- X @LambeSahamjja
Fakta Kasus Femas Yani Arianto WNI yang Hilang di Korea Selatan, Pihak Travel: Sengaja 'Memisahkan Diri'
Perwakilan Berani Backpacker, Wiky Arian, mengatakan dugaan tersebut muncul setelah mereka menelusuri berbagai informasi yang diperoleh selama proses pencarian.
"Awalnya kita menduga tidak senegatif itu sih, tetapi akhirnya kita menduga kuat dia ingin kerja secara ilegal," ujar Wiky.
Menurutnya, Femas diduga sengaja memanfaatkan visa wisata sebagai jalan masuk ke Korea Selatan.
Pihak travel juga menyebut daerah asal Femas termasuk wilayah yang cukup sering dikaitkan dengan kasus peserta wisata yang kemudian memilih bekerja secara ilegal di luar negeri.
Meski demikian, dugaan tersebut hingga kini belum dikonfirmasi secara resmi oleh aparat penegak hukum maupun otoritas imigrasi Korea Selatan.
Sempat Terlacak di Sebuah Masjid
Di tengah proses pencarian, pihak travel sempat memperoleh petunjuk baru.
Mereka menerima video yang menunjukkan Femas berada di sebuah masjid di wilayah Gyeonggi-do pada Kamis hingga Jumat pekan lalu.
Sayangnya, ketika tim hendak melakukan penjemputan, Femas sudah tidak lagi berada di lokasi tersebut.
Hingga kini, keberadaan Femas masih belum diketahui.
Fakta Keluarga Mulai Terungkap
Di tengah ramainya pemberitaan, ibu Femas, MT, mengaku tidak mengetahui bahwa putranya berangkat ke Korea Selatan.
Menurut pengakuannya, Femas hanya berpamitan hendak pergi ke Surabaya.
Ia mengaku baru mengetahui kabar tersebut setelah anak bungsunya melihat unggahan di media sosial mengenai peserta wisata asal Madiun yang menghilang di Korea Selatan.
Kabar tersebut membuat MT mengalami syok hingga jatuh sakit selama beberapa hari.
MT diketahui merupakan seorang janda yang kini membesarkan tiga anak seorang diri setelah suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Travel Temukan Sejumlah Kejanggalan
Di sisi lain, hasil penelusuran Berani Backpacker mengungkap sejumlah fakta yang menurut mereka berbeda dengan keterangan awal keluarga.
Pihak travel menyebut ibu Femas ternyata menjadi sponsor perjalanan dengan menandatangani dokumen serta mencetak rekening koran yang digunakan dalam proses pengajuan visa.
Selain itu, mereka mengaku menemukan riwayat komunikasi antara Femas dan ibunya yang diduga telah dihapus.
Tak hanya itu, Femas juga diketahui pernah mengikuti pendidikan bahasa di sebuah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang berorientasi pada penempatan tenaga kerja ke Korea Selatan.