news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Fahira Mira.
Sumber :
  • tvOnenews.com Edit / Instagram @fahiramira

Klarifikasi Fahira Mira soal Usus Buntu Tuai Reaksi Sederet Dokter, Soroti Hasil USG hingga 3 RS Indonesia 

Fahira Mira klarifikasi soal Usus Buntu setelah berbeda diagnosis di Penang. Sejumlah Dokter menyoroti hasil USG dan pemeriksaan di 3 RS Indonesia.
Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:09 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Fahira Mira kembali menjadi sorotan setelah memberikan klarifikasi mengenai pengalamannya saat didiagnosis mengalami Usus Buntu oleh tiga rumah sakit di Indonesia. Pernyataan tersebut justru memicu reaksi sejumlah Dokter yang mempertanyakan hasil pemeriksaan hingga detail gambar USG yang ditampilkan.

Selebgram Fahira Mira sebelumnya mengaku mendapat diagnosis usus buntu dari tiga rumah sakit berbeda di Indonesia dan disarankan menjalani operasi. Namun, setelah mencari second opinion di Penang, Malaysia, ia menyebut hasil CT scan menunjukkan appendix tampak normal dan tidak terdapat tanda peradangan.

Klarifikasi Fahira Mira itu disampaikan melalui akun Instagram pribadinya pada 11 Agustus 2026. Ia menegaskan bahwa konten tersebut merupakan pengalaman pribadi dan bukan ditujukan untuk menyalahkan pihak mana pun. Meski demikian, unggahannya mendapat tanggapan dari sejumlah Dokter yang menyoroti beberapa hal.

Fahira Mira Ungkap Hasil USG dan CT Scan

Dalam unggahan klarifikasinya, Fahira menjelaskan bahwa hasil USG yang diterimanya menunjukkan ukuran appendix mencapai 8,1 milimeter. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, ia mengaku mendapat saran untuk menjalani operasi usus buntu.

Fahira kemudian memilih menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Penang. Setelah melakukan CT scan, ia mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi appendix tampak normal dan tidak ditemukan tanda-tanda peradangan.

“USG menunjukkan appendix 8,1 mm dan aku disarankan operasi. Aku akhirnya memilih untuk operasi di Penang. Setelah CT scan di Penang, ternyata hasilnya menunjukkan appendix tampak normal dan tidak ada tanda peradangan,” tulis akun @fahiramira.

Fahira juga menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menyalahkan pihak tertentu melalui konten tersebut. Ia justru mengajak masyarakat untuk tidak takut bertanya kepada tenaga medis dan mencari pendapat kedua apabila memang diperlukan.

“Ini murni pengalaman pribadiku, bukan untuk menyalahkan pihak mana pun. Jangan takut bertanya dan mencari second opinion jika memang diperlukan. Setiap kondisi pasien berbeda. ” tutupnya.

1. dr. Andi Emiral Amal Soroti Diagnosis dari 3 RS

Klarifikasi Fahira kemudian mendapat respons dari sejumlah dokter. Salah satunya adalah dr. Andi Emiral Amal yang meminta agar tiga rumah sakit di Indonesia yang disebut Fahira dapat dijelaskan secara terbuka.

Ia juga menyinggung istilah donut sign yang menurutnya dapat menjadi temuan yang mengarah pada kondisi tertentu dalam pemeriksaan. Karena itu, ia meminta agar masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa temuan dari pemeriksaan tiga dokter di Indonesia merupakan kesalahan diagnosis.

“Boleh dibuktikan 3 RS di Indo ke mana saja. Donut sign, at the time of finding, di semua kepustakaan seluruh dunia juga sama referral-nya sugestif ke arah mana. Jangan menggiring opini awam seolah temuan donut sign setelah dari 3 dokter Indo itu merupakan salah diagnosis. Paid content until proven otherwise,” tulis dr. Andi Emiral Amal.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam perdebatan mengenai pengalaman Fahira. Meski demikian, tudingan mengenai konten berbayar atau endorsement tersebut merupakan pendapat dari dokter yang bersangkutan dan belum dapat dianggap sebagai fakta tanpa bukti lebih lanjut.

