- Polsek Abiansemal
Masih Ingat Perempuan Lombok Dihina Penjahit di Bali dan Dikira Orang Jawa? Video Sidang Disebut Mirip Intimidasi Viral
Badung, tvOnenews.com - Polemik percekcokan perempuan asal Lombok, Hilda dan penjahit Sintya Tailor di Badung, Bali, Ni Made Tiadnyani alias Bu Sintya yang sempat viral pada Juli 2026 lalu kembali mencuri perhatian publik.
Kasus dugaan rasisme ini sempat dimediasi oleh Polsek Abiansemal dan dihadiri oleh tokoh publik pada Minggu (19/7/2026). Hasilnya menunjukkan Bu Sintya dan sang pelanggan sepakat untuk berdamai.
Terkini rekaman video sidang keduanya mendadak viral di media sosial usai diunggah melalui akun Instagram Rumpi Gosip pada Kamis (13/8/2026). Proses mediasi itu sendiri memicu reaksi berbeda yang di mana warganet menilai lebih mirip adanya dugaan intimidasi.
Dalam video yang beredar, Hilda tampak duduk dengan raut wajah tegang di dalam ruangan. Ia lebih cenderung banyak mendengarkan nada bicara anggota DPD Dapil Bali, Arya Wedakarna yang mengarahnya lebih tegas ketimbang perlakuan kepada pihak penjahit.
"Si ibu kenapa emosi gitu," ujar Hilda.
- TikTok/@aryawedakarnasuyasa
Beberapa pertanyaan justru terus bermunculan dan menyinggung dampak apabila laporan berlanjut. Hal ini bisa membuat usaha jahit Sintya Tailor milik Bu Sintya tutup.
Laporan tersebut juga sangat berdampak pada nasib keluarga Bu Sintya. Penjahit itu dan sang suami hanya mengandalkan mata pencariannya dari tempat usaha Sintya Tailor.
"Terus udah terjadi gimana? Sekarang mau diapain ibu ini di depan saya? Emang ibunya salah? Maunya gimana, emang mau ditutup? Si bapak ibu ini sama-sama penjahit lho, anaknya masih sekolah. Kalau ditutup, mau enggak kasih makan?," tanya Arya.
Hilda juga mendapat peringatan terkait penyebaran video tanpa izin berujung viral di media sosial. Tindakan ini potensi berbalik menjadi laporan terkait Undang-Undang (UU) ITE.
"Pihak keluarga punya hak buat balik melaporkan kamu. Kalau pihak keluarga merasa repot, kalau misal pihak keluarga melaporkan UU ITE boleh. Walaupun sudah damai tapi pihak keluarga punya hak buat melaporkan kamu karena kamu sudah nyebarin video orang," bebernya.
Di sisi lain, Arya menilai ucapan Bu Sintya telah salah. Ia berharap agar segera damai dan perempuan asal Lombok tersebut menyelesaikan perkara tersebut.
Suasana seperti ini langsung menimbulkan reaksi keras dari publik. Penonton merasa proses sidang mediasi tidak sepenuhnya netral.
Publik menilai sidang mediasi tersebut bukan memberikan ruang setara untuk kedua pihak. Korban terlihat yang mulanya mendapat hinaan justru tampak terpojokkan usai adanya desakan damai.
Sementara, korban berusaha berbicara dengan nada santai. Warganet melihat persoalan tersebut sebenarnya rentan menyentuh isu yang lebih luas karena ujaran sempat dilontarkan diduga menyinggung suku dan status sosial.
Kronologi Penjahit di Bali Cekcok hingga Rasis pada Pelanggan
Sebelumnya, kasus dugaan rasisme ini viral di media sosial. Bu Sintya, penjahit dari Sintya Tailor terekam sedang cekcok dengan perempuan asal Lombok, Hilda di Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali.
Peristiwa ini pertama kali terjadi pada awal Juli 2026. Awal mula kasus tersebut tak lepas sang pelanggan bercerita bahwa dirinya menggunakan jasa Bu Sintya.
Hilda menjelaskan, dirinya menitipkan tiga potong pakaian untuk dikecilkan pada 30 Juni 2026. Sang pelanggan mengklaim tukang jahit itu menyanggupi permintaannya agar selesai pada 1 Juli 2026.
Hingga memasuki keesokan harinya, pakaian tersebut belum digarap. Tenggat waktu penyelesaian pun mundur menjadi tanggal 2 Juli 2026.
Alih-alih selesai, permintaan pelanggan juga belum digarap sesuai ketentuan. Sang pelanggan masih cukup sabar dan tiga helai pakaiannya dapat diselesaikan pada 3 Juli 2026.
Pelanggan pun merasa dirinya telah dirugikan sehingga mendesak agar uang yang sudah dibayarkan dikembalikan. Namun, tukang jahit itu justru tidak terima dan marah kepadanya.
Sambil duduk di meja jahit, penjahit Sintya Tailor itu justru meluapkan pernyataan mengejutkan. Ia diduga merendahkan suku Jawa karena menilai sang pelanggan sebagai pendatang mencari uang di Bali.
Penjahit itu juga memperingatkan agar sang pelanggan jangan macam-macam. Bu Sintya langsung menyebut asal-usul Hilda merupakan "orang Jawa" sehingga harus bersikap baik kepada orang Bali.
Video percekcokan itu viral hingga membuat Bu Sintya klarifikasi atas kalimatnya. Ia meminta maaf hingga mengaku bahwa dirinya tersulut emosi sesaat dan bersifat spontan.
Penyebab penjahit itu emosi tak lepas bahwa sang pelanggan datang di waktu makan. Ia tidak diizinkan menyantap makanan terlebih dahulu sebelum menggarap tiga pakaian yang sudah dititipkan kepadanya.
Saat proses sidang mediasi, anggota DPD RI, Arya Wedakarna mengungkap identitas pelanggan Bu Sintya. Perempuan tersebut bernama Hilda dan berasal dari Lombok.
Dalam keterangannya seusai mediasi, Hilda menyatakan dirinya telah memaafkan Bu Sintya. Kondisi ini membuat keduanya sepakat berdamai.
(hap)