- Instagram Unsrat
Ucapan Belasungkawa Unsrat atas Meninggalnya Dokter PPDS Anestesi yang Diduga jadi Korban Bully
Jakarta, tvonenews.com- Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya seorang mahasiswanya yang tengah menempuh PPDS di RSUP Kandou, Manado. Kabar ini ramai di media sosial sejak Senin (6/7) kemarin.
Dalam keterangan singkatnya, Unsrat hanya mendoakan dr. Adrian Rantung yang mana, sejauh ini diduga menjadi korban perundungan atau bully.
Isu ini pun masih dalam pengusutan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
- Instagram @kemenkes_ri
Merangkum dari kabar yang beredar. Mendiang dr. Adrian ialah dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Dikabarkan meninggal dunia di dalam kamar.
"surga menantimu di sana dokter," tulis Unsrat dalam instagramnya, dikutip Rabu (8/7).
Ucapan Unsrat yang singkat, seolah menjadi penutup yang mengandung makna kebaikan dan doa untuk mendiang dokter muda yang tengah mengikuti PPDS itu.
Melihat unggahan tersebut, tvonenews.com merangkum komentar warganet. Mayoritas mendoakan dr. Adrian Rantung hingga adanya tindak lanjut dari kasus dugaan bully pada dokter di indonesia.
- Instagram Unsrat
"turut berduka cita. Semoga meninggal dengan tenang," kata akun ren.an..
"RIP," tulis yang lain.
"Unsrat dan RS Kandou lagi, tolong pak Menkes tolong diperiksa PPDS Unsrat. Kemarin sudah dibekukan salah saru fakultas atas perundungan, ini diduga muncul lagi. Harusnya dari dekan sampai ketua prodi diperiksa, jangan dibiarkan sudah berkali-kali tapi tidak memperbaiki diri," ucap akun alessandro..
Respons Kementerian Kesehatan
Di sisi lain, kementerian kesehatan (Kemenkes) mengucapkan turut berduka. Juga mengatakan terima kasih, karena telah menjadi bagian tenaga kesehata dan berjuang dalam proses pendidikan sebagai PPDS Anestesi di RS Prof. Dr. R. D. Kandou Manado adalah teladan.
"Terima kasih, Dokter, atas segala upaya yang telah engkau curahkan demi kesembuhan sesama. Jasamu akan selalu hidup dalam setiap helaan napas pasien yang pernah engkau bantu dan dalam kenangan rekan sejawat yang berjuang bersamamu. Selamat beristirahat dalam damai. Semoga segala amal baik menjadi penerang jalanmu, dan kiranya keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan," jelasnya.
Kemenkes melalui Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati bahwa proses penyelidikan masih berlangsung sehingga belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab kematian maupun dugaan yang berkembang di masyarakat.
Pihaknya juga lakukan tindakan tegas, dengan penghentian sementara enghentikan sementara kegiatan pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado.
Dengan menegaskan bahwa kebijakan tersebut hanya berlaku terhadap kegiatan pendidikan PPDS Anestesiologi yang berlangsung di RSUP Kandou, bukan terhadap program studi Anestesiologi secara nasional.
"Penjelasan isu kematian dokter PPDS di RS Kandou Manado, kasus ini masih dalam proses investigasi oleh tim gabungan Kemenkes, Konsil Kedokteran Indonesia, Kolegium Anestesi dan Kemendiktisaintek,” kata Widyawati, dikutip dari viva.co.id, Selasa (7/7).
Perlu diketahui, Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) adalah jenjang pendidikan lanjutan bagi dokter umum untuk meraih gelar spesialis.
Program ini berlangsung intensif selama 4 hingga 7 tahun dan menitikberatkan pada praktik klinis (menangani pasien secara nyata) di berbagai rumah sakit pendidikan.(klw)