2. dr. R. Ahmad Anzali Pertanyakan Pemeriksaan Sebelum Operasi

Dokter lainnya, R. Ahmad Anzali, MD, FIHA, turut menyampaikan sejumlah pertanyaan terkait kronologi pemeriksaan Fahira. Ia menilai terdapat beberapa hal yang menurutnya perlu diperjelas dalam cerita mengenai diagnosis usus buntu tersebut.

Ia kemudian menyampaikan tiga poin yang dianggapnya aneh dan tidak wajar dalam kasus tersebut. Pertama, ia mempertanyakan tidak adanya pemeriksaan laboratorium yang disebutkan dalam konten sebelum pasien menjalani operasi.

“Hal aneh dan tidak wajar ya. Ga mungkin dokter bedah tidak menyarankan pemeriksaan lab untuk persiapan operasi. Sampai konsultasi 3 dokter di 3 RS, ga ada yang menyarankan CT, padahal ada step up pemeriksaan penunjang bila klinis meragukan. (Kuat diduga) ini totally endorsement yang ugal-ugalan,” tulis R. Ahmad Anzali, MD, FIHA. 

Ahmad juga mempertanyakan mengapa pemeriksaan CT scan disebut baru dilakukan ketika Fahira mencari pemeriksaan lanjutan di Penang. Menurutnya, kronologi dan pemeriksaan penunjang tersebut perlu dijelaskan secara lebih lengkap agar publik tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan satu sisi cerita.

3. dr. Ramadanus Soroti Gambar USG yang Ditampilkan

Sorotan lain datang dari dr. Ramadanus, SpB, Subsp.Onk(K). Ia secara khusus memperhatikan gambar USG yang ditampilkan Fahira dalam unggahannya.

Menurutnya, gambar tersebut perlu diperiksa kembali karena ia menduga lokasi pemeriksaan yang terlihat pada gambar bukan berada di area appendix atau usus buntu. Ia kemudian menjelaskan mengenai body mark dan posisi probe atau transducer pada gambar USG.

“Gambar hasil USG yang ditampilkan bukan USG pada appendiks. Coba pause dan perhatikan baik-baik ketika mbak ini menampilkan gambar hasil USG-nya. Lihat di pojok bawah ada gambar kecil skema bagian tubuh, itu disebut body mark. Itu adalah tanda di bagian tubuh mana USG dilakukan, kemudian posisi di mana probe/transducer USG diletakkan ditunjukkan oleh lambang berupa garis lurus yang ada titik di ujungnya.

Lihat gambar sebelah kiri, transducer USG-nya berada di daerah epigastrik (ulu hati) dan pada gambar kanannya transducer USG berada di daerah flank kiri (pinggang kiri). Untuk menemukan dan menilai usus buntu dengan USG, harusnya transducer berada di perut kanan bawah.

Kemudian tidak ada pada gambaran USG-nya lesi yang diukur, yang kemudian ukurannya menunjukkan hasil 8,1 mm, dan ini tidak sinkron dengan potongan laporan USG yang mbak ini tampilkan kemudian. Ayo mbak @fahiramira yang jujur ya, gambar hasil pemeriksaan USG yang Anda tampilkan apa benar hasil pemeriksaan USG usus buntu? Dan itu pemeriksaan Anda sendiri?” tulis dr. Ramadanus, SpB, Subsp.Onk(K).

Pernyataan tersebut menjadi salah satu kritik paling spesifik terhadap materi pemeriksaan yang ditampilkan Fahira. Namun, untuk memastikan jenis gambar dan lokasi pemeriksaan secara medis, diperlukan penelusuran terhadap dokumen pemeriksaan asli serta keterangan dari fasilitas kesehatan terkait.

