- instagram Sumagodenny
Kronologi Lengkap Kasus Dugaan Pembakaran 3 Santri di Lombok Tengah, Kasus Kini Naik ke Tahap Penyidikan
Sebelum kejadian, tiga korban disebut pernah melaporkan tindakan bullying yang dilakukan pelaku kepada pengurus pondok pesantren. Teguran yang diberikan kepada pelaku diduga justru memicu kemarahan.
Bibi salah satu korban, Nurul Hidayah, mengungkapkan bahwa tiga hari sebelum kejadian, pelaku sempat melontarkan ancaman.
"Tiga hari sebelum kejadian diancam, 'kalau lain kali kalian kasih tahu Abah saya akan bakar kalian'. Akhirnya, tiga hari setelah kata-kata itu langsung kejadian," ujar Nurul Hidayah.
Menurut keterangan keluarga, pada hari kejadian ketiga korban dipanggil menuju sebuah ruangan kosong yang sudah tidak digunakan di lingkungan pesantren. Ruangan tersebut dipenuhi material mudah terbakar seperti kayu, kertas, dan styrofoam.
Di lokasi itulah para korban diduga disiram menggunakan bahan bakar sebelum api dinyalakan. Salah satu korban, SAH (13), mengaku mereka sempat terjebak karena pintu ruangan dalam keadaan terkunci.
"Terjebak kita bertiga, orang yang ngebakar bisa dia keluar," tutur SAH.
Akibat insiden tersebut, dua santri mengalami luka bakar serius di sebagian besar tubuh mereka, sementara satu korban meninggal dunia setelah menjalani perawatan beberapa bulan kemudian.
Ketua LPA Kota Mataram, Joko Jumadi, membenarkan bahwa terdapat tiga korban dalam kasus tersebut.
"Ada tiga korban. Dua mengalami luka bakar dan satu meninggal dunia," katanya.
Viral, Trauma Berat hingga Polemik Penanganan Korban
Kasus ini baru mendapat perhatian luas setelah video korban menjalani perawatan di rumah sakit viral di media sosial pada Mei 2026. Dalam video tersebut tampak salah seorang korban menangis kesakitan dengan luka bakar yang telah dibalut perban.
Selain menderita luka bakar hingga sekitar 80 persen tubuh, korban yang selamat juga mengalami trauma psikologis berat.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Lombok Tengah, Baiq Indria Purnawati, mengatakan hasil asesmen psikolog menunjukkan korban mengalami gejala trauma yang cukup serius.
"Dari hasil asesmen awal kemarin oleh psikolog klinis UPTD PPA, gejala trauma muncul yaitu korban tidak berani melihat api. Sering terkejut, teriak-teriak di tengah tidurnya saat tengah malam," katanya.