- Instagram @sarwendah29
Pihak Sarwendah Minta Narasi Negatif Dihentikan, Sebut Anak Pasti Membela Ibunya jika Terus Disakiti
tvOnenews.com - Pihak Sarwendah meminta berbagai narasi negatif yang berkembang di ruang publik segera dihentikan. Kuasa hukum menilai framing yang terus diarahkan kepada kliennya bukan hanya berdampak pada Sarwendah, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak-anak di tengah sengketa hak asuh.
Kuasa hukum Sarwendah menyampaikan pernyataan tersebut saat ditemui awak media usai sidang mediasi gugatan hak asuh anak yang diajukan Ruben Onsu terhadap Sarwendah pada Selasa, 22 Juli 2026. Mereka menyoroti berbagai isu yang belakangan ramai diperbincangkan mengenai kliennya.
Menurut kuasa hukum, sejumlah narasi yang beredar mulai dari tudingan menjauhkan anak dari Ruben Onsu, dugaan eksploitasi anak, menghilangkan peran ayah, hingga polemik kepindahan Sarwendah dari rumah yang menjadi objek harta bersama dinilai terus menggiring opini publik.
Chris Sam Siwu selaku kuasa hukum Sarwendah mengingatkan bahwa dampak dari narasi tersebut tidak hanya dirasakan kliennya. Ia menilai anak-anak secara naluriah akan membela ibu mereka apabila melihat sang ibu terus disudutkan dan dibuat menangis.
"Dan gini kawan-kawan ya, perlu dipahami juga, mungkin ini buat masukan juga kepada kuasa hukum RO, bahwa semakin ibunya anak-anak ini terus dipojokkan, disakiti, kita sebagai seorang anak pasti akan membela mati-matian ibu kita ya," ucap Chris Sam Siwu selaku kuasa hukum Sarwendah dalam tayangan Intens Investigasi, Selasa (22/7/2026).
Chris Sam Siwu juga mengingatkan agar pihak-pihak tertentu berhati-hati dalam menyampaikan narasi yang belum tentu benar. Menurutnya, apabila anak-anak terus melihat ibunya menjadi sasaran framing negatif, hal tersebut dapat memengaruhi cara pandang mereka terhadap pihak yang dianggap memojokkan Sarwendah.
"Jadi hati-hati juga kalau nanti terus-terusan diframing, dibalikkan, diputarbalikkan suatu yang enggak benar yang membuat klien kami terus menangis dan anak-anaknya melihat, anak-anaknya juga makin tidak sayang nanti dengan orang yang memojokkan klien kami," ujar Chris Sam Siwu.
Ia menegaskan tidak menyebut nama pihak tertentu. Namun, menurutnya, anak-anak akan secara alami membela sosok ibu apabila mengetahui siapa yang terus memberikan tekanan kepada Sarwendah.
"Saya tidak bilang siapa ya, tapi anak-anak ini pasti akan membela ibunya dan kalau tahu yang memojokkan adalah A, ya pasti anak-anak juga tidak akan pernah bisa sayang dengan A itu ya," kata Chris Sam Siwu.
Karena itu, pihak Sarwendah meminta agar penggiringan opini yang dinilai tidak tepat segera dihentikan. Menurut Chris Sam Siwu, langkah tersebut penting demi menjaga kondisi psikologis anak-anak sekaligus memberikan ketenangan bagi kliennya.
"Jadi tolong sudah hilang ya framing-framing, penggiringan opini yang menurut saya tidak pas ya yang dilakukan oleh pihak-pihak mana pun juga. Kasihan nanti klien kami ujungnya ya," tutur Chris Sam Siwu.
Ia juga mengajak semua pihak menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Menurutnya, baik perkara hak asuh anak maupun persoalan harta bersama telah memiliki jalur penyelesaian masing-masing di pengadilan sehingga tidak perlu terus diperdebatkan melalui opini publik.
"Jadi ya kita sudahi dululah terkait penggiringan opini. Sudah ada untuk hak asuh, sudah ada ranahnya. Nanti terhadap gono-gini juga ada ranahnya lagi. Monggo silakan kita buka lagi mungkin dengan gugatan gono-gini ya, silakan. Tapi prinsipnya klien kami pengin hidup tenang ya," jelas Chris Sam Siwu.
Sementara itu, kuasa hukum Sarwendah lainnya, Abraham Simon, juga mempertanyakan tujuan berbagai narasi yang terus bermunculan di ruang publik. Ia menyerahkan penilaian tersebut kepada masyarakat.
"Silakan nanti dikembalikan lagi ke publik. Publik bisa melihat ya siapa yang memberikan narasi-narasi terus-menerus begitu ya. Bisa ditanyakan tujuannya apa sih?" ujar Abraham Simon.
Abraham Simon menilai apabila tujuan utamanya berkaitan dengan gugatan hak asuh, maka proses tersebut telah memiliki mekanisme hukum yang sedang berjalan. Ia mempertanyakan alasan berbagai isu lain terus diangkat ke ruang publik.
"Kalau tujuannya hak asuh kan sudah ada medianya. Lalu narasi lagi, narasi lagi, harta rumah dibawa orang tua. Ini tujuannya apa? Ya, publik yang menilai tujuannya apa ya," pungkas Abraham Simon.
(anf)