- Instagram @undip.official
Siapa Adriano Jeconia Padama? Maba Undip yang Viral usai Curhat Langsung ke Mentan soal Harga Beras Mahal di Alor
tvOnenews.com - Nama Adriano Jeconia Padama mendadak menjadi perhatian setelah keberaniannya menyampaikan persoalan harga beras di kampung halaman kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Alih-alih membicarakan kepentingan pribadi, mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip) itu justru membawa persoalan kebutuhan pangan masyarakat Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Momen tersebut terjadi saat kegiatan penerimaan mahasiswa baru Undip pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Di hadapan ribuan mahasiswa, Adriano menyampaikan kondisi sulit yang dihadapi masyarakat di daerah asalnya akibat terbatasnya produksi dan jalur distribusi beras.
Penyampaiannya yang lugas kemudian viral di media sosial.
Perhatian publik semakin besar setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons langsung aduan tersebut dan mengambil langkah untuk mengecek kondisi pangan di Alor.
Siapa Adriano Jeconia Padama?
Adriano Jeconia Padama merupakan mahasiswa baru Undip yang berasal dari Kabupaten Alor, NTT.
Ia tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip.
Dalam unggahan resmi Undip, Adriano menyebut dirinya dengan sapaan Dede. Ia mengaku bangga dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat di tempat kelahirannya.
"Halo, saya Adriano Jekonia Padama, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Diponegoro. Saya sangat senang dan bangga karena saya bisa berkontribusi dalam kesejahteraan masyarakat di tempat saya lahir. Dan saya bisa memberikan sesuatu bagi negara dan juga bagi saudara-saudara saya di Kabupaten Alor," kata Adriano.
Keberaniannya menyampaikan persoalan tersebut membuat sosok Adriano kemudian dikenal luas, bahkan ketika statusnya masih sebagai mahasiswa baru.
Yang membuat aksi Adriano mendapat perhatian adalah isu yang dibawanya.
Dalam kesempatan bertemu Menteri Pertanian, ia tidak menyampaikan permintaan pribadi, melainkan berbicara mengenai kebutuhan pangan masyarakat di daerah asalnya.
Adriano menjelaskan bahwa kebutuhan beras di Alor tidak sebanding dengan kemampuan produksi lokal.
Menurut pemaparannya, kebutuhan beras mencapai sekitar 24-27 ton per tahun, sedangkan kemampuan produksi lokal hanya sekitar 10 persen dari kebutuhan tersebut.
Kondisi geografis kepulauan turut menjadi tantangan. Distribusi beras ke sejumlah wilayah mengandalkan jalur laut sehingga persoalan cuaca dan akses transportasi dapat memengaruhi ketersediaan serta harga bahan pangan.
Dalam kondisi tertentu, harga beras di wilayah pedalaman Alor bahkan disebut dapat melonjak hingga Rp25.000-Rp30.000 per kilogram.
Bagi masyarakat yang memiliki daya beli terbatas, kenaikan tersebut bukan sekadar persoalan harga. Beras merupakan kebutuhan pokok yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari keluarga.
Adriano juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak mahalnya beras bagi anak-anak di daerahnya.
Ia mengatakan sebagian masyarakat akhirnya harus mengonsumsi umbi-umbian ketika beras sulit diperoleh dengan harga terjangkau.
"Yang saya khawatirkan adalah banyak anak kecil yang terpaksa makan umbi-umbian dan yang saya tahu adalah kalau mereka makan umbi-umbian dari kecil, maka perut mereka akan penuh dengan gas, sehingga akan membesar dan mohon maaf tapi, lubang pembuangan mereka akan mengecil. Itu benar-benar sangat menyakitkan, Pak," papar Adriano.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang ingin disampaikan Adriano bukan semata-mata mengenai harga beras, tetapi dampaknya terhadap masyarakat yang tinggal jauh dari pusat distribusi.
Keberanian Adriano menyampaikan aspirasi tersebut terjadi di hadapan 5.155 mahasiswa baru Undip dalam pertemuan bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Kesempatan tersebut kemudian dimanfaatkan Adriano untuk menyampaikan persoalan yang ia ketahui dari daerah asalnya.
Cara penyampaiannya yang langsung menuju persoalan membuat video momen tersebut ramai dibicarakan di media sosial.
Warganet banyak memberikan apresiasi karena menilai Adriano menggunakan kesempatan bertemu pejabat negara untuk menyuarakan kebutuhan masyarakat.
Mendengar penjelasan Adriano, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tidak ingin persoalan tersebut berhenti sebagai keluhan.
Amran langsung menghubungi jajaran terkait dan meminta pasokan beras segera dikirim ke Alor. Ia juga menyampaikan target agar masyarakat memperoleh beras dengan harga yang lebih terjangkau.
Dalam responsnya, Amran mengatakan:
"Saya tidak ingin cerita itu berhenti menjadi keluhan. Karena itu, saat itu juga saya menghubungi Direktur Utama Bulog dan memerintahkan agar beras segera dikirim ke Alor serta memastikan masyarakat bisa memperoleh beras sesuai arahan Bapak Presiden dengan harga Rp12.500 per kilogram," ujar Amran.
Amran juga menegaskan bahwa persoalan distribusi pangan di wilayah kepulauan harus mendapat perhatian.
Jika hambatan utamanya berkaitan dengan infrastruktur, pemerintah akan mendorong fasilitas pendukung agar distribusi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Respons pemerintah tidak berhenti pada komunikasi melalui telepon.
Beberapa hari setelah pertemuan dengan Adriano di Semarang, Amran melakukan kunjungan langsung ke Kabupaten Alor untuk melihat kondisi pangan di lapangan
Dalam sumber, kunjungan tersebut dilakukan pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Langkah tersebut membuat kisah Adriano semakin mendapat perhatian. Aspirasi yang awalnya disampaikan seorang mahasiswa baru di sebuah forum kampus akhirnya mendorong pengecekan langsung terhadap kondisi pangan di daerah asalnya.
(tsy)