- Kolase tvOnenews.com / tvOneNews
YTR Belum Bisa Jalani Operasi Rekonstruksi dalam Waktu Dekat, Dirut RSHS Bandung Jelaskan Kondisi Terbaru Korban
tvOnenews.com - Operasi rekonstruksi wajah bagi YTR atau Yuvita Tri Rezeki, korban penyekapan dan penganiayaan oleh Taufik Hidayat, ternyata belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menjelaskan tim dokter masih harus fokus menyembuhkan infeksi pada luka korban sebelum tahap operasi dapat dimulai.
Direktur Utama RSHS Bandung, dr. Rachim Dinata Marsidi, mengungkapkan bahwa kondisi YTR alias Yuvita saat ini masih memerlukan perawatan intensif. Infeksi pada luka di bagian wajah dan kepala korban menjadi prioritas utama yang harus ditangani sebelum melangkah ke tahap selanjutnya.
Menurut penjelasan dr. Rachim, proses penyembuhan infeksi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Setelah infeksi benar-benar hilang, barulah tahap operasi rekonstruksi dapat mulai dijalankan secara bertahap pada tubuh Yuvita Tri Rezeki.
"Jadi, kami sekarang ini dalam sebulan ini masih fokus di menghilangkan infeksinya, dan kami sudah membuat jadwal mungkin bisa sampai setahun untuk perbaikan semuanya, karena bukan hanya wajah aja, untuk pergerakan pun kaki pun sama ada," ungkap dr. Rachim Dinata Marsidi dalam tayangan YouTube tvOneNews (30/6/2026).
Jika kondisi Yuvita Tri Rezeki sudah dinyatakan stabil, operasi rekonstruksi akan diterapkan secara bertahap dengan estimasi waktu hingga satu tahun ke depan. Proses ini tidak hanya menyasar pemulihan wajah korban, tetapi juga mencakup tindakan medis pada bagian tubuh lainnya.
Dr. Rachim menjelaskan bahwa pihak rumah sakit telah menyiapkan jadwal panjang demi memastikan seluruh proses pemulihan Yuvita Tri Rezeki berjalan optimal. Penanganan medis ini mencakup berbagai aspek, mulai dari kondisi wajah hingga fungsi gerak kaki korban.
"Jadi kami sudah ada jadwal satu tahun ke depan, insyaallah bisa beres," tambahnya.
Ketika awak media menanyakan lebih lanjut soal jenis tindakan medis yang akan dilakukan, dr. Rachim kembali menegaskan bahwa fokus utama saat ini masih pada penyembuhan infeksi. Tanpa infeksi yang benar-benar tuntas, operasi rekonstruksi dinilai berisiko gagal dan tidak akan memberikan hasil maksimal.
"Bulan ini masih fokus di infeksinya, jadi belum tuntas, enggak bisa kalau infeksi belum ada, kita enggak bisa mau operasi karena akan enggak akan sembuh," jelas dr. Rachim.
Lebih lanjut, dr. Rachim memberikan gambaran perkembangan kondisi infeksi yang dialami Yuvita Tri Rezeki saat ini. Meski belum sepenuhnya pulih, terdapat tanda-tanda perbaikan dibandingkan kondisi sebelumnya.
"Nah, dalam minggu ketiga ini, minggu kedua sekarang sudah mereda, tapi belum beres sekali," ungkapnya.
Penjelasan dari Direktur Utama RSHS Bandung ini sejalan dengan kabar yang sebelumnya disampaikan oleh kakak ipar Yuvita, Melani, yang menyebut bahwa rekonstruksi wajah akan dilakukan secara bertahap setelah kondisi korban benar-benar stabil.
Selain penanganan medis, dukungan finansial juga telah disiapkan untuk mendukung proses pemulihan Yuvita Tri Rezeki secara menyeluruh. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengalokasikan dana bantuan sebesar Rp1 miliar untuk seluruh rangkaian penanganan korban.
Dana bantuan tersebut rencananya akan digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan medis Yuvita Tri Rezeki, mulai dari pengobatan infeksi, operasi rekonstruksi wajah, hingga pemulihan fungsi gerak kaki korban selama proses penyembuhan berlangsung.
Kasus penyekapan dan penganiayaan yang menimpa Yuvita Tri Rezeki oleh tersangka Taufik Hidayat memang menyita perhatian publik secara luas. Kondisi fisik korban yang mengalami luka parah membutuhkan waktu pemulihan yang tidak singkat sebelum dapat kembali menjalani kehidupan normal.
Dengan adanya jadwal penanganan yang telah disusun pihak RSHS Bandung, keluarga dan masyarakat berharap proses pemulihan Yuvita Tri Rezeki dapat berjalan lancar.
Dukungan dari berbagai pihak, baik secara medis maupun finansial, diharapkan mampu mempercepat pemulihan korban dari trauma fisik dan psikis yang dialaminya.
(anf)