news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Dokter Peserta Internship.
Sumber :
  • tvOnenews.com - ANF

6 Kasus Kematian Dokter Peserta Internsip Sepanjang 2026, Ini Lokasi Tugas dan Penyebabnya

Kasus Kematian Dokter Peserta Internsip sepanjang 2026 menjadi sorotan. Berikut daftar lokasi tugas, kronologi, dan penyebab meninggal enam dokter peserta PIDI.
Rabu, 29 Juli 2026 - 10:28 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Kasus Kematian dokter peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) sepanjang 2026 menjadi perhatian publik. Berikut rangkuman Kasus Kematian Dokter Peserta Internsip, mulai dari lokasi tugas, kronologi, hingga penyebab meninggal dunia berdasarkan laporan resmi.

1. dr. Kartika Ayu Permatasari

dr. Kartika Ayu Permatasari meninggal dunia pada 25 Februari 2026 saat menjalani Program Internsip Dokter Indonesia di RS Bina Bhakti Husada, Rembang, Jawa Tengah. Dokter peserta angkatan Agustus 2025 tersebut dilaporkan meninggal akibat infeksi campak yang diperparah oleh riwayat anemia berat.

Menurut laporan medis, infeksi campak menjadi penyebab utama meninggalnya dr. Kartika. Sementara itu, rekan sejawat menyebut kondisi kelainan sel darah atau anemia berat yang dideritanya turut memperburuk kondisi kesehatan hingga akhirnya tidak dapat diselamatkan.

2. dr. Edgar Bezaliel Hartanto

dr. Edgar Bezaliel Hartanto meninggal dunia pada 17 Maret 2026 saat bertugas di RS Bhayangkara, Denpasar, Bali. Dokter peserta PIDI angkatan Mei 2025 tersebut dilaporkan mengalami komplikasi berat akibat Demam Berdarah Dengue (DBD).

Berdasarkan laporan resmi, dr. Edgar tetap menjalankan tugas sebagai dokter internsip sebelum kondisi kesehatannya menurun. Komplikasi akibat DBD yang dideritanya akhirnya menyebabkan ia meninggal dunia ketika masih menjalani masa penugasan.

3. dr. Andito Muhammad Wibisono

dr. Andito Muhammad Wibisono wafat pada 26 Maret 2026 saat bertugas di RSUD Pagelaran, Cianjur, Jawa Barat. Dokter peserta PIDI angkatan Agustus 2025 tersebut mengalami komplikasi berupa ensefalitis atau radang otak serta miokarditis atau radang otot jantung.

Laporan menyebut dr. Andito tetap memberikan pelayanan kepada pasien meski gejala ruam akibat infeksi campak mulai muncul pada tubuhnya. Kondisinya kemudian memburuk hingga mengalami komplikasi serius yang menyebabkan dirinya meninggal dunia.

4. dr. Myta Aprilia Azmy

dr. Myta Aprilia Azmy meninggal dunia pada 1 Mei 2026 saat menjalani tugas di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. Dokter peserta angkatan Agustus 2025 itu mengalami infeksi paru-paru berat selama menjalani masa bakti.

Kondisi kesehatannya terus menurun sehingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun, meski telah menjalani perawatan intensif, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.

5. dr. Muhammad Zulfikar Drakel, M.Res.

dr. Muhammad Zulfikar Drakel, M.Res. meninggal dunia pada 21 Juli 2026. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut bertugas di RSUD Sukadana, Lampung Timur, sebagai peserta PIDI angkatan Februari 2026.

Ia ditemukan meninggal dunia di kamar kos setelah dilaporkan tidak masuk jadwal jaga selama tiga hari. Hasil investigasi Direktorat Jenderal SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan menyatakan almarhum meninggal akibat penyakit penyerta atau komorbid dan infeksi. Kemenkes juga menegaskan tidak ditemukan bukti maupun indikasi perundungan dalam kasus tersebut.

6. dr. Siti Zahra Maghfira

dr. Siti Zahra Maghfira atau dr. SZM meninggal dunia pada 26 Juli 2026. Lulusan Universitas Hasanuddin tersebut diketahui bertugas di RS Sentra Medika Cisalak, Depok, Jawa Barat, sebagai peserta PIDI angkatan Mei 2026.

Berdasarkan keterangan kepolisian, dr. Siti Zahra ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai 18 Tower Sakura Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Polisi menyatakan penyelidikan masih berlangsung, termasuk pemeriksaan digital dan keterangan para saksi untuk mendalami motif pasti kejadian tersebut. Dugaan sementara mengarah pada tindakan bunuh diri, namun penyebab pastinya masih menunggu hasil penyelidikan.

Rentetan kasus kematian dokter peserta internsip sepanjang 2026 mendorong Kementerian Kesehatan bersama Ikatan Dokter Indonesia melakukan evaluasi terhadap Program Internsip Dokter Indonesia. Langkah tersebut dilakukan guna meningkatkan perlindungan bagi peserta selama menjalani masa penugasan.

Beberapa kebijakan yang akan diterapkan antara lain skrining kesehatan jiwa secara berkala bagi peserta PIDI dan PPDS, pembatasan jam kerja maksimal 40 jam per minggu, larangan sistem kerja yang dipadatkan, pemberian waktu istirahat setelah jaga malam, serta pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebelum penugasan dan evaluasi medis setiap enam bulan.

(anf)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:59
01:57
01:21
16:31
06:11
05:03

Viral