4. dr. Ferrdy Minta Hasil CT Scan Dibagikan

Sementara itu, dr. Ferrdy P. Wijaya, MMRS, SpN, AIFO-K, meminta Fahira menampilkan hasil pembacaan CT scan yang dilakukan di Penang.

“CT scan-nya spill bacaannya, Mbak. Itu USG bacaannya aja di-spill,” tulis dr. Ferrdy P. Wijaya, MMRS, SpN, AIFO-K.

Komentar tersebut menyoroti pentingnya melihat hasil pemeriksaan secara lengkap. Sebab, dalam kasus dengan perbedaan diagnosis, hasil pemeriksaan penunjang dan laporan dokter dapat menjadi bagian penting untuk memahami dasar dari kesimpulan medis yang diberikan.

5. dr. Ikromi Dalimunthe Pertanyakan Identitas 3 RS

Dokter Ikromi Dalimunthe, Mked(Ped), SpA, juga meminta agar Fahira menjelaskan tiga rumah sakit yang disebut dalam kontennya. Ia mengatakan informasi tersebut penting untuk mengetahui secara jelas kronologi pemeriksaan yang terjadi.

“Selamat malam, seperti komen saya sebelumnya yang dihapus di postingan ini, tolong sekali lagi diperjelas ke yang bersangkutan ini kemarin 3 RS itu yang mana. Saya sempat komen sebelumnya kalau ini 3 RS-nya tolong ditelusuri. Kalau benar, diperbaiki komunikasi 3 RS-nya. Kalau tidak dan ada indikasi pencemaran nama baik, tolong ditindak, Pak @bgsadikin @habiburokhmanjkttimur @pp_pabi @persi_pusat @kemenkes_ri @idi_wilayah_jakarta. Tanggal-tanggal video dan file pemeriksaan juga aneh,” tulis dr. Ikromi Dalimunthe, Mked(Ped), SpA.

Komentar tersebut menunjukkan adanya dorongan agar kronologi yang disampaikan Fahira dapat diverifikasi lebih lanjut. Terlebih, pernyataan mengenai diagnosis yang diberikan oleh tiga rumah sakit dapat berdampak terhadap persepsi masyarakat terhadap layanan kesehatan di Indonesia.

6. dr. Althof Sona Ikut Soroti Gambar USG

Dokter Althof Sona, SpB, FICS, juga memberikan penjelasan terkait gambar USG yang ditampilkan dalam konten Fahira. Ia menduga gambar tersebut menunjukkan area tubuh lain dan tidak secara langsung menggambarkan pemeriksaan appendix.

“Mohon maaf, Mbak, itu USG yang ditampilkan sepertinya salah. Yang USG kanan sepertinya itu posisi-nya di epigastrik, gambaran yang ditunjukkan sepertinya pancreas, terdapat marking tulisan VL sepertinya vena lienalis, dan USG kiri probe-nya di flank, ada tulisan RS menunjukkan renal sinistra atau ginjal kiri. Mungkin ada potongan USG lain, tidak sinkron sepertinya. Izin,” tulis dr. Althof Sona, SpB, FICS.

Dengan munculnya berbagai tanggapan tersebut, polemik mengenai pengalaman Fahira tidak hanya berkaitan dengan perbedaan hasil pemeriksaan antara Indonesia dan Penang. Sejumlah dokter juga meminta agar dokumen medis, lokasi pemeriksaan, serta kronologi konsultasi dijelaskan secara lebih lengkap.

Di sisi lain, Fahira telah menegaskan bahwa unggahannya merupakan pengalaman pribadi dan mengingatkan masyarakat bahwa setiap kondisi pasien dapat berbeda. Hingga kini, berdasarkan informasi yang disampaikan, belum ada keterangan lengkap dari tiga rumah sakit di Indonesia yang disebut Fahira mengenai pemeriksaan dan diagnosis yang diberikan kepadanya.

(anf)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:34
01:25
01:32
01:54
05:21
00:53

Viral