- Di Bawah Langit Timur
Menyentuh Hati, Film Pendek Musikal "Di Bawah Langit Timur" Hadirkan Kisah Cinta Tanah Air dari Pedalaman Papua di HUT ke-81 RI
“Indonesia tidak hanya dibangun melalui cerita dari pusat-pusat kota, tetapi juga melalui kehidupan masyarakat di pedalaman dan berbagai penjuru Nusantara,” katanya.
Dengan menggabungkan cerita, visual Papua, dan musik, film tersebut mencoba menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak hanya berbicara tentang perjuangan seorang anak menuju upacara bendera, tetapi juga tentang bagaimana kecintaan terhadap Tanah Air tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
“Fajar Indonesia”, Musik dari Kearifan Nusantara
Kekuatan lain “Di Bawah Langit Timur” hadir melalui original soundtrack (OST) “Fajar Indonesia” yang digarap Penata Lagu Sastro Adi.
Sastro menjelaskan musik tersebut berangkat dari Mantra Mukaddimah Fajar Indonesia.
“Matahari su terbit, Nafasku su disucikan, Cinta par tanah airku, Sa rela jalan sampai tujuan,” tuturnya.
Mantra tersebut menjadi fondasi musikal sekaligus gagasan utama soundtrack. Cinta kepada Tanah Air dianalogikan seperti matahari yang tidak membutuhkan alasan untuk menyinari Ibu Pertiwi.
Selama nafas masih dikandung badan, manusia semestinya terus berkhidmat bagi negeri.
Karena itu, “Fajar Indonesia” tidak ditempatkan sekadar sebagai lagu pengiring. Musik tersebut membawa refleksi tentang nasionalisme, pengabdian, persaudaraan, dan kesinambungan perjuangan Indonesia dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Puncak pesannya adalah kesadaran untuk bersedia menjalani peran sebagai anak bangsa, apa pun tantangan yang dihadapi,” terangnya.
Sastro merangkai lirik “Fajar Indonesia” dari beragam falsafah dan ungkapan budaya Nusantara.
Nilai Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge dari Bugis-Makassar dipertemukan dengan Sipamandar dan Siamasei dari Mandar.
Kemudian hadir falsafah Dayak Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata, serta nilai Banjar Baiman, Baadab, Bauntung, Batuah.
Dari Jawa terdapat falsafah Memayu Hayuning Bawana, sementara Sunda menghadirkan Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh.
Nilai Minangkabau diwakili ungkapan Dima bumi dipijak, di siko langik dijunjuang, sedangkan Batak menghadirkan Dalihan Na Tol.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pesan persatuan dalam “Fajar Indonesia” dibangun dari kekayaan nilai yang hidup di berbagai penjuru Nusantara.
Dengan demikian, musik menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kearifan lokal dalam satu pesan kebangsaan.