- Kolase tvOnenews.com / tvOneNews / Instagram @joicemanurung283
Berkaca dari Kasus Penyekapan Taufik Hidayat, Psikolog Bagikan 4 Tips Menghadapi Hubungan Toksik
tvOnenews.com - Kasus penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan Taufik Hidayat (TH) terhadap YTR membuka mata banyak orang soal bahaya hubungan toksik. Psikolog Joyce Manurung membagikan tips menghadapi hubungan toksik agar kejadian serupa tidak terulang pada siapa pun.
Kasus ini bermula dari tindakan sadis TH terhadap seorang wanita berinisial YTR di Bandung. Penyidikan yang dilakukan Polda Jawa Barat kini telah memasuki tahap pendalaman tempat kejadian perkara (TKP) serta persiapan rekonstruksi utama untuk mengungkap seluruh rangkaian kekerasan yang terjadi.
Dalam perkembangan terbaru, polisi menemukan dua TKP baru berupa rumah kos di kawasan Ciwaru, Kabupaten Bandung, sehingga total lokasi kejadian yang teridentifikasi kini menjadi enam titik. Dari lokasi baru tersebut, penyidik juga berhasil mengamankan satu barang bukti tambahan untuk dicocokkan di laboratorium forensik.
Direktorat PPA dan PPO Polda Jabar disebutkan telah merampungkan agenda pra-rekonstruksi kasus ini. Rekonstruksi utama dijadwalkan digelar pada 2 Juli 2026 untuk memperjelas rangkaian aksi keji yang dilakukan pelaku sejak Mei 2024 hingga Juni 2026.
Kasus ini kemudian dibahas dalam acara Rumpi No Secret, di mana pembawa acara Feni Rose mengundang psikolog Joyce Manurung untuk mengulas sisi psikologis dari kasus kekerasan yang menimpa korban. Joyce menjelaskan bahwa pola kekerasan seperti ini umumnya terjadi dalam sebuah siklus yang berulang.
Menurut Joyce, siklus kekerasan biasanya diawali dengan fase tension building atau membangun ketegangan, kemudian berlanjut ke fase ledakan kekerasan, dan diakhiri dengan fase honeymoon di mana pelaku kembali bersikap manis. Pola inilah yang membuat korban sulit keluar dari jerat hubungan toksik.
Joyce juga mengungkap strategi manipulasi yang kerap dilakukan pelaku kekerasan dalam hubungan. Pelaku biasanya memutus hubungan korban dengan support system atau sistem pendukungnya, sekaligus menurunkan harga diri korban agar mereka merasa tidak berdaya dan sulit meminta bantuan.
Selain itu, Joyce turut menyoroti peran pola asuh dalam membentuk karakter seseorang. Pola asuh yang permisif serta kurangnya penanaman nilai empati sejak dini disebut dapat berkontribusi pada terbentuknya karakter yang impulsif dan agresif pada seseorang saat dewasa.
Menanggapi hal tersebut, Feni Rose mengajukan pertanyaan penting terkait langkah pencegahan sejak dini. "Sekarang kita mau belajar ya agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi pada siapa pun. Tadi kita belajar mengenai pola asuh. Itu penting sekali bahwa orang tua harus sejak sedini mungkin melatih anak-anak untuk mengendalikan impulsnya, tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kalau salah harus ditegur, gitu ya, jangan kalau salah dibiarkan," ujar Feni Rose.
Feni Rose kemudian melanjutkan pertanyaannya dengan menyoroti sisi korban atau masyarakat umum. "Tapi buat kita semua ini, ketika menghadapi orang dengan tanda-tanda bahaya itu, gimana caranya?" tanya Feni Rose kepada Joyce Manurung.
Menjawab pertanyaan tersebut, Joyce memberikan tips menghadapi hubungan toksik yang pertama, yaitu melatih kepekaan membaca perilaku pasangan. "Ya, yang pertama kita tadi pintar membaca perilaku. Jadi itu melatih juga ya. Kalau sudah tahu, eh, kayaknya ini agak mengancam nih, boleh pilih beberapa cara. Kalau enggak sanggup untuk melawan, udah ngacir aja. Ngacir aja, hilang, hilang aja," jelas Joyce.
Tips kedua yang dibagikan Joyce adalah melatih kemampuan komunikasi asertif. "Kalau kita merasa bahwa saya perlu melawan, belajar teknik asertif dalam berkomunikasi, bilang tidak itu betul. Mengatakan, 'Kamu tidak boleh begitu pada saya.' Itu nada suara, bahasa tubuh, itu perlu dilatih," terang Joyce.
Selanjutnya, tips ketiga yang tak kalah penting adalah membangun support system yang kuat dan harmonis. "Yang ketiga, bangun support system. Sahabat, orang tua, keluarga, ini harus harmonis hubungannya, harus dekat dengan kita. Karena bagaimanapun, yang membantu kita keluar nanti adalah mereka," ungkap Joyce.
Terakhir, Joyce menekankan pentingnya memperluas jejaring sosial dan mengikuti berbagai aktivitas positif. "Lalu yang keempat, banyak belajar, banyak bangun jejaring, banyak ikut aktivitas. Kita punya banyak teman," tuturnya.
Joyce menutup penjelasannya dengan pesan bahwa memiliki banyak kegiatan dan relasi dapat membantu seseorang keluar dari fokus berlebihan terhadap pasangan yang toksik. "Jadi enggak cuma dia-dia aja di hidup kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan sehingga energi yang fokusnya hanya dia di awal itu bisa dialihkan untuk hal yang lebih produktif," pungkas Joyce.
Kasus Taufik Hidayat menjadi pengingat bahwa hubungan toksik bisa menimpa siapa saja tanpa memandang latar belakang. Dengan menerapkan tips menghadapi hubungan toksik dari psikolog Joyce Manurung, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan berani mengambil langkah tegas sebelum kekerasan serupa terjadi kembali.
(anf)