah tangga, tidak sedikit pula masyarakat yang tetap pasang badan membela aksi positif tersebut agar tidak perlu dikaitkan dengan urusan rumah.